Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
TINGKAT PENCEMARAN LINGKUNGAN, TANAH, AIR DAN UDARA TERKAIT PENGOLAHAN LIMBAH UNTUK KEBERLANJUTAN PERTENAKAN ITIK DI KAWASAN KAJHU
Pengarang
ADE ARDIANTA SEMBIRING - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Zikri Maulina Gaznur - 198902052019032018 - Dosen Pembimbing I
Muhammad Resthu - 199311172022031008 - Dosen Pembimbing II
Nomor Pokok Mahasiswa
2105104010054
Fakultas & Prodi
Fakultas Pertanian / Peternakan (S1) / PDDIKTI : 54231
Subject
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Pertanian., 2025
Bahasa
Indonesia
No Classification
636.597
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Peternakan itik khususnya di Indonesia merupakan salah satu sektor agribisnis yang berkembang pesat serta memiliki peran strategis dalam pemenuhan kebutuhan pangan hewani, khususnya dalam produksi telur dan daging. Namun, perkembangan yang cepat ini juga membawa tantangan baru, terutama terkait dengan dampak negatif terhadap lingkungan. Pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah peternakan itik, seperti kotoran, sisa pakan, dan limbah cair, mulai menunjukkan dampak yang semakin besar terhadap kualitas lingkungan di kawasan tersebut. Selain pencemaran tanah, limbah cair yang berasal dari kotoran dan sisa pakan itik berpotensi mencemari sumber air yang digunakan oleh masyarakat setempat. Pencemaran air yang tidak segera ditangani dapat berdampak langsung terhadap kualitas air di lingkungan sekitar. Pencemaran udara juga menjadi isu penting, di mana bau tidak sedap yang ditimbulkan dari peternakan itik dapat mengganggu kenyamanan dan kesehatan penduduk sekitar. Oleh karena itu, untuk menjaga keberlanjutan peternakan itik yang ramah lingkungan, sangat penting untuk mengidentifikasi seberapa besar pencemaran yang terjadi, agar dapat merancang langkah-langkah mitigasi yang tepat guna mengurangi dampaknya. Penelitian ini dilakukan untuk menemukan besaran cemaran di udara, air dan tanah yang terjadi di Kawasan Peternakan Itik Kajhu.
Penelitian ini telah dilakukan di tiga tempat yaitu Kawasan Peternakan Itik, Kajhu, Baitussalam, Aceh Besar, Laboratorium Teknik Pengujian Kualitas Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, UPTD Balai Pengujian Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh. Kawasan peternakan ini dipilih karena memiliki potensi dan kegiatan peternakan itik yang cukup banyak, yang dapat memberikan data representatif terkait dampak pencemaran dan pengelolaan limbah dalam sistem peternakan. Penelitian ini telah dilaksanakan selama satu bulan, yaitu dari bulan Juni 2025 sampai dengan Juli 2025. Analisis data dilakukan secara deskriptif, kemudian data kuantitatif yang didapat akan dibandingkan dengan Peraturan mentri yang mengatur tentang kondisi lingkungan yang baik berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 150 Tahun 2000 tentang Pengendalian Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor 68 Tahun 2016 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik, dan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 50 Tahun 1996 Tentang Baku Tingkat Kebauan.
Berdasarkan hasil penelitian, tingkat pencemaran tanah, air, dan udara akibat aktivitas peternakan itik telah mengalami pencemaran fekal berat yang berakibat fatal terhadap lingkungan sekitar. Faktor utama penyebab kerusakan lingkungan pada lokasi peternakan itik Kajhu ialah kombinasi limbah padat, limbah cair, dan emisi gas yang tidak dikelola dengan baik.
Duck farming, particularly in Indonesia, is a rapidly growing agribusiness sector and plays a strategic role in meeting the demand for animal food, particularly in egg and meat production. However, this rapid development also brings new challenges, particularly related to negative impacts on the environment. Environmental pollution caused by duck farm waste, such as manure, leftover feed, and liquid waste, is beginning to have an increasing impact on environmental quality in the area. In addition to soil pollution, liquid waste from duck manure and leftover feed has the potential to contaminate water sources used by local communities. Water pollution that is not promptly addressed can directly impact water quality in the surrounding environment. Air pollution is also a significant issue, as the unpleasant odors emitted from duck farms can disrupt the comfort and health of surrounding residents. Therefore, to maintain the sustainability of environmentally friendly duck farming, it is crucial to identify the extent of pollution and design appropriate mitigation measures to reduce its impact. This study was conducted to determine the extent of air, water, and soil pollution in the Kajhu Duck Farm Area. This research was conducted in three locations: the Duck Farming Area, Kajhu, Baitussalam, Aceh Besar, the Environmental Quality Testing Engineering Laboratory of the Faculty of Engineering, Syiah Kuala University, and the Environmental Research and Development Testing Center of the Aceh Environment and Forestry Service. These livestock areas were selected because they have considerable potential and duck farming activities, which can provide representative data related to the impact of pollution and waste management in livestock systems. This research was conducted for one month, from June 2025 to July 2025. Data analysis was conducted descriptively, then the quantitative data obtained were compared with Ministerial Regulations governing good environmental conditions based on Government Regulation of the Republic of Indonesia Number 150 of 2000 concerning Control of Land Damage for Biomass Production, Regulation of the Minister of Environment and Forestry of the Republic of Indonesia Number 68 of 2016 concerning Domestic Wastewater Quality Standards, and Regulation of the Minister of State for the Environment No. 50 of 1996 concerning Odor Level Standards. Based on research results, the level of soil, water, and air pollution caused by duck farming activities has experienced severe fecal contamination, which has had fatal consequences for the surrounding environment. The primary factor causing environmental damage at the Kajhu duck farm is a combination of poorly managed solid waste, liquid waste, and gas emissions.
FAKTOR-FAKTOR DI INDUSTRI GALANGAN KAPAL PADA KAWASAN LAMPULO YANG DAPAT BERKOTRIBUSI PADA PERUBAHAN LINGKUNGAN (RHAFI DZAR ARIGA, 2025)
PENGGUNAAN LIMBAH IKAN LEUBIEM HITAM (CHANTHIDERMIS MACULATUS) DALAM RANSUM TERHADAP INDEKS PRODUKSI ITIK ALABIO FASE GROWER (Badaruddin, 2018)
EVALUASI SIFAT KUALITATIF DAN KUANTITATIF PADA SAPI ACEH DI KABUPATEN ACEH BESAR (DERIS RIZKI ADITIA, 2019)
FITOREMEDIASI TANAMAN KAYU APU (PISTIA STRATIOTES L) PADA PENYERAPAN LOGAM BERAT HG DARI LIMBAH TAMBANG EMAS DENGAN PENAMBAHAN PHOSPHATE (Mentarina Rizki, 2023)
PERBANDINGAN PERFORMA ITIK PEDAGING LOKAL DAN RNPEKING YANG DIPELIHARA PADA KANDANG RANGE DI PETERNAKAN ITIK DESA KAJHU, ACEH BESAR (SYAHDA HARSANTI, 2025)