Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
TINDAK PIDANA MENYALAHGUNAKAN PENGANGKUTAN MINYAK YANG DISUBSIDI PEMERINTAH (SUATU PENELITIAN DI WILAYAH HUKUM PENGADILAN NEGERI LHOKSEUMAWE)
Pengarang
ADITYA AZRIAN PRATAMA - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Mahfud - 198004152005011003 - Dosen Pembimbing I
Riza Chatias Pratama - - - Penguji
Rosmawati - 198010202005012002 - Penguji
Nomor Pokok Mahasiswa
1903101010320
Fakultas & Prodi
Fakultas Hukum / Ilmu Hukum (S1) / PDDIKTI : 74201
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Hukum (S1)., 2023
Bahasa
No Classification
-
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Pasal 55 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi menjelaskan bahwa Setiap orang yang menyalahgunakan Pengangkutan dan/atau Niaga Bahan Bakar Minyak, bahan bakar gas, dan/atau liquefied petroleum gas yang disubsidi Pemerintah dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling tinggi Rp60.000.000.000,00 (enam puluh miliar rupiah). Namun walaupun sudah ada larangan dan sanksi pidana tetap saja ada pihak-pihak yang melakukan menyalahgunakan pengangkutan minyak bersubsidi pemerintah.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan penyebab terjadinya tindak pidana, pertimbangan hakim dalam menjatuhkan vonis hukuman kepada terdakwa dan upaya dalam penyelesaian tindak pidana menyalahgunakan pengangkutan minyak yang disubsidi pemerintah di Pengadilan Negeri Lhokseumawe.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian yuridis empiris. untuk mendapatkan data penelitian diperoleh melalui wawancara langsung di lapangan dan melalui studi kepustakaan seperti perundang-undangan, buku-buku dan penelitian terdahulu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Faktor utama penyebab terjadinya tindak pidana pengangkutan minyak bersubsidi pemerintah terjadi akibat adanya dorongan untuk mendapatkan keuntungan sedangkan faktor lainnya adalah tingginya permintaan dari masyarakat terhadap akan bahan bakar minyak bersubsidi. Pertimbangan Hakim di dalam menjatuhkan vonis hukuman kepada para terdakwa tindak pidana pengangkutan bahan bakar minyak subsidi pemerintah dipengaruhi oleh alat bukti, barang bukti, keadaan pemberat dan memperingan yang mana identik dengan cara dan dampak yang muncul akibat dari tindak pidana yang dimaksud. Tindakan dari penegak hukum terhadap tindak pidana pengangkutan bahan bakar minyak bersubsidi pemerintah terbagi atas dua tindakan dasar dalam penanggulangannya yaitu preventif dan represif.
Disarankan kepada para penegak hukum baik Kepolisian, Kejaksaan dan Hakim lebih memberikan prioritas yang lebih di dalam menangani tindak pidana pengangkutan bahan bakar minyak subsidi pemerintah. Mengingat dampak yang ditimbulkan dari tindak pidana tersebut dapat berdampak langsung kepada perekonomian masyarakat khususnya masyarakat kalangan menengah ke bawah.
Article 55 of Law Number 22 of 2001 concerning Oil and Natural Gas explains that every person who misuses the Transportation and/or Trading of Oil Fuel, gas fuel, and/or liquefied petroleum gas which is subsidized by the Government shall be punished with a maximum imprisonment of 6 ( six) years and a maximum fine of IDR 60,000,000,000.00 (sixty billion rupiah). However, even though there are prohibitions and criminal sanctions, there are still parties who misuse government-subsidized oil transportation. The purpose of this research is to explain the causes of criminal acts, the judge's considerations in handing down a sentence to the defendant and efforts to resolve the crime of abusing government-subsidized oil transportation at the Lhokseumawe District Court. The research method used is an empirical juridical research method. To obtain research data, it is obtained through direct interviews in the field and through literature studies such as legislation, books and previous research. The results of the research show that the main factor causing the crime of transporting government-subsidized oil occurs due to the drive to make a profit, while another factor is the high demand from the public for subsidized fuel oil. The judge's consideration in handing down a sentence to the defendants for the crime of transporting government-subsidized fuel oil is influenced by the evidence, evidence, aggravating and mitigating circumstances which are identical to the method and impact that arose as a result of the crime in question. The actions of law enforcers regarding criminal acts of transporting government-subsidized fuel oil are divided into two basic actions in dealing with them, namely preventive and repressive. It is recommended that law enforcers, including the police, prosecutors and judges, give more priority in handling criminal acts of transporting government-subsidized fuel oil. Bearing in mind that the impact of this criminal act can have a direct impact on the economy of the community, especially the lower middle class.
TINDAK PIDANA PENYALAHGUNAAN PENGANGKUTAN DAN NIAGA BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) BERSUBSIDI (SUATU PENELITIAN DI WILAYAH HUKUM PENGADILAN NEGERI TAKENGON) (Ulfatu Hasanah, 2022)
TINJAUAN KRIMINOLOGIS TERHADAP TINDAK PIDANA PENYALAHGUNAAN PENGANGKUTAN BAHAN BAKAR MINYAK SECARA BERSAMA-SAMA (SUATU PENELITIAN DI WILAYAH HUKUM PENGADILAN NEGERI KUALA SIMPANG) (Witri Anita, 2024)
TINDAK PIDANA MENIRU ATAU MEMALSUKAN BAHAN BAKAR MINYAK UNTUK DIPASARKAN (SUATU PENELITIAN DI WILAYAH HUKUM PENGADILAN NEGERI SIGLI DAN PENGADILAN NEGERI LHOKSEUMAWE) (RIZKI AMRIZAL, 2023)
TINDAK PIDANA MELAKUKAN PENGANGKUTAN MINYAK MENTAH TANPA IZIN USAHA PENGANGKUTAN (SUATU PENELITIAN DI WILAYAH HUKUM PENGADILAN NEGERI IDI) (RITA MAULINDA, 2021)
TINJAUAN KRIMINOLOGIS TINDAK PIDANA PENYALAHGUNAAN NIAGA BAHAN BAKAR MINYAK SOLAR BERSUBSIDI (SUATU PENELITIAN DI WILAYAH PENGADILAN NEGERI BANDA ACEH) (LATHIFAH KAMAL, 2017)