ANALISIS ESTETIKA GERAK TARI MUNALO DI SANGGAR KUTA DANCE ACEH TENGAH | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

ANALISIS ESTETIKA GERAK TARI MUNALO DI SANGGAR KUTA DANCE ACEH TENGAH


Pengarang

Gustiana - Personal Name;

Dosen Pembimbing


Nomor Pokok Mahasiswa

2206102030023

Fakultas & Prodi

Fakultas KIP / Pendidikan Seni Drama, Tari dan Musik (S1) / PDDIKTI : 88209

Subject
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas KIP., 2026

Bahasa

Indonesia

No Classification

793.31

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

ABSTRAK
Gustiana. (2026). Analisis Estetika Gerak Tari Munalo di Sanggar Kuta Dance Aceh Tengah. [Skripsi.Universitas Syiah Kuala]. Dibawah bimbingan Dr. Lindawati, S.Pd., M.A dan Yeni Zuryaningsih, M.Pd.

Tari Munalo adalah suatu tarian prosesi menyambut dan menjemput pada upacara perkawinan masyarakat Gayo. Kegunaan tarian ini untuk memuliakan tamu yang datang dengan segala hormat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis estetika gerak Tari Munalo di Sanggar Kuta Dance Aceh Tengah, Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif dengan tujuan untuk mengetahui secara mendalam tentang Tari Munalo di Sanggar Kuta Dance Kabupaten Aceh Tengah. Subjek pada penelitian ini adalah ketua sanggar Kuta Dance Kabupaten Aceh Tengah, sedangkan objek peneliti ini adalah Tari Munalo. Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan berupa reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada aspek wujud, Tari Munalo memiliki enam ragam gerak, yaitu Salam Semah, Lagodok-Godok, Munatap, Cincang Nangka, Ketibung, dan Dak Papan yang dianalisis berdasarkan unsur ruang, waktu, dan tenaga. Keindahan gerak tampak pada perpaduan level rendah dan sedang, pola lantai horizontal, vertikal, diagonal, melingkar, dan huruf V, tempo yang bervariasi dari lambat hingga cepat, serta penggunaan tenaga yang bergantian antara lembut dan kuat sehingga menciptakan dinamika gerak yang harmonis. Pada aspek bobot, Tari Munalo menghadirkan suasana yang berkembang dari ketegasan pada babak pembuka, kegembiraan pada babak inti, hingga kebersamaan pada babak penutup. Gagasan tari berangkat dari tradisi masyarakat Gayo dalam memuliakan tamu melalui perpaduan unsur Tari Guel dan Didong Nalo. Pesan yang disampaikan adalah penghormatan, keramahan, perlindungan, kesetaraan, kebersamaan, dan persaudaraan sebagai nilai budaya masyarakat Gayo. Pada aspek penampilan, estetika Tari Munalo didukung oleh kemampuan penari yang memiliki bakat dan keterampilan dalam menampilkan gerak secara kompak, penguasaan ekspresi, serta didukung penggunaan kostum Kerawang Gayo, Opoh Ulen-Ulen, tata rias cantik, dan iringan musik tradisional berupa gegedem, canang, dan bantal didong. Dengan demikian, estetika Tari Munalo tidak hanya terletak pada keindahan bentuk geraknya, tetapi juga pada makna budaya yang mencerminkan identitas dan kearifan lokal masyarakat Gayo.
Kata Kunci : Munalo, Estetika Gerak.

ABSTRACT Gustiana. (2026). An Aesthetic Analysis of the Munalo Dance at the Kuta Dance Studio in Central Aceh. [Thesis. Syiah Kuala University]. Under the supervision of Dr. Lindawati, S.Pd., M.A., and Yeni Zuryaningsih, M.Pd. The Munalo Dance is a ceremonial dance performed to welcome and escort guests at wedding ceremonies among the Gayo people. The purpose of this dance is to honor arriving guests with the utmost respect. This study aims to describe and analyze the aesthetics of the Munalo Dance movements at the Kuta Dance Studio in Central Aceh. This study employs a qualitative, descriptive approach to gain an in-depth understanding of the Munalo Dance at the Kuta Dance Studio in Central Aceh Regency. The subject of this study is the director of the Kuta Dance Studio in Central Aceh Regency, while the object of this research is the Munalo Dance. Data collection techniques included observation, interviews, and documentation. The analysis techniques used were data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study indicate that, in terms of form, the Munalo Dance comprises six movement patterns: Salam Semah, Lagodok-godok, Munatap, Cincang Nangka, Ketibung, and Dak Papan, which were analyzed based on the elements of space, time, and energy. The beauty of the movements is evident in the combination of low and medium levels, horizontal, vertical, diagonal, circular, and V-shaped floor patterns, tempos that vary from slow to fast, and the alternating use of soft and strong energy, creating a harmonious dynamic of movement. In terms of emotional weight, the Munalo Dance evokes a mood that evolves from the firmness of the opening section, through the joy of the central section, to the sense of togetherness in the closing section. The concept of the dance stems from the Gayo people’s tradition of honoring guests through a fusion of elements from the Guel and Didong Nalo dances. The messages conveyed are respect, hospitality, protection, equality, togetherness, and brotherhood values central to Gayo culture. In terms of performance, the aesthetics of the Munalo Dance are enhanced by the dancers’ talent and skill in executing synchronized movements and mastering expressive gestures, complemented by the use of Gayo Kerawang attire, Opoh Ulen-Ulen, beautiful makeup, and traditional musical accompaniment featuring the gegedem, canang, and bantal didong. Thus, the aesthetics of the Munalo Dance lie not only in the beauty of its movements but also in the cultural significance that reflects the identity and local wisdom of the Gayo people. Keywords: Munalo, Aesthetics of Movement.

Citation



    SERVICES DESK