IDENTIFIKASI BIBIT SAPI ACEH UMUR 18-24 BULAN SECARARNKUALITATIF DAN KUANTITATIF DI KECAMATAN ARONGANRNLAMBALEK BERDASARKAN SNI 7651-3:2022 | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

IDENTIFIKASI BIBIT SAPI ACEH UMUR 18-24 BULAN SECARARNKUALITATIF DAN KUANTITATIF DI KECAMATAN ARONGANRNLAMBALEK BERDASARKAN SNI 7651-3:2022


Pengarang

MUHAMMAD RAYYAN - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Mohd. Agus Nashri Abdullah - 197108161997021001 - Dosen Pembimbing I
Hendra Koesmara - 198703052019031008 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

2205104010026

Fakultas & Prodi

Fakultas Pertanian / Peternakan (S1) / PDDIKTI : 54231

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Pertanian., 2026

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Sektor peternakan merupakan salah satu subsektor pertanian yang memiliki peran
strategis dalam penyediaan pangan asal hewan, peningkatan pendapatan masyarakat,
pelestarian sumber daya genetik ternak lokal, serta mendukung ketahanan pangan nasional
peternak. Sapi aceh merupakan salah satu sumber daya ternak lokal yang memiliki potensi
yang cukup besar, potensi tersebut belum cukup digali dan dimanfaatkan secara optimal
terutama untuk menghasilkan daging yang berkualitas dan memenuhi jangkauan pasar.
pemerintah melalui Badan Standardisasi Nasional menetapkan SNI 7651-3:2022 tentang
Bibit Sapi Potong Bagian 3: Aceh sebagai pedoman dalam penilaian mutu bibit sapi aceh.
Sejumlah penelitian mengenai sapi aceh selama ini lebih banyak membahas aspek performa
produksi, karakteristik morfometrik, reproduksi, maupun keragaman genetik. Namun,
penelitian yang secara khusus mengidentifikasi karakteristik bibit sapi aceh umur 18–24
bulan berdasarkan parameter kualitatif dan kuantitatif sesuai dengan standar terbaru SNI
7651-3:2022, terutama di Kecamatan Arongan Lambalek, masih relatif sedikit. Hasil
penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah mengenai tingkat kesesuaian
karakteristik bibit sapi aceh dengan standar nasional, menjadi bahan evaluasi dalam
pelaksanaan program pembibitan sapi aceh, serta mendukung upaya pelestarian dan
peningkatan mutu genetik sapi aceh sebagai salah satu rumpun ternak lokal Indonesia.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi secara langsung sifat kualitatif dan
kuantitatif bibit sapi aceh umur 18-24 bulan di Kecamatan Arongan Lambalek. Penelitian
dilaksanakan pada bulan Maret sampai April 2026 di Kecamatan Arongan Lambalek,
Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh. Penelitian menggunakan metode survei dengan
teknik purposive sampling, data yang dikumpulkan teridiri dari data primer. Data primer
diperoleh secara langsung dari lapangan. Sampel penelitian terdiri atas 47 ekor sapi aceh
umur 18-24 bulan yang terdiri dari 6 ekor jantan dan 41 ekor betina yang berasal dari lima
desa, yaitu Desa Suak Bidok, Pante Meutia, Alue Bagok, Suak Ie Beuso, dan Seuneubok
Teungoh. Parameter yang diamati meliputi sifat kualitatif berupa warna tubuh, bentuk
telinga, dan bentuk tanduk, serta sifat kuantitatif berupa tinggi pundak, lingkar dada, dan
panjang badan. Data dianalisis menggunakan Microsoft Excel dengan menghitung nilai ratarata dan standar deviasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik kuantitatif sapi aceh umur 18-24
bulan di Kecamatan Arongan Lambalek masih berada di bawah standar SNI 7651-3:2022.
Seluruh sapi jantan dan betina yang diamati belum memenuhi standar tinggi pundak dan
panjang badan, sedangkan pada parameter lingkar dada hanya sebagian kecil ternak yang
memenuhi standar, yaitu sebesar 16,6% pada jantan dan 7,3% pada betina sesuai dengan
SNI 7651-3:2022 pada kelas III. Karakteristik kualitatif sapi aceh yang diamati masih
menunjukkan ciri khas sapi aceh sesuai dengan SNI 7651-3:2022, yang ditandai dengan
dominasi warna merah bata, bentuk telinga tegak ke samping, serta bentuk tanduk yang
melengkung ke atas pada jantan dan relatif pendek pada betina.

The livestock sector is a subsector of agriculture that plays a strategic role in providing animal-derived food, increasing community income, preserving local livestock genetic resources, and supporting national food security for livestock farmers. Aceh cattle are a local livestock resource with significant potential. This potential has not been optimally explored and utilized, especially to produce quality meat and meet market demand. The government, through the National Standardization Agency, has established SNI 7651-3:2022 concerning Beef Cattle Breeding Part 3: Aceh as a guideline for assessing the quality of Aceh cattle breeding stock. Numerous studies on Aceh cattle have focused primarily on aspects of production performance, morphometric characteristics, reproduction, and genetic diversity. However, research specifically identifying the characteristics of Aceh cattle breeding stock aged 18–24 months based on qualitative and quantitative parameters in accordance with the latest SNI 7651-3:2022 standard, particularly in Arongan Lambalek District, is still relatively limited. The results of this study are expected to provide scientific information regarding the level of conformity of Aceh cattle breeding characteristics to national standards, serve as evaluation material for the implementation of the Aceh cattle breeding program, and support efforts to preserve and improve the genetic quality of Aceh cattle, one of Indonesia's local livestock breeds. This study aimed to directly evaluate the qualitative and quantitative characteristics of 18-24-month-old Aceh cattle breeding in Arongan Lambalek District. The study was conducted from March to April 2026 in Arongan Lambalek District, West Aceh Regency, Aceh Province. The study used a survey method with purposive sampling techniques, and the data collected consisted of primary data. The primary data was obtained directly from the field. The research sample consisted of 47 Aceh cattle aged 18-24 months, comprising 6 males and 41 females from five villages: Suak Bidok, Pante Meutia, Alue Bagok, Suak Ie Beuso, and Seuneubok Teungoh. Observed parameters included qualitative characteristics such as body color, ear shape, and horn shape, as well as quantitative characteristics such as shoulder height, chest circumference, and body length. Data were analyzed using Microsoft Excel by calculating the mean and standard deviation. The results showed that the quantitative characteristics of Aceh cattle aged 18-24 months in Arongan Lambalek District were still below the SNI 7651-3:2022 standard. All observed male and female cattle did not meet the standards for shoulder height and body length. Meanwhile, only a small proportion of cattle met the chest circumference parameters, namely 16.6% of males and 7.3% of females, as required by SNI 7651-3:2022 for Class III. The qualitative characteristics of the observed Aceh cattle still demonstrated the typical characteristics of Aceh cattle as required by SNI 7651-3:2022, characterized by a dominant brick-red color, erect ears, and horns that curved upward in males and were relatively short in females.

Citation



    SERVICES DESK