Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
THESES
IDENTIFIKASI PENYAKIT BUAH PALA (MYRISTICA FRAGRANS HOUTT) SERTA PERSENTASE SERANGANNYA DI TIGA KECAMATANRNACEH SELATAN
Pengarang
Aida Nur Alia - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Muhammad Sayuthi - 197211232003121001 - Dosen Pembimbing I
Susanna - 196811301994032001 - Dosen Pembimbing II
Nomor Pokok Mahasiswa
2205201010003
Fakultas & Prodi
Fakultas Pertanian / Agroekoteknologi (S2) / PDDIKTI : 54111
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Pertanian., 2025
Bahasa
Indonesia
No Classification
632.3
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Tanaman pala (Myristica fragrans Houtt) merupakan komoditi ekspor yang memiliki peran penting dalam perekonomian negara Indonesia, terutama untuk meningkatkan devisa negara. Saat ini dalam proses budidaya tanaman pala tidak terlepas dari adanya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang mengakibatkan menurunnya kualitas maupun kuantitas biji dan fuli. Salah satu penyakit yang memiliki dampak signifikan terhadap kualitas pala adalah penyakit busuh buah pala yang disebabkan berbagai patogen. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari penyebab busuk buah pala serta tingkat persentase serangannya di lapangan.
Penelitian ini dilakukan dengan menghitung kejadian penyakit pada buah pala. Informasi ini juga diperoleh dari hasil pengisian kuesioner kepada petani pala yang digunakan sebagai data pendukung terhadap hasil penelitian. Pengambilan sampel dilakukan dengan survey purposive sampling, dengan kriteria adanya serangan busuk buah, yang dilakukan di tiga Kecamatan yaitu Kecamatan Labuhan Haji Timur, Kecamatan Labuhan Haji dan Kecamatan Meukek. Setiap lokasi terdapat 5 individu tanaman sampel yang dipilih secara acak. Isolasi dilakukan pada sampel buah, karakterisasi morfologi cendawan patogen serta uji patogenisitas cendawan patogen pada buah pala. Peubah yang diamati gejala penyakit, kejadian penyakit, keparahan penyakit, makroskopis dan mikroskopis cendawan patogen.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala penyakit busuk buah kering ditandai dengan munculnya bercak bulat berwarna cokelat kehitaman, disertai massa cendawan berwarna hitam pada permukaan bercak buah. Seiring perkembangan penyakit, terjadi fase mumifikasi yang diikuti dengan pecahnya buah yang terinfeksi, hingga akhirnya buah gugur sebelum mencapai umur panen. Sedangkan gejala penyakit busuk buah basah yang diamati secara alami menunjukkan perubahan warna pada buah yang terinfeksi. Gejala ini disertai dengan pertumbuhan miselium berwarna putih keabu-abuan serta pembukaan buah yang belum matang. Persentase kejadian penyakit busuk buah kering dan busuk buah basah tertinggi ditemukan di Desa Gunung Rotan, Kecamatan Labuhan Haji Timur, dengan tingkat kejadian mencapai 100%. Tingkat keparahan penyakit busuk buah kering tertinggi juga tercatat di desa yang sama, dengan rata-rata keparahan sebesar 11,04%. Adapun keparahan penyakit busuk buah basah mencapai 6,88%. Jenis cendawan yang menginfeksi buah pala (Myristica fragrans Houtt.) di tiga kecamatan yang diteliti berasal dari genus Stigmina dan Colletotrichum. Berdasarkan hasil identifikasi menggunakan panduan dari buku Barnett and Hunter, cendawan dari genus Stigmina memiliki konidia berbentuk bulat telur dengan ujung meruncing, serta hifa yang bersekat dan bersifat hialin. Koloni cendawan ini menunjukkan variasi warna, mulai dari agak gelap hingga terang. Cendawan dari genus Colletotrichum memiliki spora berbentuk silindris dan tidak bersekat. Koloni spora berwarna abu-abu dengan konidiofor yang memanjang. Konidia bersifat hialin dan berbentuk bulat telur. Miselium menyerupai kapas dengan warna koloni yang bervariasi. Jika diamati dari tampak atas pada cawan petri, koloni terlihat berwarna putih pucat, sedangkan bagian bawah koloni tampak berwarna abu-abu.
