PENGARUH SUHU DAN ANALISIS BIAYA TERHADAP PENGERINGAN IRISAN JERUK NIPIS (CITRUS AURANTIFOLIA SWINGLE) MENGGUNAKAN FOOD DEHYDRATOR | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

PENGARUH SUHU DAN ANALISIS BIAYA TERHADAP PENGERINGAN IRISAN JERUK NIPIS (CITRUS AURANTIFOLIA SWINGLE) MENGGUNAKAN FOOD DEHYDRATOR


Pengarang

Yulia Tasya - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Raida Agustina - 198108312006042001 - Dosen Pembimbing I
Agus Arip Munawar - 198008092003121003 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

1905106010038

Fakultas & Prodi

Fakultas Pertanian / Teknik Pertanian (S1) / PDDIKTI : 41201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala., 2025

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Jeruk nipis kering digunakan sebagai bahan alternatif dalam pembuatan infused water yang lebih aman karena memiliki masa simpan lebih panjang dan risiko pertumbuhan mikroorganisme yang lebih rendah dibandingkan jeruk nipis segar. Selain itu, pengeringan juga membantu menjaga kualitas dan nilai gizi jeruk nipis sehingga tetap bermanfaat saat
dikonsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh variasi suhu pengeringan terhadap kualitas irisan jeruk nipis serta menganalisis aspek biaya dari proses pengeringan tersebut. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan utama suhu pengeringan (40°C, 50°C, 60°C, 70°C, dan 80°C). Parameter mutu yang diamati meliputi kadar air, laju pengeringan, dan kadar vitamin C. Analisis biaya meliputi biaya tetap, biaya variabel, biaya total, biaya pokok pengeringan, dan rasio B/C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu pengeringan tidak berpengaruh signifikan terhadap kadar air akhir, tetapi berpengaruh terhadap kadar vitamin C. Suhu 80°C menghasilkan laju pengeringan tertinggi dan waktu tercepat (420 menit), namun menyebabkan penurunan vitamin C lebih besar. Sebaliknya, suhu 40°C mempertahankan kadar vitamin C lebih tinggi, namun membutuhkan waktu lebih lama (25 jam). Analisis biaya menunjukkan nilai rasio B/C > 1, yang menandakan bahwa proses pengeringan ini menguntungkan dan berpotensi
dikembangkan dalam skala agroindustri kecil dan menengah.

Dried lime is used as a safer alternative ingredient in the preparation of infused water due to its longer shelf life and lower risk of microbial growth compared to fresh lime. Additionally, the drying process helps preserve the quality and nutritional value of the lime, making it beneficial for consumption. This study aimed to evaluate the effect of drying temperature variations on the quality of lime slices and to analyze the cost aspects of the drying process. A Completely Randomized Design was applied with the main treatment being drying temperatures (40°C, 50°C, 60°C, 70°C, and 80°C). Quality parameters observed included moisture content, drying rate, and vitamin C content. Cost analysis included fixed costs, variable costs, total costs, unit cost of drying, and B/C ratio. The results showed that drying temperature did not significantly affect the final moisture content but did influence the vitamin C content. A temperature of 80°C yielded the highest drying rate and the fastest drying time (420 minutes), but also caused greater loss of vitamin C. In contrast, drying at 40°C retained a higher vitamin C content, although it required a longer drying time (25 hours). Cost analysis revealed a B/C ratio greater than 1, indicating that the drying process is profitable and has potential for development in small to medium-scale agroindustry.

Citation



    SERVICES DESK