Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
ANALISIS POLA KEMITRAAN DAN KEPUTUSAN PETANI DALAM MEMASARKAN TANDA BUAH SEGAR (TBS) KELAPA SAWIT DI KABUPATEN NAGAN RAYA
Pengarang
BUNGA AZZAFIRA FALDI - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Akhmad Baihaqi - 197406142008121001 - Dosen Pembimbing I
Litna Nurjannah Ginting - 199201242020122006 - Dosen Pembimbing I
Nomor Pokok Mahasiswa
2005102010043
Fakultas & Prodi
Fakultas Pertanian / Agribisnis (S1) / PDDIKTI : 54201
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Pertanian., 2024
Bahasa
No Classification
-
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Kabupaten Nagan Raya berdasarkan daerah penghasil kelapa sawit terbesar di Provinsi Aceh, yang mencatat luas areal terluas dengan 53.151 hektar, mengalami peningkatan sebesar 923 hektar dibandingkan tahun sebelumnya. Kemitraan antara petani dan pabrik kelapa sawit memainkan penting dalam memastikan stabilitas harga dan kelangsungan produksi, meskipun tantangan terkait dengan biaya operasional dan fluktuasi harga pasar tetap ada. Pengembangan sektor kelapa sawit di Nagan Raya tidak menfaat bagi petani dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah secara keseluruhan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai pola kemitraan yang terbentuk antara petani kelapa sawit di Kabupaten Nagan Raya. Penelitian ini dilakukan pada wilayah yang memiliki produktivitas komoditas Kelapa Sawit terbesar di Kabupaten Nagan Raya, yaitu Kecamatan Darul Makmur dan Tadu Raya. Metode penelitian yang dilakukan ialah analisis kualitatif dan regresi logistik multinomial. Berdasarkan hasil dan pembahasan, Petani kelapa sawit di kabupaten Nagan Raya melakukan pola kemitraan dalam bentuk keagenan. Bentuk pola kemitraan dilakukan oleh petani di Kabupaten Nagan Raya, pola keagenan menjadi pilihan yang sangat populer di kalangan petani kelapa sawit. Hal ini disebabkan oleh kemudahan dan fleksibilitas yang ditawarkan oleh para agen dalam membantu petani memasarkan tandan buah segar (TBS). Salah satu keunggulan utama dari pola ini adalah agen yang bersedia menjemput hasil panen langsung ke kebun petani. Dengan demikian, petani tidak perlu lagi mengeluarkan biaya tambahan untuk transportasi, yang sering kali menjadi beban dalam proses pemasaran. Aksesibilitas ini membuat petani merasa lebih nyaman dan terbantu, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan alat transportasi atau lahan yang berada di daerah terpencil. Aspek kemitraan antara petani dan perusahaan menunjukkan beberapa kekurangan signifikan. Pemahaman petani tentang hak dan kewajiban dalam kemitraan masih rendah, dengan banyak petani yang tidak menerima sosialisasi yang memadai. Mayoritas petani juga tidak menerima bantuan modal operasional dan jaminan pembelian TBS yang dijanjikan. Selain itu, dukungan dalam bentuk input produksi dan bimbingan teknis dari pihak kemitraan juga sangat minim, dengan sebagian besar petani tidak menerima bantuan sarana produksi maupun bimbingan teknis yang diperlukan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil kebun. Pada Regresi Logistik Multinomial, Setiap variabel dalam model memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan petani dalam memasrakan TBS ke pedagang pengumpul, dengan beberapa variabel meningkatkan probabilitas (Harga Jual TBS Rp. 1.500 - 2.500 (X11), Jarak kebun ke parbik ≤15 Km (X31), Total Produksi TBS per Panen ≤10.000 kg (X41), dan Tidak Puas dengan Kemitraan (X71)) dan satu variabel menurunkan probabilitas (Tidak Memiliki Kontrak Petani Dengan Kemitraan (X61)).
Nagan Raya Regency, recognized as the largest palm oil-producing region in Aceh Province, has recorded the most extensive plantation area of 53,151 hectares, an increase of 923 hectares compared to the previous year. The partnership between farmers and palm oil mills plays a crucial role in ensuring price stability and production continuity, although challenges related to operational costs and market price fluctuations remain. The development of the palm oil sector in Nagan Raya benefits not only the farmers but also contributes to the overall economic growth of the region. This research aims to provide an understanding of the partnership patterns formed between palm oil farmers in Nagan Raya Regency. The study was conducted in areas with the highest productivity of palm oil commodities in Nagan Raya Regency, specifically in Darul Makmur and Tadu Raya Subdistricts. The research methods used were qualitative analysis and multinomial logistic regression. Based on the results and discussion, palm oil farmers in Nagan Raya Regency engage in a partnership pattern in the form of agency arrangements. The agency model is a very popular choice among palm oil farmers due to the ease and flexibility it offers in helping farmers market their fresh fruit bunches (FFB). One of the main advantages of this model is that agents are willing to collect the harvest directly from the farmers' fields, thereby eliminating the need for farmers to incur additional transportation costs, which are often a burden in the marketing process. This accessibility makes farmers feel more comfortable and supported, especially those who have limited means of transportation or whose fields are in remote areas. However, the partnership between farmers and companies shows several significant drawbacks. Farmers' understanding of their rights and obligations within the partnership is still low, with many farmers not receiving adequate socialization. Most farmers also do not receive the promised operational capital assistance and guarantees for the purchase of FFB. Furthermore, support in the form of production inputs and technical guidance from the partnership is very minimal, with most farmers not receiving the necessary production facilities or technical guidance to improve the productivity and quality of their crops. In the Multinomial Logistic Regression, each variable in the model significantly influences farmers' decisions to market FFB to traders, with some variables increasing the probability (FFB Selling Price of IDR 1,500 - 2,500 (X11), Distance from farm to mill ≤15 Km (X31), Total FFB Production per Harvest ≤10,000 kg (X41), and Dissatisfaction with Partnership (X71)) and one variable decreasing the probability (Lack of Farmer Contract with Partnership (X61)).
ANALISIS PERILAKU PENGELOLAAN KEUANGAN PETANI KELAPA SAWIT DI KABUPATEN NAGAN RAYA (Azzahiri Fadlianur, 2024)
PENGARUH FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI TERHADAP PENDAPATAN PETANI KELAPA SAWIT DI KECAMATAN KUALA KABUPATEN NAGAN RAYA (Hendra Zulhelmi, 2020)
ANALISIS RANTAI PASOK (SUPPLY CHAIN) KELAPA SAWIT DI KABUPATEN NAGAN RAYA (Auliatul munawarah, 2024)
KARAKTERISTIK DAN KENDALA PETANI DALAM USAHATANI KELAPA SAWIT RAKYAT DI KECAMATAN TADU RAYA KABUPATEN NAGAN RAYA (NUR KHOTIMAH, 2015)
STUDI KOMPARATIF EFESIENSI PEMASARAN GABAH MELALUI KOPERASI DAN NON KOPERASI KECAMATAN INGIN JAYA KABUPATEN ACEH BESAR (KASTRI HANDAYANI, 2015)