Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
DISSERTATION
PENGEMBANGAN MODEL KONVERGENSI PROGRAM PENURUNAN STUNTING DI TINGKAT DESA DENGAN PENDEKATAN LEMBAGA ADAT DI KABUPATEN PIDIE
Pengarang
Iskandar - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Syaukani - 197307271997021001 - Dosen Pembimbing I
M. Yani - 196101271988111001 - Dosen Pembimbing II
Dr. Aripin Ahmad, S.Si.T.,M.Kes - - - Dosen Pembimbing III
Nomor Pokok Mahasiswa
2007301010010
Fakultas & Prodi
Fakultas Kedokteran / Doktor Ilmu Kedokteran / PDDIKTI : 11001
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Kedokteran., 2026
Bahasa
Indonesia
No Classification
614.593 9
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Model Konvergensi Program Penurunan Stunting Di Tingkat Desa Dengan Pendekatan Lembaga Adat Di Kabupaten Pidie Indonesia
Prevalensi stunting di Aceh terjadi penurunan dari 33,2% tahun 2021 menjadi 31,2% tahun 2022, namun masih tinggi dari target ditetapkan menjadi 14% pada tahun 2024. Untuk percepatan penurunan stunting dan pencapaian cakupan program pencegahannya secara optimal, konvergensi program dengan pendekatan lembaga adat salah satu model alternatif sebagai upaya percepatan penurunan stunting. Rancangan penelitian Sequential explanatory designs, kombinasi penelitian kuantitatif dan kualitatif secara berurutan, dilakukan di 3 kecamatan yang mempunyai desa sebagai fokus stunting dilaksanakan atas 3 tiga tahapan; pertama analisis pendahuluan Juni-Desember 2022, kedua implementasi model Januari-November 2023, dan ketiga pengukuran dampak tahun 2024.
Analisis pendahuluan faktor diterminan terjadi stunting di Pidie adalah kualitas sumber air minumyang rendah p;0,02, kebersihan peralatan masak yang rendah p;0,002, kebiasaan konsumsi ikan yang kurang p;0,03, kejadian diare p;0,002, riwayat ISPA P;0,001, tidak mengkonsumsi tablet Fe masa hamil p;0,002 panjang bandan lahir kurang dari 48 cm p;0,01, tidak mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap p;0,003 dan tidak mendapatkan ASI eklusif p;0,01. Hasil evaluasi Program layanan penurunan dan pencegahan stunting telah dilaksanakan namun belum menjangkau kepada semua kelompok sasaran. Untuk tim pelaksaaan telah terbentuk namun sarana, prasana tidak memadai dan kinerjanya belum maksimal karena belum ada koordinasi yang baik sehingga tidak menjalankan peran dan fungsinya masing-masing. Selain itu sering terjadinya pergantian, penempatan personil yang tidak sesuai, perencanaan dan penganggaran belum tepat masih menjadi permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah Pidie. Dalam menyusun perencanaan program intervensi dari OPD yang terkait dalam tim, belum sepenuhnya mengacu pada target indikator dalam perpres 72/2021 dan intervensi kegiatan program belum terlaksana secara terintegrasi antar lintar sektor, serta belum ada sinkronisasi rencana kegiatan dalam dokumen perencanaan daerah. Kapasitas tenaga pelaksana yang merupakan kunci keberhasilan implementasi konvergensi program belum mendapatkan peningkatan kapasitas dalam penanganan percepatan penurunan stunting sehingga berdampak terhadap rendahnya capaian cakupan program intervensi pada kelompok sasaran. Untuk nilai indek penanganan stunting juga baru mencapai angka 51,6, jika ditinjau indek dari setiap dimensi, maka dimensi pendampingan keluarga dan pangan capaiannya yang paling rendah (39,0 dan 18,0), sedangkan pada dimensi gizi lebih tinggi daripada yang lainnya (71,7) dan kesehatan sebesar 64,7. Untuk dimensi perlindungan sosial (63,7) dan perumahan layak (53,1) juga harus mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah setempat karena capaian nilai indeknya relatif belum maksimal.
