Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
EFEKTIVITAS CENDAWAN (BEAUVERIA BASSIANA BALS) SEBAGAI AGENS HAYATI TERHADAP HAMA RAYAP (MACROTERMES GILVUS HAGEN) ASAL TANAMAN KELAPA SAWIT DI LABORATORIUM
Pengarang
DIMAS ARIWIJAYA - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Muhammad Sayuthi - 197211232003121001 - Dosen Pembimbing I
Susanna - 196811301994032001 - Dosen Pembimbing II
Nomor Pokok Mahasiswa
2005109010026
Fakultas & Prodi
Fakultas Pertanian / Proteksi Tanaman (S1) / PDDIKTI : 54295
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : FakultasPertanian Proteksi Tanaman (S1)., 2026
Bahasa
No Classification
-
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Rayap (Macrotermes gilvus Hagen) merupakan salah satu jenis serangga dari ordo Isoptera yang tercatat di Indonesia sekitar 200 jenis dan baru 179 jenis yang sudah teridentifikasi. Umumnya hingga saat ini rayap menjadi hama penting pada tanaman perkebunan seperti kelapa sawit, karet, serta jenis tanaman lain seperti jambu mete, meranti merah, dan pinus. Serangan hama rayap umumnya ditandai dengan munculnya bekas-bekas alur tanah. Rayap akan membentuk lorong-lorong sebagai jalurnya, mulai dari tanah dekat bonggol tanaman hingga ke bekas potongan pelepah. Gejala serangan berat ditandai dengan terbentuknya koloni rayap di dalam batang tanaman dan berkembang hingga ke bagian titik tumbuh tanaman. Salah satu pengendalian yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama rayap adalah dengan memanfaatkan agens hayati dari cendawan entomopatogen seperti Beauveria bassiana. Cendawan ini memiliki beberapa senyawa metabolit sekunder, seperti beauvericin, bassianin, bassiacridin, bassianolide, beauverolides, tenellin, dan oosporein. Gejala awal akibat serangan cendawan B. bassiana yaitu serangga menjadi lemah, kepekaan dan aktivitas makan menjadi berkurang sehingga pada akhirnya serangga akan mati yang disebabkan oleh kerusakan jaringan secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kerapatan konidia B. bassiana yang efektif untuk mengendalikan hama rayap M. gilvus di laboratorium.
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman, Laboratorium Ilmu Hama Tumbuhan dan Laboratorium Ilmu Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala. Penelitian ini dimulai pada bulan Juni – Desember 2025. Penelitian ini disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Non Faktorial yang terdiri dari 6 perlakuan yaitu (kontrol), 102/ml, 104//ml, 106/ml, 108/ml dan 1010/ml aquades, dengan 4 ulangan sehingga diperoleh 24 unit percobaan. Peubah yang diamati meliputi masa inkubasi cendawan B. bassiana, simtomatologi, mortalitas, dan waktu kematian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan agens hayati cendawan B bassiana berpengaruh nyata terhadap masa inkubasi rayap M. gilvus yaitu yang tercepat pada kerapatan 108/ml dan 1010/ml aquades yaitu 1,25 hari, sedangkan yang paling lama pada kerapatan 102/ml yaitu 3,25 hari. Rayap yang terinfeksi cendawan B. bassiana akan menunjukkan gejala pada tubuhnya, dimulai dari pergerakannya mulai melambat dan melemah dan akhirnya mati pada 2 HSA. Rayap yang sudah mati kemudian akan mengalami perubahan warna dan pada hari ke 4 HSA sudah mulai terlihat miselium dari B. bassiana menembus tubuh rayap hingga akhirnya hampir memenuhi seluruh bagian tubuh rayap pada 6 HSA. Selanjutnya cendawan B. bassiana juga berpengaruh nyata terhadap mortalitas rayap M. gilvus yaitu pada kerapatan 1010/ml sebesar 96,00% dan yang terendah pada kerapatan 102/ml sebesar 33,00% pada 5 HSA, sehingga memengaruhi rata-rata waktu kematian dari rayap M. gilvus karena senyawa metabolit sekunder dan enzim yang dikeluarkan oleh cendawan B. bassiana. Rata-rata waktu kematian paling cepat terlihat pada kerapatan 108/ml dan 1010/ml, sedangkan yang paling lambat terlihat pada kerapatan 102/ml. Secara umum dapat dikatakan bahwa penggunaan cendawan B. bassiana efektif untuk mengendalikan hama rayap M. gilvus pada kerapatan 108/ml karena angka mortalitasnya sudah mencapai 80%. Semakin tinggi kerapatan konidia B. bassiana maka semakin efektif untuk mengendalikan hama rayap M. gilvus.
