PERBANDINGAN PERFORMA ITIK PEDAGING LOKAL DAN RNPEKING YANG DIPELIHARA PADA KANDANG RANGE DI PETERNAKAN ITIK DESA KAJHU, ACEH BESAR | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

PERBANDINGAN PERFORMA ITIK PEDAGING LOKAL DAN RNPEKING YANG DIPELIHARA PADA KANDANG RANGE DI PETERNAKAN ITIK DESA KAJHU, ACEH BESAR


Pengarang

SYAHDA HARSANTI - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Allaily - 197806142008122004 - Dosen Pembimbing I
Zulfan - 196506071990111001 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

2105104010102

Fakultas & Prodi

Fakultas Pertanian / Peternakan (S1) / PDDIKTI : 54231

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Pertanian., 2025

Bahasa

Indonesia

No Classification

636.597

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Peternakan itik di Indonesia sama dengan peternak itik di Desa Kajhu, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar, umumnya, dilakukan oleh peternak dengan sistem range. Jenis itik pedaging yang diusahakan oleh peternak di Desa Kajhu adalah itik peking dan itik lokal. Berdasarkan hasil survei awal diketahui bahwa menurut peternak, itik peking lebih cepat pertumbuhannya dibandingkan itik lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kinerja antara itik pedaging jenis peking dan lokal yang diproduksi dengan sistem kandang range di Peternakan Itik Kajhu.
Penelitian ini dilakukan di peternakan itik pedaging Desa Kajhu, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar, uselama 8 minggu dari bulan April sampai dengan Mei 2025). Itik yang diamati berjumlah 3.000 ekor itik, terdiri dari 1.500 ekor itik peking dan 1.500 ekor itik lokal. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua perlakuan; P= itik peking dan L = itik lokal, dan enam ulangan. Parameter yang diamati meliputi bobot badan, pertambahan bobot badan, konsumsi ransum, konversi ransum (FCR), mortalitas, afkir, dan deplesi. Data dianalisis menggunakan uji t untuk mengetahui perbedaan kinerja antara kedua jenis itik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa itik peking memiliki bobot badan pertambahan bobot badan, dan konversi ransum yang sangat nyata (P0,05), tetapi pada fase finisher (3–8 minggu) dan secara total (0-8 minggu) konsumsi ransum itik lokal lebih tinggi dibandingkan dengan itik peking. Mortalitas dan deplesi itik lokal nyata lebih tinggi dibandingkan dengan itik peking yang disebabkan terutama oleh faktor genetik, manajemen pemeliharaan, dan kualitas ransum. Secara keseluruhan, parameter kinerja itik peking lebih unggul dibandingkan dengan itik lokal.
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kinerja itik pedaging peking lebih baik dibandingkan dengan itik lokal, yang dipertahankan dalam sistem pemeliharaan rentang di Desa Kajhu, yang ditunjukkan dari pertambahan bobot badan dan konversi pakan yang lebih baik Itik peking direkomendasikan untuk peternak yang mengutamakan efisiensi produksi daging. Namun pemeliharaan itik lokal tetap dapat dikembangkan dengan perbaikan manajemen, peningkatan kualitas pakan, dan upaya pemuliaan untuk meningkatkan produktivitasnya.

Duck farming in Indonesia, similar to that in Kajhu Village, Baitussalam District, Aceh Besar Regency, is generally carried out by farmers using a range system. The meat ducks raised by farmers in Kajhu Village are Peking ducks and local ducks. Based on initial survey results, farmers found that Peking ducks grow faster than local ducks. This study aimed to compare the performance of Peking and local meat ducks produced using the range system at Kajhu Duck Farm. This study was conducted at a meat duck farm in Kajhu Village, Baitussalam District, Aceh Besar Regency, for eight weeks, from April to May 2025. A total of 3,000 ducks were observed, consisting of 1,500 Peking ducks and 1,500 local ducks. A completely randomized design (CRD) was used with two treatments: P = Peking ducks and L = local ducks, and six replications. Observed parameters included body weight, body weight gain, feed consumption, feed conversion (FCR), mortality, culling, and depletion. Data were analyzed using a t-test to determine performance differences between the two duck species. The results showed that Peking ducks had significantly better body weight, body weight gain, and feed conversion compared to local ducks (P0.05), but in the finisher phase (3–8 weeks) and overall (0–8 weeks), local ducks consumed higher rations than Peking ducks. Mortality and depletion in local ducks were significantly higher than in Peking ducks, primarily due to genetic factors, management, and feed quality. Overall, Peking duck performance parameters were superior to local ducks. Based on the results of this study, it can be concluded that the performance of Peking meat ducks is better than local ducks, which are maintained in a range maintenance system in Kajhu Village, as indicated by better body weight gain and feed conversion. Peking ducks are recommended for farmers who prioritize meat production efficiency. However, local duck maintenance can still be developed with improved management, improved feed quality, and breeding efforts to increase productivity.

Citation



    SERVICES DESK