Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
ANALISIS ANGKA KEJADIAN DAN ESTIMASI RISIKO RELATIF KASUS TUBERKULOSIS DI KAWASAN ASIA MENGGUNAKAN MODEL BESAG-YORK-MOLLIÉ (BYM)
Pengarang
RAIZA SABILA PUTRI - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Latifah Rahayu Siregar - 198409282015042002 - Dosen Pembimbing I
Novi Reandy Sasmita - 198906072022031007 - Dosen Pembimbing I
Nomor Pokok Mahasiswa
2208108010007
Fakultas & Prodi
Fakultas MIPA / Statistika (S1) / PDDIKTI : 49201
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : .,
Bahasa
No Classification
-
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat global dengan beban kasus terbesar berada di kawasan Asia. Perbedaan jumlah kasus dan karakteristik populasi antarnegara menyebabkan variasi tingkat kejadian dan risiko TB di kawasan tersebut. Penelitian ini bertujuan membandingkan angka kejadian TB per 100.000 penduduk serta mengidentifikasi tingkat risiko relatif, tren, dan pola spasial risiko relatif TB pada 49 negara di kawasan Asia menggunakan model Besag-York-Mollié (BYM) dari tahun 2021 hingga 2024. Data yang digunakan berupa jumlah kasus TB dan jumlah penduduk yang bersumber dari Global Tuberculosis Report 2025 oleh World Health Organization (WHO). Analisis dilakukan dengan menghitung angka kejadian TB, membentuk matriks pembobot spasial menggunakan metode queen contiguity, mengestimasi risiko relatif menggunakan model BYM melalui Markov Chain Monte Carlo (MCMC), serta menyajikan hasil dalam diagram batang dan peta spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa angka kejadian TB bervariasi antarnegara dan antarsubwilayah, dengan Asia Tenggara memiliki rata-rata angka kejadian tertinggi. Hasil estimasi model BYM menunjukkan Filipina, Timor-Leste, Myanmar, Mongolia, dan Indonesia secara konsisten berada pada kategori risiko relatif sangat tinggi, sedangkan sebagian besar negara di Asia Barat berada pada kategori sangat rendah. Analisis tren menunjukkan rata-rata risiko relatif TB cenderung meningkat, meskipun pola risiko relatif antarnegara relatif stabil. Hasil pemetaan menunjukkan adanya pengelompokan spasial yang konsisten, dengan risiko relatif sangat tinggi terkonsentrasi di Asia Tenggara, risiko sedang hingga tinggi di Asia Selatan, serta risiko rendah hingga sangat rendah di Asia Barat, Asia Tengah, dan sebagian besar negara di Asia Timur. Temuan ini dapat menjadi dasar penentuan wilayah prioritas pengendalian TB di kawasan Asia.
Tuberculosis (TB) remains a global public health problem, with the highest burden of cases occurring in the Asian region. Differences in case numbers and population characteristics across countries result in variations in TB incidence and risk levels within the region. This study aims to compare TB incidence rates per 100,000 population and to identify relative risk levels, trends, and spatial patterns of relative TB risk across 49 countries in the Asian region using the Besag-York-Mollié (BYM) model from 2021 to 2024. The data used consisted of the number of TB cases and the population size, sourced from the World Health Organization’s (WHO) Global Tuberculosis Report 2025. The analysis was conducted by calculating TB incidence rates, constructing a spatial weighting matrix using the queen contiguity method, estimating relative risk using the BYM model via Markov Chain Monte Carlo (MCMC), and presenting the results in bar charts and spatial maps. The results of the study show that TB incidence rates vary across countries and subregions, with Southeast Asia having the highest average incidence rate. The results of the BYM model estimates show that the Philippines, Timor-Leste, Myanmar, Mongolia, and Indonesia consistently fall into the very high relative risk category, while most countries in West Asia fall into the very low category. Trend analysis indicates that the average relative risk of TB is trending upward, although the pattern of relative risk across countries remains relatively stable. Mapping results show consistent spatial clustering, with very high relative risk concentrated in Southeast Asia, moderate to high risk in South Asia, and low to very low risk in West Asia, Central Asia, and most countries in East Asia. These findings can serve as a basis for determining priority areas for TB control in the Asian region.
ESTIMASI RISIKO RELATIF KASUS TUBERKULOSIS BERDASARKAN KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI ACEH MENGGUNAKAN METODE CONDITIONAL AUTOREGRESSIVE (MAUZATUL ARIFIN, 2023)
ESTIMASI RISIKO RELATIF KEMATIAN MENGGUNAKAN STANDARDIZED MORTALITY RATIO (SMR) DAN EXCESS MORTALITY (EM) SERTA DISTRIBUSI KEMATIAN PADA KASUS KOINFEKSI TUBERKULOSIS-HIV DI ASIA TAHUN 2019-2024 (SEFTYA PRATISTA, 2026)
ESTIMASI ANGKA KEJADIAN TUBERKULOSIS DI INDONESIA MENGGUNAKAN MODEL EPIDEMIOLOGI SE3I3R DENGAN PARAMETER BERDISTRIBUSI NORMAL (Munawwarah, 2025)
ESTIMASI RISIKO RELATIF KASUS TUBERKULOSIS DI PROVINSI ACEH MENGGUNAKAN MODEL BESAG-YORK-MOLLIE (BYM) DAN LOCALISED: SEBUAH STUDI KOMPARATIF (SAFANA ZAHIRA, 2025)
ESTIMASI RISIKO RELATIF KASUS TUBERKULOSIS DI PROVINSI ACEH MENGGUNAKAN MODEL BESAG-YORK MOLLIE (BYM) DAN MODEL LEROUX: SEBUAH STUDI KOMPARATIF (HUSNUS SUBULA, 2025)