Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
THE CONCEPTUAL MEANING OF PEUNAJOH NAGAN RAYA: A CULINARY LINGUISTIC APPROACH
Pengarang
MAILAN ADHIMA - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Zulfadli - 197606032006041001 - Dosen Pembimbing I
Dohra Fitrisia - 197908022008122001 - Dosen Pembimbing I
Nomor Pokok Mahasiswa
2106102020090
Fakultas & Prodi
Fakultas KIP / Pendidikan Bahasa Inggris (S1) / PDDIKTI : 88203
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas KIP Bahasa Inggris.,
Bahasa
No Classification
-
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Penelitian ini mengeksplorasi makna budaya dan linguistik yang terkandung dalam Peunajôh Nagan Raya, sebuah istilah yang digunakan untuk merujuk pada makanan tradisional Aceh di Nagan Raya, melalui pendekatan Natural Semantic Metalanguage (NSM). Penelitian ini bertujuan untuk menjawab dua pertanyaan: (1) Bagaimana Peunajôh dikategorikan secara semantik? dan (2) Apa makna konseptual dari Peunajôh di Nagan Raya?
Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan empat informan yang memiliki kompetensi budaya serta melalui observasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Peunajôh secara semantik dikategorikan ke dalam tiga jenis: Peunajôh Khanduri (untuk upacara ritual), Peunajôh Uroe Raya (untuk hari-hari perayaan), dan Peunajôh Ie Sirap (untuk konsumsi sehari-hari). Setiap kategori mencerminkan nilai-nilai budaya dan konteks situasional yang khas.
Untuk menguraikan makna konseptual, penelitian ini menggunakan templat semantik dari kerangka kerja NSM, yang mencakup empat komponen utama: Fungsi, Bahan, Proses, dan Penampilan. Unsur-unsur ini mengungkapkan bahwa Peunajôh lebih dari sekadar makanan; ia merupakan artefak budaya simbolik yang menyampaikan peran sosial, makna religius, dan identitas antargenerasi.
Eksplikasi semantik yang disusun untuk setiap jenis makanan (misalnya Kue Karah, Leumang, Putro Manoe) menunjukkan bahwa makanan tradisional menyampaikan pesan non-verbal seperti keramahan, pengingat, berkah, dan rasa syukur. Sebagai kesimpulan, Peunajôh di Nagan Raya mengandung makna budaya yang berlapis dan berfungsi sebagai media ekspresi linguistik, koneksi sosial, serta pelestarian budaya.
Penelitian ini menyoroti urgensi pendokumentasian dan pelestarian leksikon kuliner guna menjaga warisan budaya takbenda Aceh.
Kata kunci: budaya Aceh, makna konseptual, linguistik kuliner, Nagan Raya, Natural Semantic Metalanguage (NSM), Peunajôh, kategorisasi semantik.
This study explores the cultural and linguistic meanings embedded in Peunajôh Nagan Raya, a term used to refer to traditional Acehnese foods in Nagan Raya, through the lens of Natural Semantic Metalanguage (NSM). The research aims to answer two questions: (1) How is Peunajôh semantically categorized? And (2) What is the conceptual meaning of Peunajôh in Nagan Raya? Using a descriptive qualitative method, data were collected through semi-structured interviews with four culturally competent informants and field observations. The results show that Peunajôh is semantically categorized into three types: Peunajôh Khanduri (for ritual ceremonies), Peunajôh Uroe Raya (for festive days), and Peunajôh Ie Sirap (for daily consumption). Each category reflects unique cultural values and situational contexts. To explicate the conceptual meaning, the study employed semantic templates from the NSM framework, including four key components: Function, Material, Process, and Appearance. These elements reveal that Peunajôh is more than food; it is a symbolic cultural artefact conveying social roles, religious meanings, and intergenerational identity. The semantic explications constructed for each dish (e.g., Kue Karah, Leumang, Putro Manoe) demonstrate that traditional food communicates non- verbal messages such as hospitality, remembrance, blessings, and gratitude.In conclusion, Peunajôh in Nagan Raya embodies layered cultural meanings and serves as a medium of linguistic expression, social connection, and cultural preservation. This study highlights the urgency of documenting and sustaining culinary lexicons to maintain the intangible cultural heritage of Aceh. Keywords: Acehnese culture, conceptual meaning, culinary linguistics, Nagan Raya, Natural Semantic Metalanguage (NSM), Peunajôh, semantic categorization
THE CONCEPTUAL MEANING OF PEUNAJOH NAGAN RAYA: A CULINARY LINGUISTIC APPROACH (MAILAN ADHIMA, 2025)
AN ANALYSIS TYPES OF MEANING IN THE LYRIC OF APACHE13’S SONG FROM THE BEK PANIK ALBUM (ZIAUL KHAIRI, 2019)
A SEMIOTIC ANALYSIS OF BEVERAGE ADVERTISEMENTS (MUARIF FADHILLAH, 2021)
INVESTIGATING LINGUISTIC PERFORMANCE OF DEVAYAN CHILDREN SPEAKERS TOWARD THEIR INDIGENOUS LANGUAGE (NEMO ORIZA, 2018)
AN ANALYSIS OF METAPHORICAL EXPRESSIONS IN TEENAGERS’ FICTION NOVELS (GATA KHUMAIRA, 2019)