PENERAPAN ASAS ITIKAD BAIK DALAM PERJANJIAN BAGI HASIL TAMBAK UDANG VANNAMEI DI GAMPONG KUALA, KECAMATAN INDRA JAYA, ACEH JAYA | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

PENERAPAN ASAS ITIKAD BAIK DALAM PERJANJIAN BAGI HASIL TAMBAK UDANG VANNAMEI DI GAMPONG KUALA, KECAMATAN INDRA JAYA, ACEH JAYA


Pengarang

MUHAMMAD FAIYAD - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Darmawan - 196205251988111001 - Dosen Pembimbing I



Nomor Pokok Mahasiswa

2203101010121

Fakultas & Prodi

Fakultas Hukum / Ilmu Hukum (S1) / PDDIKTI : 74201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Hukum., 2026

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Asas itikad baik merupakan prinsip fundamental di dalam hukum perjanjian yang berfungsi untuk menjamin pelaksanaan perjanjian dengan mengharuskan para pihak bertindak jujur, transparan serta tidak melakukan tindakan yang dapat merugikan mitra perjanjian maupun pihak lain. Berdasarkan Pasal 1338 ayat (3) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, suatu perjanjian haruslah dilaksanakan dengan berdasarkan pada asas itikad baik. Namun pada kenyataannya, tindakan para pihak khususnya pemilik dan penggarap tambak di Gampong Kuala, Kec. Indra Jaya, Aceh Jaya belum sepenuhnya mencerminkan penerapan asas itikad baik di dalam menjalankan perjanjian bagi hasil tambak udang vannamei.

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana penerapan asas itikad baik dalam perjanjian bagi hasil tambak udang vannamei dan apa implikasi hukum yang akan timbul dari tidak diterapkannya asas itikad baik di dalam perjanjian bagi hasil tambak udang vannamei di Gampong Kuala Kecamatan Indra Jaya Kabupaten Aceh Jaya.

Metode yang digunakan adalah penelitian yuridis empiris. Sumber data untuk penulisan skripsi ini diperoleh dengan melakukan penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan dengan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif.

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa penerapan asas itikad baik di dalam pelaksanaan perjanjian bagi hasil tambak udang vannamei di Gampong Kuala, Kecamatan Indra Jaya, Kabupaten Aceh Jaya belum berjalan dengan optimal, yang tampak dari adanya permasalahan berupa pemberian informasi yang tidak benar mengenai kondisi riil kegiatan budidaya, pelaksanaan kewajiban secara tidak wajar, dan penyalahgunaan posisi dominan yang dimiliki. Implikasi hukum yang timbul dari tidak diterapkannya asas itikad baik dalam pelaksanaan perjanjian bagi hasil adalah pengakhiran perjanjian bagi hasil dan pengenaan sanksi berupa ganti rugi atau denda kontraktual.

Disarankan kepada para pihak untuk membuat perjanjian tertulis yang sekurang-kurangnya memuat pembagian kedudukan para pihak, bagian bagi hasil usaha, hak dan kewajiban, larangan, bentuk tanggung jawab, dan langkah penyelesaian sengketa dengan tujuan menjamin hak dan kewajiban para pihak serta menghindari penyimpangan perjanjian. Disarankan juga kepada para pihak untuk menyepakati adanya bentuk tanggung jawab berupa pemberian ganti rugi yang dibebankan kepada pihak yang wanprestasi dan/atau beritikad tidak baik.

The principle of good faith is a fundamental principle in contract law that serves to ensure the proper performance of agreements by requiring the parties to act honestly, transparently, and refrain from conduct that may cause harm to their contractual counterpart or other parties. Pursuant to Article 1338 paragraph (3) of the Indonesian Civil Code, an agreement must be executed in accordance with the principle of good faith. However, in practice, the conduct of the parties, particularly pond owners and cultivators in Gampong Kuala, Indra Jaya Subdistrict, Aceh Jaya Regency, has not fully reflected the application of the principle of good faith in the implementation of vannamei shrimp pond profit-sharing agreements. This study aims to explain how the principle of good faith is applied in vannamei shrimp pond profit-sharing agreements and to examine the legal implications arising from the failure to apply the principle of good faith in such agreements in Gampong Kuala, Indra Jaya Subdistrict, Aceh Jaya Regency. The method employed in this research is empirical juridical research. The data sources for this undergraduate thesis were obtained through library research and field research, using a qualitative approach. The findings indicate that the application of the principle of good faith in the implementation of vannamei shrimp pond profit-sharing agreements in Gampong Kuala, Indra Jaya Subdistrict, Aceh Jaya Regency, has not been optimal. This is evidenced by several issues, including the provision of inaccurate information regarding the actual conditions of cultivation activities, the unreasonable performance of obligations, and the abuse of dominant positions held by one of the parties. The legal implications arising from the failure to apply the principle of good faith in the implementation of profit-sharing agreements include the termination of the agreement and the imposition of sanctions in the form of compensation or contractual penalties. It is recommended that the parties enter into a written agreement containing, at a minimum, provisions regarding the respective legal positions of the parties, the profit-sharing arrangement, rights and obligations, prohibitions, forms of liability, and dispute resolution mechanisms, with the aim of safeguarding the rights and obligations of the parties and preventing contractual deviations. It is also recommended that the parties agree upon forms of liability in the form of compensation to be imposed on the party that commits breach of contract and/or acts in bad faith.

Citation



    SERVICES DESK