Pemberdayaan peran lembaga adat sebagai model yang dikembangkan dengan konsep ADDIE dalam melaksanakan konvergensi program di tingkat desa meliputi: 1) tahapan analisis didapatkan faktor berkaitan dengan akses pangan bergizi, lingkungan sosial, akses terhadap pelayanan kesehatan, serta akses sanitasi layak berpengaruh terhadap kejadian stunting. Upaya penyediaan layanan intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif belum dapat menjangkau semua kelompok sasaran. 2) tahapan design yaitu penyusunan instrumen dalam bentuk buku petunjuk teknis pelaksanaan aksi konvergensi dengan pendekatan lembaga adat. 3) Development, Inserting program konvergensi stunting kedalam peran dan fungsi lembaga adat percepatan penurunan stunting di tingkat desa, penilaian ahli dengan uji validitas setiap item yang diuji mempunyai nilai r > 0,33 atau sudah dikatakan valid dan layak untuk digunakan dilapangan. 4) tahap Implementasi, dilakukan dengan desain Cluster randomized controled trial, Implementasi intervensi dikombinasikan dengan pendampingan, pelatihan, dan pembekalan dengan petunjuk teknis pelaksanaan dan terdapat satu kelompok pembanding. 5) tahapan evaluasi yang mana pelaksanaan aksi konvergensi masih sangat tergantung pada tenaga pendamping karena masih merupakan hal yang baru.
Dampak dari implementasi, dari 14 indikator program yang dapan diperankan oleh lembaga adat, terdapat 9 indikator terjadi peningkatan pada cakupan layanan secara bermakna, diantaranya; program ASI ekslusif p;0,04, asuhan anak gizi kurang P;0,03, pemantauan tumbuh kembang p; 0,01, layanan air bersih p;0,01, tambahan gizi untuk anak gizi kurang p;0,03, pemahaman baik tentang stunting, p;0,01, pemanfaatan pekarangan untuk sumber gizi keluarga p;0,01, PMT pada ibu hamil p;0,02, dan konsumsi tablet tambah darah pada ibu hamil p;0,02. Sedang 5 indikator lainnya tidak terjadi peningkatan secara bermakna yaitu; imunisasi dasar p;0,10, MP-ASI anak usia 6-23 bulan p;0,64, sanitasi layak p;0,06, penerima bantuan iuran jaminan kesehatan p;0,05, dan Stop BABS p;0,09. Pada kelompok yang mendapatkan pelatihan dan kelompok kontrol tidak terjadi perubahan cakupan progam secara bermakna antara sebelum dengan setelah dilakukan intervensi. Demikian juga dengan prevalensi stunting, kelompok intervensi yang mendapat pendampingan terjadi penurunan prevalensi stunting dari 39% menjadi 23,9%, p;0,04, sedangkan pada kelompok tanpa pendampingan (p;0,32) dan kelompok kontrol (p;0,53) tidak terjadi penurunan secara signifikan.
Kesimpulan Pendampingan memberikan keberhasilan implementasi model yang lebih baik dibandingkan dengan yang tidak mendapatkan pendampingan. Lembaga adat mempunyai peranan penting untuk mendukung pencapaian cakupan program dan penurunan prevalensi stunting di level desa.
Kata kunci: konvergensi, lembaga adat, cakupan program, stunting
Convergence Model for Stunting Reduction Programs: A Customary Institution Approach in Pidie District Indonesian The prevalence of stunting in Aceh decreased from 33.2% in 2021 to 31.2% in 2022, but is still higher than the target set at 14% in 2024. To accelerate stunting reduction and achieve optimal coverage of prevention programs, program convergence with the traditional institution approach is one alternative model as an effort to accelerate stunting reduction. The research design Sequential explanatory designs, a combination of quantitative and qualitative research sequentially, was carried out in 3 sub-districts that have villages as the focus of stunting implemented in 3 three stages; first preliminary analysis June-December 2022, second implementation of the model in January-November 2023, and third is impact measurement in 2024. Preliminary analysis of the determinant factors of stunting in Pidie are low quality drinking water sources p; 0.02, low cleanliness of cooking utensils p; 0.002, less fish consumption habits p; 0.03, diarrhea incidents p; 0.002, history of ARTIs P; 0.001, not consuming iron tablets during pregnancy p; 0.002 birth length less than 48 cm p; 0.01, not receiving complete basic immunization p; 0.003 and not receiving exclusive breastfeeding p; 0.01. The results of the evaluation of the stunting reduction and prevention service program have been implemented but have not reached all target groups. The implementation team has been formed but the facilities and infrastructure are inadequate and its performance has not been optimal because there is no good coordination so that it does not carry out its respective roles and functions. In addition, frequent changes, inappropriate placement of personnel, inappropriate planning and budgeting are still problems faced by