STUDI ETNOMATEMATIKA DENGAN COMPUTATIONAL THINKING SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA. | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    DISSERTATION

STUDI ETNOMATEMATIKA DENGAN COMPUTATIONAL THINKING SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA.


Pengarang

Nur Azmi - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Salmawaty - 196110091991022001 - Dosen Pembimbing I
Hizir - 196805311993031003 - Dosen Pembimbing II
Rini Oktavia - 197010121995122002 - Dosen Pembimbing III



Nomor Pokok Mahasiswa

2109300070012

Fakultas & Prodi

Fakultas Pasca Sarjana / Doktor Matematika dan Aplikasi Sains (S3) / PDDIKTI : 44001

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Pasca Sarjana., 2025

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi integrasi desain geometris Rumoh Aceh melalui Computational Thinking (CT) dalam pembelajaran matematika untuk siswa jenjang SMP. Latar belakang penelitian ini didasari oleh pentingnya mengembangkan model pembelajaran yang tidak hanya meningkatkan keterampilan matematika siswa, tetapi juga memperkuat identitas budaya melalui pendekatan berbasis etnomatematika. Dengan menggunakan pendekatan penelitian etnografi, penelitian ini menganalisis struktur Rumoh Aceh sebagai sumber pembelajaran geometris. Temuan penelitian menunjukkan bahwa karakteristik geometris Rumoh Aceh dapat diintegrasikan secara efektif dengan empat aspek utama CT, yaitu dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma. Dekomposisi dilakukan dengan memecah struktur Rumoh Aceh menjadi bentuk-bentuk geometris sederhana seperti persegi panjang, segitiga, dan trapesium. Proses ini memudahkan siswa untuk memahami elemen geometris dalam konteks nyata dan budaya lokal. Pengenalan pola ditemukan dalam pengulangan bentuk dan motif geometris yang konsisten, seperti pengulangan bentuk persegi panjang pada atap dan kombinasi figur planar pada dinding, yang memperkuat kemampuan siswa dalam mengenali keteraturan dan pola dalam matematika. Abstraksi dalam konteks ini melibatkan pengabaian detail dekoratif yang tidak relevan untuk fokus pada prinsip-prinsip geometris utama, seperti menghitung luas binteh cato atau menganalisis bentuk tulak angen. Pendekatan ini membantu siswa menggeneralisasi konsep matematika dari bentuk-bentuk budaya. Sedangkan algoritma digunakan untuk mengembangkan langkah-langkah sistematis dalam menyelesaikan masalah geometris terkait desain Rumoh Aceh, misalnya dalam menghitung luas dinding, atap, dan bagian-bagian bangunan lainnya berdasarkan prinsip-prinsip matematika. Penelitian ini mengungkapkan bahwa integrasi etnomatematika dengan CT tidak hanya meningkatkan keterampilan komputasi siswa, tetapi juga memperkaya pemahaman mereka terhadap warisan budaya lokal. Dengan mengaitkan konsep matematika dengan struktur budaya, siswa didorong untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan sistematis dalam konteks yang bermakna. Sebagai implikasi, penelitian ini memberikan panduan bagi pendidik dalam mengembangkan model pembelajaran matematika yang responsif budaya, yang menggabungkan unsur lokal ke dalam praktik pendidikan kontemporer. Penelitian ini juga membuka peluang untuk pengembangan materi ajar berbasis budaya lainnya, serta integrasi teknologi digital dalam pembelajaran kontekstual. Secara keseluruhan, penelitian ini berkontribusi terhadap penguatan pendidikan matematika yang relevan secara budaya, meningkatkan kefasihan computational thinking, dan memperkuat identitas budaya peserta didik.

This study aims to explore the integration of the geometric design of Rumoh Aceh through Computational Thinking (CT) in mathematics education for junior high school students. The background of this research is rooted in the importance of developing a learning model that not only enhances students' mathematical skills but also strengthens their cultural identity through an ethnomathematical approach. Using an ethnographic research method, the study analyzes the structure of Rumoh Aceh as a source of geometric learning. The findings reveal that the geometric characteristics of Rumoh Aceh can be effectively integrated with the four main aspects of CT: decomposition, pattern recognition, abstraction, and algorithmic thinking. Decomposition is carried out by breaking down the structure of Rumoh Aceh into simple geometric forms such as rectangles, triangles, and trapezoids. This process facilitates students' understanding of geometric elements within real-world and local cultural contexts. Pattern recognition is observed in the consistent repetition of shapes and geometric motifs, such as the recurrence of rectangular forms on the roofs and the combination of planar figures on the walls, thereby reinforcing students' ability to recognize patterns and regularities in mathematics. Abstraction in this context involves disregarding irrelevant decorative details to focus on the essential geometric principles, such as calculating the area of binteh cato or analyzing the form of tulak angen. This approach helps students generalize mathematical concepts from cultural forms. Meanwhile, algorithmic thinking is employed to develop systematic steps in solving geometric problems related to the design of Rumoh Aceh, for instance, calculating the area of the walls, roofs, and other building parts based on established mathematical principles. This research reveals that the integration of ethnomathematics with CT not only enhances students' computational skills but also enriches their understanding of local cultural heritage. By linking mathematical concepts to cultural structures, students are encouraged to develop critical, creative, and systematic thinking skills in a meaningful context. As an implication, this study provides guidance for educators in developing culturally responsive mathematics learning models that incorporate local elements into contemporary educational practices. It also opens opportunities for the development of other culturally based teaching materials, as well as for the integration of digital technology in contextual learning. Overall, this study contributes to strengthening culturally relevant mathematics education, improving computational thinking fluency, and fostering students' cultural identity.

Citation



    SERVICES DESK