Termites (*Macrotermes gilvus* Hagen) belong to the order Isoptera; approximately 200 species have been recorded in Indonesia, with 179 species identified to date. Currently, they are significant pests affecting plantation crops such as oil palm and rubber, as well as other species like cashew, red meranti, and pine. Termite infestations are typically characterized by the appearance of soil tunnels or tracks. The termites construct these tunnels as pathways, extending from the soil near the plant base up to the cut ends of fronds. Severe infestations are marked by the establishment of termite colonies within the plant stem, which expand toward the plant's growing point. One method for controlling termite pests involves the use of biological agents, specifically entomopathogenic fungi such as *Beauveria bassiana*. This fungus produces several secondary metabolites, including beauvericin, bassianin, bassiacridin, bassianolide, beauverolides, tenellin, and oosporein. Initial symptoms of *B. bassiana* infection include insect lethargy and reduced sensitivity and feeding activity, ultimately leading to death caused by extensive tissue damage. This study aims to determine the *B. bassiana* conidial density effective for controlling *M. gilvus* termites under laboratory conditions. The research was conducted at the Basic Plant Protection, Plant Pest Science, and Plant Pathology laboratories within the Faculty of Agriculture at Syiah Kuala University. The study took place from June to December 2025. It employed a Non-Factorial Completely Randomized Design (CRD) consisting of six treatments—control, and concentrations of 10², 10⁴, 10⁶, 10⁸, and 10¹⁰ conidia/mL of distilleThe study results indicate that the use of the biological control agent *Beauveria bassiana* significantly affects the incubation period of *M. gilvus* termites; the shortest incubation period (1.25 days) was observed at densities of 10⁸/ml and 10¹⁰/ml (in distilled water), while the longest (3.25 days) occurred at a density of 10²/ml. Termites infected with *B. bassiana* exhibited physical symptoms, starting with slowed and weakened movement, eventually leading to death at 2 days post-inoculation (DPI). Following death, the termites underwent discoloration; by 4 DPI, *B. bassiana* mycelium began to penetrate the termite bodies, eventually covering nearly the entire body by 6 DPI. Furthermore, *B. bassiana* significantly influenced *M. gilvus* mortality rates, reaching 96.00% at a density of 10¹⁰/ml and a low of 33.00% at 10²/ml by 5 DPI; this impact on the average time to death was driven by secondary metabolites and enzymes secreted by the fungus. The fastest average time to death was observed at densities of 10⁸/ml and 10¹⁰/ml, whereas the slowest was observed at 10²/ml. In general, the use of *B. bassiana* is effective for controlling *M. gilvus* termites at a density of 10⁸/ml, as the mortality rate reached 80%. Higher densities of *B. bassiana* conidia resulted in greater effectiveness in controlling *M. gilvus* termites.d water—with four replications, resulting in a total of 24 experimental units. The observed variables included the incubation period of the *B. bassiana* fungus, symptomatology, mortality, and time to death.
POTENSI CENDAWAN ENTOMOPATOGEN BEAUVERIA BASSIANA (BALSAMO) VUILLEMIN (ISOLAT LOKAL) DALAM MENGENDALIKAN HAMA ORDO COLEOPTERA (Mentari Rahayu, 2021)
SARANG RAYAP MACROTERMES GILVUS DI PERKEBUNAN KAKAO (THEOBROMA CACAO L.) KECAMATAN NISAM ANTARA, ACEH UTARA (Aqila Nabila Haya, 2024)
PENGARUH KERAPATAN KONIDIA DAN TEKNIK APLIKASIRNCENDAWAN BEAUVERIA BASSIANA TERHADAP MORTALITAS PENGGEREKRNBIJI KOPI HYPOTHENEMUS HAMPEI FERR. (COLEOPTERA: SCOTYüLAE)RNLABORATORIUM (Syukur Hamdi, 2024)
UJI PATOGENITAS JAMUR BEAUVERIA BASSIANA TERHADAP BERBAGAI GENUS RAYAP YANG MENYERANG RUMAH DAN PERABOT RUMAH TANGGA (Miftahul Jannah, 2018)
KEEFEKTIFAN CENDAWAN ENTOMOPATOGEN BEAUVERIA BASSIANA (BALS.) VUILL SEBAGAI BIOINSEKTISIDA TERHADAP HAMA CROCIDOLOMIA PAVONANA (F.) DILABORATORIUM (Naila Evi Azahra, 2021)