Nutmeg ( Myristica fragrans Houtt.) is an important export commodity that plays a significant role in Indonesia's economy, particularly in generating national revenue. In its cultivation process, nutmeg is susceptible to attacks by plant pests (Organisms Harmful to Plants/OPT), which negatively affect both the quality and quantity of seeds and mace. One of the major diseases impacting nutmeg quality is fruit rot, caused by various pathogens. This study aims to investigate the causes of nutmeg fruit rot and assess the level of disease incidence in the field. Disease occurrence was measured on nutmeg fruits, and additional data were collected through questionnaires distributed to nutmeg farmers to support the research findings. Samples were selected using purposive sampling, focusing on trees showing symptoms of fruit rot. The study was conducted in three districts: Labuhan Haji Timur, Labuhan Haji, and Meukek. In each location, five individual nutmeg trees were randomly selected.The methodology included isolation of infected fruit samples, morphological characterization of the fungal pathogens, and pathogenicity tests on nutmeg fruits. The variables observed included disease symptoms, incidence rates, severity, and macroscopic and microscopic characteristics of the pathogenic fungi. The study revealed that symptoms of dry fruit rot in nutmeg. Are marked by the appearance of dark brown circular spots accompanied by black fungal masses on the surface of the lesions. As the disease progresses, the fruit undergoes a mummification phase followed by rupture, ultimately leading to fruit drop before reaching harvest maturity. Meanwhile, wet fruit rot symptoms observed naturally are characterized by discoloration of the affected fruit, along with the growth of grayish white mycelia and the splitting of immature fruits. The highest incidence of both dry and wet fruit rot diseases was recorded in Gunung Rotan Village, Labuhan Haji Timur District, with a 100% infection rate. The severity of dry fruit rot in this village reached 11.04% on average, while wet fruit rot severity was recorded at 6.88%.The fungal pathogens infecting nutmeg fruits in the three surveyed districts were identified as belonging to the genera Stigmina and Colletotrichum. According to identification guidelines in Barnett and Hunter's reference book, fungi from the genus Stigmina produce ovate conidia with pointed ends, along with septate, hyaline hyphae. The fungal colonies show color variations from dark to light tones.Fungi from the genus Colletotrichum have cylindrical, non-septate spores. Their colonies are gray with elongated conidiophores, and the conidia are hyaline and egg-shaped. The mycelium is cotton-like in texture, with varying colony colors appearing pale white from the top view and gray underneath when cultivated on Petri dishes.
DNA BARCODING DAN KEKERABATAN VARIETAS LOKAL TANAMAN PALA (MYRISTICA FRAGRANS HOUTT.) DI KABUPATEN ACEH SELATAN (Septi Nur Azzari, 2024)
STUDI ETNOBOTANI PALA DI KABUPATEN ACEH SELATAN (cut windasari, 2014)
PENGARUH EKSTRAK DAGING PALA (MYRISTICA FRAGRANS HOUTT) TERHADAP PERTUMBUHAN CANDIDA ALBICANS PADA GIGI TIRUAN AKRILIK (Rawdlatul Jannah, 2024)
IDENTIFIKASI INSEKTA HAMA PADA POHON PALA (MYRISTICA FRAGRANS HOUTT) DI KAWASAN LHOK PAWOH KECAMATAN SAWANG KABUPATEN ACEH SELATAN (Syarifah Rahma, 2018)
UJI AKTIVITAS ANTIFUNGAL MINYAK ATSIRI BUAH PALA (MYRISTICA FRAGRANS HOUTT) TERHADAP JAMUR CANDIDA ALBICANS SECARA IN VITRO (T Akmal Kausar, 2015)