EVALUASI KECERNAAN IN VITRO KULIT KELAPA MUDA (COCOS NUCIFERA L.)RN DENGAN METODE ENSILASE DAN FERMENTASI | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

EVALUASI KECERNAAN IN VITRO KULIT KELAPA MUDA (COCOS NUCIFERA L.)RN DENGAN METODE ENSILASE DAN FERMENTASI


Pengarang

GILANG RAMADHAN - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Sitti Wajizah - 196902281993032001 - Dosen Pembimbing I
Mira Delima-196201051990022001 - - - Dosen Pembimbing I



Nomor Pokok Mahasiswa

2105104010070

Fakultas & Prodi

Fakultas Pertanian / Peternakan (S1) / PDDIKTI : 54231

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Pertanian., 2025

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Pakan menjadi tantangan utama yang dihadapi peternak di Indonesia dalam upaya meningkatkan produktivitas sapi potong. Ketersediaan pakan sering kali berfluktuasi dan dipengaruhi oleh perubahan musim, yang mengakibatkan ketidak pastian dalam kualitas dan kuantitasnya. Kekurangan pakan menjadi kendala selama musim kemarau, terutama untuk pakan hijauan. Kebutuhan pakan pada ternak ruminansia yang tidak terpenuhi dapat berakibat pada rendahnya produktivitas ternak. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan memanfaatkan hasil samping pertanian menjadi bahan pakan untuk ternak. Kulit kelapa muda sering dianggap tidak efektif sebagai bahan pakan ruminansia karena kandungan nutrisi dan kecernaannya yang rendah akibat serat kasar yang tinggi, serta mengandung senyawa tanin yang dapat menghambat aktivitas mikroba rumen, analisis kimia menunjukkan bahwa kulit kelapa muda kaya akan serat kasar (30,34%), selulosa (21,07%), lignin (29,23%), pektin (14,25%), air (26,0%), abu (3,95%), protein kasar (3,13), dan tanin (5,62%). Meskipun demikian, biomassa kulit kelapa muda yang cukup banyak berpeluang digunakan sebagai pakan ternak dengan meningkatkan kualitas nutrisinya melalui teknologi ensilase dan fermentasi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pengolahan kulit kelapa muda dengan metode ensilase dan fermentasi terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik secara in vitro. Penelitian dilakukan di Laboratorium Ilmu Nutrisi, Teknologi dan Hijauan Pakan Universitas Syiah Kuala dan Laboratorium Nutrisi dan Ternak Perah Institut Pertanian Bogor dari Januari hingga Maret 2025. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen, yang terdiri atas dua perlakuan yaitu silase dan fermentasi terhadap kulit kelapa muda. Masing-masing perlakuan terdiri dari 10 ulangan, sehingga diperoleh total 20 unit percobaan. Proses silase dan fermentasi dilakukan selama 21 hari. Parameter yang diamati meliputi nilai pH, koefisien kecernaan bahan kering (KcBK) dan koefisien kecernaan bahan organik (KcBO) secara in vitro. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji t. Hasil analisis penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan (P>0,05) antara perlakuan silase dan fermentasi terhadap nilai pH, KcBK, dan KcBO. Perlakuan fermentasi menghasilkan nilai KcBK tertinggi sebesar 44,39% sedangkan silase 42,86%. Nilai KcBO tertinggi yaitu pada fermentasi sebesar 41,15% sedangkan silase 39,65%. Nilai pH pada kedua perlakuan yaitu berkisar 6,90 hingga 6,92, masih berada dalam keadaan yang seimbang bagi lingkungan rumen. Penggunaan inokulum MA-11 dalam proses fermentasi memberikan hasil yang lebih baik dalam meningkatkan kecernaan kulit kelapa muda dibandingkan dengan metode ensilase. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan terhadap pH dan kecernaan antara silase dan fermentasi. Meskipun fermentasi dengan MA-11 cenderung lebih efektif dalam meningkatkan kecernaan kulit kelapa muda.

Feed is the main challenge faced by farmers in Indonesia in an effort to increase beef cattle productivity. Feed availability often fluctuates and is affected by seasonal changes, resulting in uncertainty in quality and quantity. Feed shortages become a constraint during the dry season, especially for forage feed. Unmet feed needs in ruminants can result in low livestock productivity. One of the efforts that can be made to overcome this problem is to utilize agricultural by-products into feed ingredients for livestock. Young coconut skin is often considered ineffective as a ruminant feed ingredient because of its low nutritional content and digestibility due to high crude fiber, and contains tannin compounds that can inhibit rumen microbial activity. Chemical analysis shows that young coconut skin is rich in crude fiber (30.34%), cellulose (21.07%), lignin (29.23%), pectin (14.25%), water (26.0%), ash (3.95%), crude protein (3.13), and tannin (5.62%). Nevertheless, the ample biomass of young coconut husk has the opportunity to be used as animal feed by improving its nutritional quality through ensilage and fermentation technology. This study aims to evaluate the effect of processing young coconut peels by ensilage and fermentation methods on the digestibility of dry matter and organic matter in vitro. The research was conducted at the Laboratory of Nutrition Science, Technology and Feed Forage of Syiah Kuala University and the Laboratory of Nutrition and Dairy Cattle of Bogor Agricultural University from January to March 2025. This research is an experimental research, which consists of two treatments, namely silage and fermentation of young coconut skin. Each treatment consisted of 10 replicates, resulting in a total of 20 experimental units. Silage and fermentation processes were carried out for 21 days. Parameters observed included pH value, coefficient of digestibility of dry matter (KcBK) and coefficient of digestibility of organic matter (KcBO) in vitro. The data obtained were analyzed using the t-test. The results of the analysis showed that there was no significant difference (P>0.05) between silage and fermentation treatments on pH, KcBK, and KcBO values. Fermentation treatment produced the highest KcBK value of 44.39% while silage was 42.86%. The highest KcBO value was in fermentation of 41.15% while silage was 39.65%. The pH value in both treatments ranged from 6.90 to 6.92, still in a balanced state for the rumen environment. The use of MA-11 inoculum in the fermentation process gives better results in increasing the digestibility of young coconut skin compared to the ensilage method. Based on the results, it can be concluded that there is no significant difference in pH and digestibility between silage and fermentation. Although fermentation with MA-11 tends to be more effective in increasing the digestibility of young coconut skin.

Citation



    SERVICES DESK