Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
IDENTITY AND GROUP MEMBERSHIP FACTORS INFLUENCING THE RELUCTANCE TO USE ACEHNESE AMONG YOUNG PEOPLE IN ACEH BESAR (A CASE STUDY IN LAMGAPANG, KRUENG BARONA JAYA DISTRICT)
Pengarang
SASKIA KHAIRILLA ANNISA - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Tgk. Maya Silviyanti - 198005152006042001 - Dosen Pembimbing I
Chairina - 198011252008122002 - Dosen Pembimbing II
Kismullah - 198104232008121001 - Penguji
Dian Fajrina - 198012062005012002 - Penguji
Nomor Pokok Mahasiswa
2106102020096
Fakultas & Prodi
Fakultas KIP / Pendidikan Bahasa Inggris (S1) / PDDIKTI : 88203
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas KIP Pendidikan Bahasa Inggris., 2025
Bahasa
Indonesia
No Classification
401.93
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Penelitian studi kasus kualitatif ini meneliti faktor-faktor yang berkontribusi terhadap pergeseran bahasa di kalangan remaja Aceh di Lamgapang, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar. Dengan menggunakan wawancara semi-terstruktur terhadap dua belas partisipan berusia 14–17 tahun, penelitian ini menelaah bagaimana persepsi identitas, tekanan teman sebaya, dan norma kelompok memengaruhi preferensi bahasa. Data dianalisis menggunakan analisis tematik yang dipandu oleh kerangka analitis yang diadaptasi dari Karpava (2022) serta Cekaite dan Björk-Willén (2013), dengan pendekatan yang diinformasikan oleh teori grounded. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun para partisipan mengakui bahasa Aceh sebagai bagian integral dari warisan budaya mereka, sebagian besar lebih memprioritaskan identitas nasional dan global dibandingkan identitas etnik lokal, dengan menganggap bahasa Indonesia sebagai bahasa yang lebih modern dan bergengsi. Delapan dari dua belas partisipan menunjukkan keengganan untuk menggunakan bahasa Aceh di luar lingkungan rumah, yang didorong oleh tiga faktor utama: rasa takut terhadap penilaian negatif (dianggap kampungan atau tidak modern), keinginan untuk diterima secara sosial dalam kelompok sebaya, serta asosiasi bahasa Indonesia dengan modernitas dan komunikasi yang lebih luas. Baik tekanan teman sebaya secara eksplisit melalui ejekan maupun tekanan implisit melalui norma kelompok yang tidak tertulis terbukti berpengaruh signifikan terhadap pilihan bahasa. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun bahasa Aceh masih dihargai secara simbolis, penggunaannya secara fungsional terus menurun seiring dengan upaya remaja menyeimbangkan antara kebanggaan etnik dan penerimaan sosial. Studi ini menekankan pentingnya interaksi antara negosiasi identitas, dinamika kelompok sebaya, dan konformitas sosial dalam mempercepat pergeseran bahasa, serta menyoroti perlunya strategi revitalisasi yang responsif terhadap konteks budaya.
This qualitative case study investigates the factors contributing to language shift among Acehnese youth in Lamgapang, Krueng Barona Jaya District, Aceh Besar. Employing semi-structured interviews with twelve participants aged 14-17, the research examines how identity perceptions, peer pressure, and group norms shape language preferences. Data were analyzed using thematic analysis guided by an analytical framework adapted from Karpava (2022) and Cekaite & Björk-Willén (2013), while adopting a grounded theory-informed analytical process. The study reveals that while participants recognize Acehnese as an integral part of their cultural heritage, most prioritize national and global identities over local ethnic identity, perceiving Indonesian as more modern and prestigious. Eight of twelve participants expressed reluctance to use Acehnese outside domestic settings, driven by three key factors: fear of negative judgment (being perceived as kampungan or unsophisticated), desire for social acceptance within peer groups, and association of the Indonesian language with modernity and broader communication. Both explicit peer pressure through mockery and implicit pressure through unwritten group norms significantly influence language choices. Findings indicate that while Acehnese remains valued symbolically, its functional use is declining as youth navigate between ethnic pride and peer acceptance. The study underscores the critical interplay between identity negotiation, peer dynamics, and social conformity in accelerating language shift, highlighting the need for culturally responsive revitalization strategies.
THE RELUCTANCE OF THE ACEHNESE YOUTH IN USING ACEHNESE IN THEIR GROUP (A CASE STUDY OF SOCIOLINGUISTICS) (Teuku Muhammad Ridha AL, 2020)
ATTITUDES OF YOUNG STUDENTS TOWARDS THE USE OF ACEHNESE IN BANDA ACEH (QUALITATIVE STUDY AT SMAN 3 BANDA ACEH AND SMAN 1 KR.BARONA JAYA ACEH BESAR) (Khairun Nisak, 2018)
THE RELUCTANCE OF USING ACEHNESE LANGUAGE AMONG TEENAGERS (A QUALITATIVE RESEARCH AT SMPN 15 LAMJAMEE, BANDA ACEH) (safrina sulaiman, 2016)
AN ANALYSIS OF ACEHNESE IDIOMS IN SAMPOI NIET BASED ON GRAMMATICAL CONSTRUCTIONS (Herlina Miranda, 2021)
AN INVESTIGATION OF DIALECT SHIFTING OF WEST ACEHNESE SPEAKERS (Nur Aini, 2018)