the Pidie government. In preparing intervention program plans, the relevant regional apparatus organization (OPD) within the team have not fully referred to the indicator targets in Presidential Regulation 72/2021. Program activity interventions have not been implemented in an integrated manner across sectors, and there has been no synchronization of activity plans in regional planning documents. The capacity of implementing staff, which is key to the successful implementation of program convergence, has not received capacity building in handling the acceleration of stunting reduction, resulting in low achievement of intervention program coverage in target groups. The stunting handling index value has also only reached 51.6. When viewed from the index of each dimension, the family assistance and food dimensions have the lowest achievement (39.0 and 18.0) , while the nutrition dimension is higher than the others (71.7) and health at 64.7. The social protection dimension (63.7) and adequate housing (53.1) also require more attention from the local government because the achievement of their index values is relatively less than optimal. Empowering the role of traditional institutions as a model developed with the ADDIE concept in implementing program convergence at the village level includes: 1) the analysis stage obtained factors related to access to nutritious food, social environment, access to health services, and access to proper sanitation that influence the incidence of stunting. Efforts to provide specific nutrition intervention services and sensitive nutrition have not been able to reach all target groups . 2) the design stage, namely the preparation of instruments in the form of a technical guideline for implementing convergence actions with a traditional institution approach. 3) Development, Inserting the stunting convergence program into the role and function of traditional institutions to accelerate stunting reduction at the village level, expert assessment with a validity test for each item tested has an r value> 0.33 or has been said to be valid and suitable for use in the field. 4) the Implementation stage, carried out with a Cluster randomized controlled trial design, Implementation of interventions combined with mentoring, training, and provision with technical implementation instructions and there is one comparison group. 5) the evaluation stage where the implementation of convergence actions is still very dependent on assistants because it is still a new thing. The impact of implementation, from 14 program indicators that can be played by traditional institutions, there are 9 indicators that have increased significantly in service coverage, including; exclusive breastfeeding program p; 0.04, care for malnoutrition children P; 0.03, growth monitoring p; 0.01, clean water services p; 0.01, additional food for malnourished children p; 0.03, good understanding of stunting, p; 0.01, utilization of yards as a source of family nutrition p; 0.01, supplemetary feeding for pregnant women p; 0.02, and consumption of iron tablets in pregnant women p; 0.02. Meanwhile, 5 other indicators did not experience a significant increase, namely; basic immunization p; 0.10, complementary feeding for children aged 6-23 months p; 0.64, proper sanitation p; 0.06, recipients of health insurance premium assistance p; 0.05, and stop ODF p; 0.09. There was no significant change in program coverage between the training and control groups before and after the intervention. Similarly, stunting prevalence decreased in the intervention group that received assistance from 39% to 23.9%, p; 0.04, while there was no significant decrease in the unassisted group (p; 0.32) and the control group (p; 0.53). Conclusion: Mentoring resulted in better model implementation success compared to those without assistance. Traditional institutions play a crucial role in supporting program coverage and reducing stunting prevalence at the village level. Keywords: convergence, customary institutions, program coverage, stunting
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN PERILAKU IBU HAMIL TERHADAP PENCEGAHAN STUNTING DI DESA LOKUS STUNTING (Qusyairy Aulia Rahman Pane, 2023)
ANALISIS PROGRAM PENURUNAN STATUS GIZI BURUK BALITA OLEH DINAS KESEHATAN KOTA BANDA ACEH (Maulya Ulfah, 2019)
MANAJAEMEN KASUS STUNTING BERBASIS WILAYAH ACEH BESAR (ANALISIS PROGRAM INTERVENSI STUNTING DI PUSKESMAS) (Siti Shaliha, 2025)
MANAJAEMEN KASUS STUNTING BERBASIS WILAYAH ACEH BESAR (ANALISIS PROGRAM INTERVENSI STUNTING DI PUSKESMAS) (Siti Shaliha, 2025)
KESENJANGAN DAN KONVERGENSI ANTAR PROVINSI DI PULAU SUMATERA (PUTRI BULQIS, 2015)