Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
TRADISI TURUN KARAI (TURUN TANAH) DAN NILAI-NILAI YANG TERKANDUNG DI DALAMNYA (SUATU PENELITIAN DI KELURAHAN PANCURAN DEWA KOTA SIBOLGA)
Pengarang
PUTRI AMANDA SARI TINAMBUNAN - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Nomor Pokok Mahasiswa
2206101010009
Fakultas & Prodi
Fakultas KIP / Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (S1) / PDDIKTI : 87205
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas KIP., 2026
Bahasa
Indonesia
No Classification
392.12
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Putri Amanda Sari Tinambunan. (2026). Tradisi Turun Karai (Turun Tanah) dan Nilai-Nilai yang Terkandung di Dalamnya (Suatu Penelitian di Kelurahan Pancuran Dewa Kota Sibolga). [Skripsi. Universitas Syiah Kuala]. Dibawah bimbingan Dr. Saiful, S.Pd., M.Si dan Ridayani, SH., MH.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh menurunnya pemahaman generasi muda terhadap makna dan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi turun karai, meskipun tradisi tersebut masih tetap dilestarikan oleh masyarakat Kelurahan Pancuran Dewa Kota Sibolga. Kondisi ini dikhawatirkan dapat memengaruhi keberlangsungan tradisi sebagai salah satu warisan budaya masyarakat pesisir apabila tidak diikuti dengan upaya pewarisan nilai kepada generasi berikutnya. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pelaksanaan tradisi turun karai serta, (2) nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dengan 1 Tokoh Budaya, 1 Kepala Kelurahan, 1 Tokoh Agama, 1 Tokoh Masyarakat, dan 2 Masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pelaksanaan tradisi turun karai dilakukan melalui tahap persiapan, prosesi di masjid, doa bersama, pemotongan rambut, pemberian nama, pembagian makanan tradisional khas pesisir Sibolga (itak-itak), marhaban dan makan bersama sebagai ungkapan rasa syukur atas kelahiran seorang anak, (2) Tradisi ini mengandung nilai religius, nilai sosial, nilai gotong royong, nilai kekeluargaan, nilai persatuan, dan pelestarian budaya yang berperan dalam memperkuat solidaritas sosial serta menjaga identitas budaya masyarakat. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tradisi turun karai masih dilestarikan oleh masyarakat Kelurahan Pancuran Dewa dan menjadi media pewarisan nilai-nilai budaya, agama, dan sosial. Oleh karena itu, pelestarian tradisi serta pengenalan makna dan nilai-nilainya kepada generasi muda perlu terus dilakukan agar tradisi ini tetap terjaga keberlangsungannya sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat pesisir. Saran penelitian ini: (1) untuk Pemerintah Kota Sibolga dan instansi terkait, diharapkan dapat memberikan memberikan perhatian yang lebih besar terhadap pelestarian tradisi turun karai melalui program pembinaan budaya, dokumentasi, sosialisasi, maupun kegiatan kebudayaan, (2) untuk peneliti selanjutnya, diharapkan dapat memperdalam lagi penelitian tentang makna dan simbol tradisi turun karai dari perspektif yang berbeda.
Kata Kunci: Tradisi Turun Karai, Nilai Budaya, Masyarakat Pesisir, Pelestarian Budaya
Putri Amanda Sari Tinambunan (2026). The Tradition of Turun Karai (Turun Tanah) and The Values Contained Therein (A Research in Pancuran Dewa Village Sibolga City). [Thesis. Syiah Kuala University]. Supervised by Dr. Saiful, S.Pd., M.Si and Ridayani, S.H., M.H. This study was motivated by the younger generation's declining understanding of the meaning and values inherent in the turun karai tradition, even though the community of Pancuran Dewa Urban Village, Sibolga City, continues to preserve it. There is concern that this situation could jeopardize the tradition's continuity as a piece of coastal cultural heritage if it is not accompanied by efforts to pass these values on to the next generation. The study aims to: (1) examine the execution of the turun karai tradition, and (2) identify the values contained within it. A qualitative method with a descriptive approach was employed. Data were collected through interviews with a cultural figure, the village head, a religious leader, a community leader, and two community members. The results indicate that: (1) the turun karai tradition is carried out through stages including preparation, a procession at the mosque, communal prayer, hair cutting, naming, the distribution of itak-itak (a traditional Sibolga coastal snack), marhaban (recitation of praises to the Prophet), and a communal meal as an expression of gratitude for a child's birth, (2) the tradition embodies religious, social, mutual cooperation (gotong royong), familial, and unity values, as well as cultural preservation, all of which play a role in strengthening social solidarity and maintaining the community's cultural identity. Thus, it can be concluded that the turun karai tradition is still preserved by the Pancuran Dewa community and serves as a medium for transmitting cultural, religious, and social values. Therefore, preserving the tradition and introducing its meanings and values to the younger generation must continue to ensure its survival as part of the coastal community's cultural identity. Recommendations from this study are: (1) the Sibolga City Government and relevant agencies should pay greater attention to preserving the turun karai tradition through cultural development programs, documentation, public awareness campaigns, and cultural events, and (2) future researchers should delve deeper into the meanings and symbols of the turun karai tradition from different perspectives. Keywords: Turun Karai Tradition, Cultural Values, Coastal Community, Preservation
PROSPEK PENGEMBANGAN USAHA TANI SALAK DIKECAMA TANSUKAJAYABALOHAN KOTAMAD YA SABANG (Khairil, 2020)
NILAI-NILAI BUDAYA KESENIAN MEUSILEK PADA PROSESI TURUN TANAH KECAMATAN KOTA BAHAGIA ACEH SELATAN (Anisah, 2025)
PERANCANGAN TAMAN REKREASI PULAU PONCAN GADANG DI KOTA SIBOLGA (PUTRI Marito Siahaan, 2018)
NILAI-NILAI YANG TERKANDUNG DALAM TRADISI PACU KUDE TRADISIONAL GAYO DI KABUPATEN BENER MERIAH (ULAN DARI, 2021)
EKSISTENSI TRADISI KHATAM AL-QUR’AN PADA PENGANTIN WANITA DALAM MASYARAKAT GAMPONG SEUTUI KOTA BANDA ACEH (Maharani Choosy Sweeny, 2026)