Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
DISSERTATION
PENGEMBANGAN MODUL AJAR KARAKTER PEMAAF PADA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA
Pengarang
Kartika Sari - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Rusli Yusuf - 195702101985031004 - Dosen Pembimbing I
Ishak - 196412311986091001 - Dosen Pembimbing II
Marty Mawarpury - 198203132008012008 - Dosen Pembimbing III
Asnawi - 197411052001121003 - Penguji
Wildan - 196301221987031001 - Penguji
Nomor Pokok Mahasiswa
2009300050002
Fakultas & Prodi
Fakultas Pasca Sarjana / Pendidikan IPS (S3) / PDDIKTI : 87001
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Pasca Sarjana., 2025
Bahasa
Indonesia
No Classification
371.33
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Sekolah adalah lembaga pendidikan formal yang bertujuan untuk membantu siswa mengembangkan potensi diri secara kognitif (pengetahuan), afektif (emosi dan sikap), serta psikomotor (keterampilan). Ketiga tujuan tersebut dicapai melalui kurikulum yang dirumuskan secara sistematis. Penerapan kurikulum di Indonesia sejak tahun 1947-2025 salah satunya berfokus pada pendidikan karakter. Karakter yang umumnya diajarkan adalah religius, nasionalis, mandiri, gotong royong dan integritas. Sementara itu belum ditemukan karakter pemaaf yang secara eksplisit diajarkan di sekolah. Data di lapangan diperoleh masalah perundungan dan intoleransi merupakan masalah terbanyak terjadi di lembaga pendidikan formal sehingga diperlukan modul ajar yang secara eksplisit mengajarkan maaf. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan modul ajar dan menguji tingkat kelayakan modul ajar karakter pemaaf pada Sekolah Menengah Pertama (SMP). Jenis penelitian yang digunakan adalah Research & Development (R&D) model Borg dan Gall dengan melibatkan tiga SMP di Banda Aceh yang sudah menerapkan kurikulum merdeka diambil dengan teknik purposive sampling. Responden penelitian adalah siswa/i kelas VII, VIII, dan IX, guru, ahli materi kajian islam, serta ahli materi pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti. Instrumen penelitian menggunakan daftar perilaku untuk mengamati perilaku siswa didalam kelas, diskusi kelompok terarah (DKT) dilakukan terhadap guru, dan angket untuk menilai validitas dan tingkat kelayakan modul ajar. Berdasarkan hasil pengamatan perilaku maaf yang muncul pada siswa adalah mengucapkan maafkan saya, bersalaman, membantu teman yang telah berbuat salah untuk menyelesaikan tugas. Selain itu beberapa simbol maaf yang muncul adalah mentautkan jari kelingking siswa A ke siswa B dengan kedua ujung jempol yang juga bertautan, menyatukan kedua telapak tangan, dan gesture high five. Selain itu hasil DKT menemukan perlu untuk mengajarkan maaf dengan cara menyisipkan materi maaf dalam mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti. Pengembangan modul ajar karakter pemaaf dilakukan dengan cara menyisipkan materi tabayun dalam bab VIII kelas VII dengan materi menghindari ghibah dan melaksanakan tabayun, serta menyisipkan materi berkomunikasi dengan empati dalam bab VIII kelas VIII dengan materi menjadi generasi toleran membangun harmoni intern dan antar umat beragama. Berdasarkan hasil uji validitas ahli materi ditemukan materi tabayun dan berkomunikasi dengan empati memiliki nilai content validity index (CVI) sebesar 1. Sementara itu, uji kelayakan modul ajar yang dilakukan oleh guru mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti menemukan modul ajar tabayun memiliki tingkat kelayakan sebesar 98%, sementara itu modul ajar berkomunikasi dengan empati memiliki tingkat kelayakan sebesar 94,8%. Dengan demikian kedua modul ajar memiliki validitas isi yang baik dengan tingkat kelayakan sangat baik, sehingga dapat digunakan oleh guru untuk mengajarkan karakter maaf pada siswa.
Kata kunci: karakter
Schools serve as formal educational institutions that support students in developing their cognitive (knowledge), affective (emotions and attitudes), and psychomotor (skills) potentials. These developmental goals are achieved through a systematic curriculum. From 1947 to 2025, Indonesia’s curriculum implementation has emphasized character education, typically focusing on traits such as religiosity, nationalism, independence, cooperation, and integrity. However, the value of forgiveness has rarely been explicitly taught in schools or in the family. Field data reveal that bullying and intolerance are among the most prevalent issues within formal education settings, indicating the need for instructional modules that explicitly promote forgiveness in educational settings. This study aimed to develop a teaching module and test feasibility level of teaching modules focused on fostering forgiveness among junior high school students. Employing the Borg and Gall Research & Development (R&D) model, the study involved three junior high schools in Banda Aceh implementing the “Merdeka Curriculum” selected via purposive sampling method. The participants included students from grades VII, VIII, and IX, teachers, Islamic studies experts, and specialists in Islamic Religious Education (PAI) and character education. The data collection tools consisted of behavior checklists to observe students’ forgiving behaviors in the classroom, guided group discussions with teachers, and questionnaires assessing the module’s content validity and feasibility. Observations identified forgiving behaviors among students, such as verbal apologies, handshakes, and assisting peers who made mistakes in completing their tasks. Forgiveness was also expressed through symbolic gestures, including linking pinky fingers with interlocked thumbs, joining palms together, and high-fives. Discussions with teachers emphasized the importance of explicitly integrating forgiveness into PAI and character education curricula. The module development incorporated “tabayun” (verification) content into grade VII, chapter VIII, focusing on avoiding gossip “(ghibah)” and practicing “tabayun” as well as empathetic communication material into Grade VIII, Chapter VIII, addressing the cultivation of tolerance and interreligious harmony. Content validity assessments by subject matter experts yielded a perfect content validity index (CVI) of 1 for both topics. Feasibility evaluations by PAI and character education teachers showed that the “tabayun” module had a 98% feasibility rating, and the empathetic communication module had a 94.8% rating. These results indicate that the modules possess strong content validity and high feasibility, making them suitable tools for teachers to nurture forgiveness among students. Keywords: forgiving character, teaching module development, character education, junior high school.
PENDIDIKAN DAMAI DALAM MATERI AJAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DI KABUPATEN PDIE (Halik, 2024)
PENGEMBANGAN MODUL MATERI GERAK PARABOLA BERBASIS ELEKTRONIK (Ajeng Aprillia, 2022)
PENGEMBANGAN MODUL AJAR BERBASIS PENDEKATAN STEM PADA MATA PELAJARAN IPA KURIKULUM MERDEKA DI SMP (Muntazul Fikri, 2024)
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR E-MODUL BERBASIS ANDROID BERBANTUAN KODULAR PADA MATERI GREEN CHEMISTRY (MURNI LAILA SAPUTRI, 2025)
PENGEMBANGAN MODUL AJAR PROBLEM BASED LEARNING BERBASIS BLENDED LEARNING DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA (Asra Maulisa, 2023)