Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
ANALISIS PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DI PULAU BREUH, KECAMATAN PULO ACEH, KABUPATEN ACEH BESAR
Pengarang
MIZAN JROHNA - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Muhammad Rusdi - 197704012006041001 - Dosen Pembimbing I
Durrah Hayati - 199106122022032010 - Dosen Pembimbing II
Ichwana - 197301031998022001 - Penguji
Gina Erida - 196306261989032002 - Penguji
Nomor Pokok Mahasiswa
2205110010005
Fakultas & Prodi
Fakultas Pertanian / Kehutanan (S1) / PDDIKTI : 54251
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Pertanian Kehutanan., 2026
Bahasa
No Classification
-
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Perubahan tutupan lahan merupakan salah satu isu lingkungan yang penting karena dapat memengaruhi keseimbangan ekosistem, keanekaragaman hayati, serta keberlanjutan fungsi lingkungan. Kawasan pulau-pulau kecil, termasuk Pulau Breuh di Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar, memiliki kerentanan yang tinggi terhadap perubahan tutupan lahan akibat proses alami maupun aktivitas manusia. Oleh karena itu, informasi mengenai dinamika perubahan tutupan lahan diperlukan sebagai dasar dalam pengelolaan sumber daya alam dan perencanaan pembangunan yang berkelanjutan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan tutupan lahan di Pulau Breuh, Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar selama periode 2014–2024. Pulau Breuh merupakan salah satu pulau kecil yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir serta mendukung aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat setempat. Analisis perubahan tutupan lahan dilakukan menggunakan data citra satelit Landsat 8 tahun 2014 dan Landsat 9 tahun 2024 yang diolah dengan metode klasifikasi terbimbing (supervised classification) menggunakan algoritma Maximum Likelihood Classification (MLC) pada perangkat lunak ArcGIS 10.8. Hasil klasifikasi kemudian diverifikasi melalui kegiatan ground check dan uji akurasi untuk memastikan kesesuaian antara hasil interpretasi citra dengan kondisi lapangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat delapan kelas tutupan lahan yang berhasil diidentifikasi di Pulau Breuh, yaitu hutan sekunder, semak belukar, pertanian lahan kering, sawah, permukiman, lahan terbuka, pelabuhan, dan tubuh air. Pada tahun 2014, tutupan lahan didominasi oleh semak belukar seluas 3.959,80 ha (64,75%) dan hutan sekunder seluas 1.256,24 ha (20,54%). Pada tahun 2024, semak belukar masih menjadi tutupan lahan terluas dengan luas 3.664,70 ha (59,93%), sedangkan hutan sekunder meningkat menjadi 1.682,28 ha (27,51%). Selain itu, terjadi penurunan luas pada kelas pertanian lahan kering, sawah, lahan terbuka, dan tubuh air, sementara kelas permukiman dan pelabuhan mengalami peningkatan luas meskipun dalam jumlah yang relatif kecil. Perubahan tersebut menunjukkan adanya dinamika penggunaan lahan yang dipengaruhi
oleh proses alami maupun aktivitas manusia.
Berdasarkan analisis matriks perubahan tutupan lahan, peningkatan luas hutan sekunder sebesar 426,04 ha terutama berasal dari perubahan semak belukar menjadi hutan sekunder seluas 1.153,06 ha. Kondisi ini mengindikasikan terjadinya proses suksesi alami dan regenerasi vegetasi yang cukup baik pada sebagian wilayah Pulau Breuh. Berkurangnya luas lahan terbuka dan pertanian lahan kering juga menunjukkan adanya kecenderungan pemulihan tutupan vegetasi pada lahan yang sebelumnya terbuka atau kurang dimanfaatkan. Di sisi lain, peningkatan luas permukiman dan pelabuhan mencerminkan adanya perkembangan aktivitas masyarakat dan infrastruktur di wilayah pesisir. Secara keseluruhan, perubahan tutupan lahan yang terjadi selama periode 2014–2024 menunjukkan di Pulau Breuh adanya indikasi proses regenerasi ekosistem yang berlangsung di sebagian wilayah Pulau Breuh, ditandai dengan meningkatnya luas hutan sekunder sebagai salah satu indikator pemulihan kondisi lingkungan di wilayah tersebut.
Land cover change is a critical environmental issue because it can impact ecosystem balance, biodiversity, and the sustainability of environmental functions. Small island areas, including Breuh Island in Pulo Aceh District, Aceh Besar Regency, are highly vulnerable to land cover change due to both natural processes and human activities. Therefore, information on the dynamics of land cover change is necessary as a basis for natural resource management and sustainable development planning. This study aims to analyze land cover change on Breuh Island, Pulo Aceh District, Aceh Besar Regency, during the 2014–2024 period. Breuh Island is a small island that plays a vital role in maintaining the balance of the coastal ecosystem and supporting the social and economic activities of the local community. Land cover change analysis was conducted using Landsat 8 satellite imagery from 2014 and Landsat 9 from 2024, processed using a supervised classification method using the Maximum Likelihood Classification (MLC) algorithm in ArcGIS 10.8 software. The classification results were then verified through ground checks and accuracy tests to ensure the image interpretation matched field conditions. The research results indicate that eight land cover classes were identified on Breuh Island: secondary forest, scrubland, dryland agriculture, rice fields, settlements, open land, ports, and water bodies. In 2014, land cover was dominated by scrubland, covering 3,959.80 ha (64.75%), and secondary forest, covering 1,256.24 ha (20.54%). In 2024, scrubland remained the largest land cover, covering 3,664.70 ha (59.93%), while secondary forest increased to 1,682.28 ha (27.51%). Furthermore, there was a decrease in the area of dryland agriculture, rice fields, open land, and water bodies, while the area of settlements and ports increased, albeit by a relatively small amount. These changes indicate land use dynamics influenced by both natural processes and human activities. Based on the land cover change matrix analysis, the increase in secondary forest area of 426.04 ha primarily stemmed from the conversion of scrubland into secondary forest covering an area of 1,153.06 ha. This condition indicates a fairly good natural succession process and vegetation regeneration in parts of Breuh Island. The reduction in open land and dryland agriculture also indicates a tendency for vegetation cover recovery in previously open or underutilized land. On the other hand, the increase in settlements and ports reflects the development of community activities and infrastructure in coastal areas. Overall, the land cover changes that occurred during the 2014–2024 period indicate that Breuh Island is experiencing an ecosystem regeneration process in parts of Breuh Island, marked by an increase in secondary forest area as an indicator of environmental recovery in the area.
ANALISIS KERENTANAN PESISIR DI PULAU BREUH BERDASARKAN GEOMORFOLOGI PANTAI (Ima Ulina Sirait, 2022)
ANALISIS PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DAN KESELARASAN PEMANFAATAN LAHAN BERDASARKAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) DI KAWASAN PERI-URBAN KOTA BANDA ACEH (NADYA FAIZAH, 2019)
IDENTIFIKASI IKAN KARANG INDIKATOR DAN TUTUPAN KARANG DI PERAIRAN PULO NASI KABUPATEN ACEH BESAR (fatriana, 2025)
PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DALAM KAWASAN HUTAN LINDUNG PULAU WEH SETELAH PENETAPAN KAWASAN HUTAN TAHUN 2014 (WINDYA KHASANAH DEWI, 2024)
PEMANFAATAN PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK MENGANALISIS PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DI KECAMATAN PEUKAN BADA KABUPATEN ACEH BESAR (Supriadi, 2023)