KEGAGALAN STRATEGI BUZZER DALAM PEMBENTUKAN OPINI PUBLIK TERHADAP ILLIZA SA'ADUDDIN DJAMAL PADA PILKADA ACEH 2024 | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

KEGAGALAN STRATEGI BUZZER DALAM PEMBENTUKAN OPINI PUBLIK TERHADAP ILLIZA SA'ADUDDIN DJAMAL PADA PILKADA ACEH 2024


Pengarang

Nabilla Amalia Putri - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Faradilla Fadlia - 198410012014042001 - Dosen Pembimbing I
Maghfira Faraidiany - 199402262022032017 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

2010103010007

Fakultas & Prodi

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Ilmu Politik (S1) / PDDIKTI : 67201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Syiah Kuala., 2025

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

ABSTRAK
Fenomena buzzer politik dalam kontestasi pemilu di Indonesia semakin mendapat perhatian, termasuk pada Pilkada Banda Aceh 2024. Penelitian ini mengkaji kegagalan strategi buzzer dalam membentuk opini publik terhadap Illiza Sa’aduddin Djamal yang kembali mencalonkan diri sebagai Wali Kota Banda Aceh. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis faktor penyebab kegagalan buzzer dalam memengaruhi persepsi masyarakat serta melihat strategi counter yang dilakukan pihak Illiza. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui wawancara mendalam dengan buzzer, jurnalis, akademisi, LSM, serta pihak penyelenggara pemilu, didukung dokumentasi dari media sosial, pemberitaan daring, dan arsip resmi. Penelitian ini juga menggunakan teori mobilisasi politik Stefano Bartolini yang menekankan pada mobilisasi langsung maupun tidak langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegagalan buzzer dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu rasionalitas pemilih Banda Aceh yang lebih menilai rekam jejak dan program nyata dibanding isu negative dan meningkatnya literasi digital masyarakat yang membuat mereka mampu membedakan informasi palsu, serta strategi counter Illiza yang efektif, seperti dukungan tokoh agama, partai nasional, jaringan komunitas, dan komunikasi langsung dengan masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kekuatan figur politik, legitimasi sosial, serta rekam jejak kepemimpinan lebih dominan dalam memengaruhi pilihan publik dibanding propaganda buzzer, sehingga strategi buzzer terbukti tidak efektif dalam kasus Pilkada Banda Aceh 2024.

ABSTRACT The phenomenon of political buzzers in the election contestation in Indonesia is gaining attention, including in the 2024 Banda Aceh Regional Head Election. This study examines the failure of the buzzer strategy in forming public opinion against Illiza Sa'aduddin Djamal who is again running for Mayor of Banda Aceh. The purpose of the research is to analyze the factors that cause buzzer failure in influencing public perception as well as looking at Illiza's counter strategy. This study used qualitative methods through in-depth interviews with buzzers, journalists, academics, NGOs, and election organizers, supported by documentation from social media, online reporting, and official archives. The study also used Stefano Bartolini's political mobilization theory, which emphasized both direct and indirect mobilization. Research results show that the failure of buzzers is influenced by two main factors, namely the rationality of Banda Aceh voters who assess track records and real programs more than negative issues and the increasing digital literacy of the community that allows them to distinguish false information, as well as Illiza's effective counter strategy, and to be used information. This includes support for religious leaders, national parties, community networks, and direct communication with the public. This study concluded that the strength of political figures, social legitimacy, and leadership track records were more dominant in influencing public choice than buzzer propaganda, so the buzzer strategy proved ineffective in the 2024 Banda Aceh Regional Election case.

Citation



    SERVICES DESK