KEEFEKTIFAN CENDAWAN BEAUVERIA BASSIANA (BALS.) SEBAGAI BIOINSEKTISIDA TERHADAP HAMA SPODOPTERA EXIGUA PADA TANAMAN BAWANG MERAH (ALLIUM CEPA L.) | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

KEEFEKTIFAN CENDAWAN BEAUVERIA BASSIANA (BALS.) SEBAGAI BIOINSEKTISIDA TERHADAP HAMA SPODOPTERA EXIGUA PADA TANAMAN BAWANG MERAH (ALLIUM CEPA L.)


Pengarang
Dosen Pembimbing

Muhammad Sayuthi - 197211232003121001 - Dosen Pembimbing I
Susanna - 196811301994032001 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

2105109010001

Fakultas & Prodi

Fakultas Pertanian / Proteksi Tanaman (S1) / PDDIKTI : 54295

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : FakultasPertanian Proteksi Tanaman (S1)., 2026

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Bawang merah (Allium cepa L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan banyak dibudidayakan di Indonesia. Salah satu kendala utama dalam budidaya bawang merah adalah serangan Spodoptera exigua, yang dapat menyebabkan kerusakan daun secara signifikan dan menurunkan produksi. Pengendalian hama ditingkat petani umumnya masih bergantung pada penggunaan insektisida kimia, yang berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, kesehatan manusia, serta menyebabkan resistensi hama. Oleh karena itu, diperlukan alternatif pengendalian yang lebih ramah lingkungan, salah satunya melalui pemanfaatan cendawan entomopatogen Beauveria bassiana. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari keefektifan cendawan B. bassiana dalam mengendalikan serangga S. exigua pada tanaman bawang merah.
Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian dengan menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri dari lima perlakuan kerapatan konidia B. bassiana, yaitu 0 (kontrol), 10², 10⁴, 10⁶, dan 10⁸ konidia/ml. Setiap perlakuan diulang empat kali. Tiga larva S. exigua instar III diinokulasikan pada setiap tanaman bawang merah umur 21 hari setelah tanam (HST), dengan peubah yang diamati meliputi gejala infeksi B. bassiana pada larva S. exigua, mortalitas larva S. exigua, rata-rata waktu kematian, kerusakan daun bawang merah dan persentase pupa yang muncul.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa B. bassiana pada berbagai tingkat kerapatan konidia memberikan respons yang berbeda terhadap larva S. exigua. Pada kerapatan 10⁸ konidia/ml, larva menunjukkan gejala infeksi berupa penurunan aktivitas makan, warna tubuh berubah menjadi pucat, pergerakan larva yang lambat, hingga kematian larva yang diikuti pertumbuhan spora pada tubuhnya. Selain itu, mortalitas larva yang mencapai 100% pada hari ke 4 setelah aplikasi, dengan rata-rata waktu kematian tercepat yaitu 2,19 hari. Kematian larva tersebut berdampak langsung pada penurunan aktivitas makan, sehingga tingkat kerusakan daun menjadi paling rendah dibandingkan perlakuan lain, yakni sebesar 21,92%. Pada kerapatan 10⁸ konidia/ml juga tidak ditemukan pembentukan pupa, yang menunjukkan bahwa infeksi B. bassiana mampu menghambat perkembangan larva hingga mencegah keberlanjutan stadia hidup menuju fase pupa dan imago.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa B. bassiana kerapatan 10⁸ konidia/ml merupakan perlakuan paling efektif untuk digunakan sebagai agens pengendali hayati terhadap hama S. exigua pada tanaman bawang merah. Kerapatan konidia 108 yang diaplikasikan pada hama S. exigua memberikan efektivitas pengendalian terbaik, ditunjukkan oleh gejala infeksi B. bassiana, peningkatan mortalitas larva, percepatan waktu kematian, penurunan kerusakan daun, serta kegagalan pembentukan pupa. Dengan demikian, B. bassiana berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai alternatif pengendalian hayati yang lebih ramah lingkungan dalam pengendalian hama S. exigua pada tanaman bawang merah.

Shallots (Allium cepa L.) are one of the horticultural commodities with high economic value and are widely cultivated in Indonesia. One of the main constraints in shallot cultivation is the attack of Spodoptera exigua, which can cause significant leaf damage and reduce production. Pest control at the farmer level generally still relies on the use of chemical insecticides, which have the potential to cause negative impacts on the environment, human health, and lead to pest resistance. Therefore, more environmentally friendly control alternatives are needed, one of which is through the use of the entomopathogenic fungus Beauveria bassiana. This study aims to evaluate the effectiveness of B. bassiana in controlling S. exigua on shallot plants. This research was conducted in the experimental field of the Faculty of Agriculture using a completely randomized design consisting of five treatments of B. bassiana conidial densities, namely 0 (control), 10², 10⁴, 10⁶, and 10⁸ conidia/ml. Each treatment was replicated four times. Three third-instar larvae of S. exigua were inoculated onto each shallot plant at 21 days after planting (DAP). The observed variables included symptoms of B. bassiana infection in S. exigua larvae, larval mortality, average time to death, shallot leaf damage, and the percentage of pupae formed. The results showed that B. bassiana at different conidial densities produced varying responses in S. exigua larvae. At a density of 10⁸ conidia/ml, larvae exhibited infection symptoms such as reduced feeding activity, a change in body color to pale, slower movement, and eventual death followed by fungal growth on the body. In addition, larval mortality reached 100% on the fourth day after application, with the fastest average time to death being 2.19 days. Larval mortality directly reduced feeding activity, resulting in the lowest level of leaf damage compared to other treatments, at 21.92%. At a density of 10⁸ conidia/ml, no pupae formation was observed, indicating that B. bassiana infection was able to inhibit larval development and prevent progression to the pupal and adult stages. The results of this study indicate that B. bassiana at a density of 10⁸ conidia/ml is the most effective treatment to be used as a biological control agent against S. exigua on shallot plants. This conidial density provided the best control effectiveness, as indicated by infection symptoms, increased larval mortality, accelerated time to death, reduced leaf damage, and failure of pupae formation. Therefore, B. bassiana has strong potential to be utilized as a more environmentally friendly biological control alternative for managing S. exigua in shallot cultivation.

Citation



    SERVICES DESK