ANALISIS FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NILAI TUKAR PETANI PADA USAHATANI UBI KAYU DI DESA LUENG KULI KECAMATAN PEUSANGAN SELATAN KABUPATEN BIREUEN | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

ANALISIS FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NILAI TUKAR PETANI PADA USAHATANI UBI KAYU DI DESA LUENG KULI KECAMATAN PEUSANGAN SELATAN KABUPATEN BIREUEN


Pengarang

YEZMI MAULIDA RAHMA - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Noratun Juliaviani - 198906092021022101 - Dosen Pembimbing I
Edy Marsudi - 196305241990031002 - Dosen Pembimbing I



Nomor Pokok Mahasiswa

2105102010029

Fakultas & Prodi

Fakultas Pertanian / Agribisnis (S1) / PDDIKTI : 54201

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Pertanian., 2025

Bahasa

Indonesia

No Classification

633.682

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Petani merupakan kelompok masyarakat yang berperan penting dalam menjaga ketahanan pangan dan perekonomian nasional, terutama di daerah pedesaan. Salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani adalah Nilai Tukar Petani (NTP), yaitu perbandingan antara indeks harga yang diterima petani (It) dengan indeks harga yang dibayar petani (Ib). NTP yang bernilai lebih dari 100 menunjukkan kondisi surplus atau kesejahteraan yang baik, sedangkan NTP di bawah 100 menunjukkan kondisi defisit yang berarti kesejahteraan petani masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi NTP pada usaha tani ubi kayu di Desa Lueng Kuli, Kecamatan Peusangan Selatan, Kabupaten Bireuen, yang merupakan salah satu sentra penghasil ubi kayu di daerah tersebut.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan Partial Least Square – Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Sampel penelitian berjumlah 30 orang petani ubi kayu yang dipilih secara acak dari populasi sebanyak 120 orang. Variabel yang diteliti meliputi produktivitas, luas lahan, jumlah tanggungan keluarga, biaya produksi, dan konsumsi rumah tangga sebagai variabel bebas, serta nilai tukar petani (NTP) sebagai variabel terikat. Data primer diperoleh melalui wawancara dan kuesioner, sedangkan data sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan instansi terkait.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai tukar petani ubi kayu di Desa Lueng Kuli sebesar 91, yang berarti berada pada kondisi defisit. Artinya, pendapatan yang diterima petani belum mampu menutupi seluruh pengeluaran rumah tangga. Analisis model struktural menghasilkan nilai R² sebesar 0,731, yang berarti 73,1% variasi NTP dapat dijelaskan oleh kelima variabel bebas. Secara parsial, variabel jumlah tanggungan keluarga, luas lahan, dan produktivitas berpengaruh positif signifikan terhadap NTP, sedangkan konsumsi rumah tangga berpengaruh negatif signifikan. Sementara itu, biaya produksi tidak berpengaruh signifikan terhadap NTP karena besarnya pengeluaran antarpetani relatif homogen.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa kesejahteraan petani ubi kayu di Desa Lueng Kuli masih rendah, tercermin dari nilai NTP yang belum mencapai angka 100. Untuk meningkatkan NTP, petani diharapkan dapat mengoptimalkan produktivitas melalui penggunaan bibit unggul, pengelolaan lahan yang efisien, dan pengendalian konsumsi rumah tangga agar pendapatan lebih seimbang dengan pengeluaran. Pemerintah daerah juga diharapkan berperan aktif dalam menyediakan sarana produksi, pembinaan teknis, serta memperluas akses pasar bagi petani ubi kayu agar kesejahteraan mereka dapat meningkat di masa mendatang.

Farmers are a group of people who play an important role in maintaining food security and the national economy, especially in rural areas. One of the indicators used to measure the level of farmers’ welfare is the Farmers’ Exchange Rate (NTP), which is the ratio between the price index received by farmers (It) and the price index paid by farmers (Ib). An NTP value greater than 100 indicates a surplus condition or good welfare, while an NTP value below 100 indicates a deficit condition, meaning that farmers’ welfare remains low. This study aims to analyze the factors that affect the NTP of cassava farming in Lueng Kuli Village, South Peusangan Subdistrict, Bireuen Regency, which is one of the main cassava-producing areas in the region. This research employs a quantitative descriptive method with a Partial Least Square – Structural Equation Modeling (PLS-SEM) approach. The sample consists of 30 cassava farmers randomly selected from a population of 120 farmers. The variables studied include productivity, land area, number of family dependents, production costs, and household consumption as independent variables, while NTP serves as the dependent variable. Primary data were collected through interviews and questionnaires, while secondary data were obtained from the Central Bureau of Statistics (BPS) and relevant institutions. The results show that the average Farmers’ Exchange Rate (NTP) for cassava farmers in Lueng Kuli Village is 91, indicating a deficit condition. This means that farmers’ income has not been sufficient to cover total household expenses. The structural model analysis produced an R² value of 0.731, meaning that 73.1% of the variation in NTP can be explained by the five independent variables. Partially, the variables number of family dependents, land area, and productivity have a positive and significant effect on NTP, while household consumption has a negative and significant effect. Meanwhile, production costs have no significant effect on NTP because the expenditure among farmers is relatively homogeneous. The conclusion of this study is that the welfare of cassava farmers in Lueng Kuli Village remains low, as reflected by the NTP value that has not yet reached 100. To improve NTP, farmers are expected to optimize productivity through the use of superior seeds, efficient land management, and control of household consumption so that income can be balanced with expenses. The local government is also expected to play an active role in providing agricultural inputs, technical guidance, and expanding market access for cassava farmers so that their welfare can improve in the future

Citation



    SERVICES DESK