PEMBAGIAN WARISAN BERDASARKAN SISTEM WARIS MASYARAKAT BATAK MANDAILINGRN(SUATU PENELITIAN DI KABUPATEN TAPANULI SELATAN) | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    THESES

PEMBAGIAN WARISAN BERDASARKAN SISTEM WARIS MASYARAKAT BATAK MANDAILINGRN(SUATU PENELITIAN DI KABUPATEN TAPANULI SELATAN)


Pengarang

Sarah Mailan Siregar - Personal Name;

Dosen Pembimbing

M. Adli - 196607031998021001 - Dosen Pembimbing I
Teuku Muttaqin Mansur - 197909052008121002 - Dosen Pembimbing I



Nomor Pokok Mahasiswa

2303202010027

Fakultas & Prodi

Fakultas Hukum / Kenotariatan (S2) / PDDIKTI : 74102

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : hukum kenotariatan., 2025

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Pembagian waris merupakan salah satu hukum yang berlaku dalam masyarakat Indonesia. Kenyataannya dalam masyarakat sering terjadi sengketa kewarisan umumnya tertumpu pada pembagian waris lebih di peruntukan kepada anak laki-laki. Sementara untuk perempuan akan mendapatkan hibah yang sering dikenal dalam hukum adat yaitu berupa pemberian kasih sayang (holong ni ro ha). Selain sistem pembagian warisan yang terdapat dalam kitab Fiqh dan Kompilasi Hukum Islam (KHI), masyarakat juga melakukan pembagian waris menurut hukum adat Batak Mandailing di Kabupaten Tapanuli Selatan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis kedudukan saudara laki- laki sebagai ahli waris dalam sistem hukum adat dan peran ulama dalam pembagian kewarisan serta peranan Dalihan Na Tolu dalam pembagian kewarisan dalam masyarakat Batak Mandailing di Kabupaten Tapanuli Selatan.
Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan konseptual dan yuridis empiris dilaksanakan wawancara dengan responden dan informan. Bersumber data dari bahan hukum yang digunakan terdiri dari bahan hukum primer, sekunder serta tersier dan data yang dikumpulkan diolah, dianalisis secara kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedudukan saudara laki-laki sebagai ahli waris pembagian harta warisan berdasarkan garis keturunan ayah yaitu Patrilineal mengutamakan pembagian warisan terhadap anak laki-laki. Peran ulama sebagai saksi dalam pembagian warisan juga pengayom bagi masyarakat muslim dalam pembagian harta warisan dalam masyarakat mengharuskan ikut andil dalam pembagian harta warisan pada masyarakat Batak Mandailing Kabupaten Tapanuli Selatan. Selanjutnya dilakukan rapat secara kekeluargaan melalui rapat oleh tokoh adat disebut Dalihan Na Tolu berperan penting sebagai keseimbangan, penengah untuk masyarakat Kabupaten Tapanuli Selatan lebih mengedepankan pembagian harta warisan terhadap adat yang dipangku oleh tokoh adat yang di lakukan oleh masyarakat Kabupaten Tapanuli Selatan.
Disarankan para ahli waris pembagian waris dapat di pertimbangkan keadilan termasuk perempuan di hormati dan sesuai dengan syariat Islam. Ulama harus tetap memperkuat sebagai penengah, agar proses pembagian warisan berjalan dan menghormati adat Dalihan Na Tolu. Dalihan Na Tolu dan saksi dapat mendaftarkan perkara ke pengadilan supaya memiliki kekuatan hukum.
Kata kunci: Pembagian Warisan, Sistem Waris, Batak Mandailing, Adat.

Inheritance distribution is one of the laws that apply in Indonesian society. In reality, inheritance disputes often occur in society, generally focusing on the distribution of inheritance more for sons. While for women will receive a grant that is often known in customary law in the form of giving affection (holong ni ro ha). In addition to the inheritance distribution system contained in the Fiqh book and the Compilation of Islamic Law (KHI), the community also distributes inheritance according to Batak Mandailing customary law in South Tapanuli Regency. This study aims to examine and analyze the position of brothers as heirs in the customary law system and the role of ulama in the distribution of inheritance and the role of Dalihan Na Tolu in the distribution of inheritance in the Batak Mandailing community in South Tapanuli Regency. The research method used in this study is the normative juridical method with a statutory approach, a conceptual approach and empirical juridical interviews were conducted with respondents and informants. The data source from the legal materials used consists of primary, secondary and tertiary legal materials and the data collected is processed and analyzed qualitatively. The results of the study show that the position of the brother as the heir of the inheritance distribution based on the father's lineage, namely Patrilineal, prioritizes the distribution of inheritance to sons. The role of the ulama as a witness in the distribution of inheritance is also a protector for the Muslim community in the distribution of inheritance in society requires them to take part in the distribution of inheritance in the Batak Mandailing community of South Tapanuli Regency. Furthermore, a family meeting was held through a meeting by a traditional figure called Dalihan Na Tolu, playing an important role as a balance, a mediator for the people of South Tapanuli Regency, prioritizing the distribution of inheritance to the customs held by traditional figures carried out by the people of South Tapanuli Regency. It is recommended that the heirs of the inheritance distribution can be considered justice, including women who are respected and in accordance with Islamic law. The ulama must continue to strengthen their role as mediators, so that the inheritance distribution process runs and respects the Dalihan Na Tolu customs. Dalihan Na Tolu and witnesses can register cases with the court so that they have legal force. Keywords: Distribution of Inheritance, Inheritance System, Batak Mandailing, Custom.

Citation



    SERVICES DESK