KEANEKARAGAMAN SERANGGA PADA LAHAN KOPI YANG DIINTEGRASIKAN DAN TANPA INTEGRASI DENGAN TANAMAN KAKAO | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

KEANEKARAGAMAN SERANGGA PADA LAHAN KOPI YANG DIINTEGRASIKAN DAN TANPA INTEGRASI DENGAN TANAMAN KAKAO


Pengarang

Saelvia Arvaini - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Nur Pramayudi - 198010132006041001 - Dosen Pembimbing I
Jauharlina - 196309231988032010 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

2105109010012

Fakultas & Prodi

Fakultas Pertanian / Proteksi Tanaman (S1) / PDDIKTI : 54295

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Pertanian., 2025

Bahasa

Indonesia

No Classification

639.975 7

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Tanaman kopi merupakan salah satu komoditas unggulan perkebunan yang memiliki nilai ekonomi tinggi, khususnya di Aceh yang terkenal dengan kopi Gayo. Dalam budidayanya, tanaman kopi dapat dikombinasikan dengan tanaman lain seperti kakao untuk menciptakan sistem tanam terintegrasi. Sistem ini diyakini mampu menciptakan lingkungan yang lebih kompleks dan berpotensi memengaruhi keanekaragaman hayati, termasuk komunitas serangga. Serangga memiliki peran penting dalam ekosistem pertanian, baik sebagai hama, predator, penyerbuk, maupun pengurai. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan keanekaragaman serangga antara lahan kopi yang diintegrasikan dengan tanaman kakao dan lahan kopi tanpa integrasi.
Penelitian dilakukan di Desa Gele, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, pada dua tipe lahan: terintegrasi (kopi dan kakao) dan tanpa integrasi (kopi saja). Pengambilan sampel serangga dilakukan menggunakan metode pitfall trap, yellow trap, dan hand collecting selama dua kali pengamatan (Januari dan Februari) dengan interval waktu satu bulan. Parameter yang diamati meliputi jumlah morfospesies, kelimpahan, indeks diversitas (keanekaragaman) kemerataan, dominansi, similaritas, dan kekayaan spesies. Data dianalisis secara kuantitatif dan diuji menggunakan uji-T.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan kopi yang diintegrasikan dengan tanaman kakao memiliki 44 morfospesies serangga, lebih banyak dibandingkan dengan lahan kopi tanpa integrasi yang hanya memiliki 25 morfospesies. Serangga yang ditemukan memiliki berbagai peran ekologi, diantaranya sebagai penyerbuk (Xylocopa micans, Epuraea aestiva), predator (Euponera sp., Chilocorus nigritus), pengurai (Hermetia illucens, Musca autumnalis), dan juga hama seperti Stelidota geminata dan Bactrocera sp. Populasi Bactrocera sp. lebih tinggi pada lahan kopi terintegrasi (372 individu) dibandingkan lahan kopi tanpa integrasi (116 individu). Nilai similaritas antara kedua lahan tergolong sangat rendah (0,11), menunjukkan bahwa masing-masing sistem pertanaman membentuk komunitas serangga yang berbeda secara komposisi dan fungsi. Simpulan dari penelitian ini adalah sistem integrasi lahan kopi dengan tanaman kakao tidak hanya meningkatkan jumlah spesies serangga, tetapi juga menambah berbagai peran penting serangga dalam menjaga keseimbangan ekosistem pertanian. Penelitian ini mendukung pentingnya penerapan sistem integrasi untuk menciptakan agroekosistem yang lebih stabil, sehat, dan berkelanjutan.

Coffee is one of the leading plantation commodities with high economic value, particularly in Aceh, which is well known for its Gayo coffee. In its cultivation, coffee plants can be combined with other crops such as cocoa to create an integrated farming system. This system is believed to foster a more complex environment that potentially influences biodiversity, including insect communities. Insects play an essential role in agricultural ecosystems as pests, predators, pollinators, and decomposers. This study aimed to compare insect diversity between coffee plantations integrated with cocoa and non-integrated coffee plantations. The research was conducted in Gele Village, Blangkejeren Subdistrict, Gayo Lues Regency, on two types of land: integrated (coffee and cocoa) and non-integrated (coffee only). Insect samples were collected using pitfall traps, yellow traps, and hand collecting during two observation periods (January and February) with a one-month interval. The observed parameters included the number of morphospecies, abundance, diversity index, evenness, dominance, similarity, and species richness. Data were analyzed quantitatively and tested using the t-test. The results showed that the integrated coffee–cocoa plantation contained 44 insect morphospecies, more than the non-integrated coffee plantation, which had only 25 morphospecies. The identified insects exhibited various ecological roles, including pollinators (Xylocopa micans, Epuraea aestiva), predators (Euponera sp., Chilocorus nigritus), decomposers (Hermetia illucens, Musca autumnalis), and pests such as Stelidota geminata and Bactrocera sp. The population of Bactrocera sp. was higher in the integrated system (372 individuals) than in the non-integrated system (116 individuals). The similarity index between the two land types was very low (0.11), indicating that each cultivation system supports a distinct insect community in terms of composition and function. In conclusion, integrating coffee with cocoa plantations not only increases the number of insect species but also enhances the variety of ecological roles they play in maintaining agricultural ecosystem balance. This study supports the importance of implementing integrated farming systems to create more stable, healthy, and sustainable agroecosystems.

Citation



    SERVICES DESK