Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
EKSPLORASI NEMATODA ENTOMOPATOGEN ISOLAT LOKAL PADA RHIZOSFER BAMBU (BAMBUSA SP.)
Pengarang
NADIEVA RESYA JOANDE - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Tjut Chamzurni - 196011171987102001 - Dosen Pembimbing I
Jauharlina - 196309231988032010 - Dosen Pembimbing I
Sapdi - 196411151993031003 - Dosen Pembimbing II
Rina Sriwati - 197003061994032001 - Penguji
Nomor Pokok Mahasiswa
2105109010041
Fakultas & Prodi
Fakultas Pertanian / Proteksi Tanaman (S1) / PDDIKTI : 54295
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Pertanian., 2025
Bahasa
No Classification
-
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Salah satu upaya pengendalian hama yang ramah lingkungan adalah dengan memanfaatkan NEP (Nematoda Entomopatogen) sebagai agen hayati. NEP memiliki kemampuan untuk menginfeksi dan membunuh serangga inang melalui simbiosis dengan bakteri patogen. Tanaman bambu merupakan salah satu vegetasi yang memiliki sistem perakaran kompleks dan lingkungan mikro yang lembab, sehingga potensial sebagai habitat alami NEP. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi NEP dari tanah rhizosfer bambu di tiga lokasi berbeda, yaitu Desa Cotcut, Desa Rukoh, dan Desa Kopelma Darussalam di Kabupaten Aceh Besar, serta mengamati gejala serangan pada larva, tingkat kematian, populasi NEP, dan karakter morfologi NEP yang ditemukan.
Metode penelitian menggunakan teknik pengumpanan (soil baiting technique) dengan ulat hongkong (Tenebrio molitor) dan ulat jerman (Zophobas morio) sebagai serangga inang. Nematoda yang berhasil diisolasi diidentifikasi secara morfologis. Parameter yang diamati meliputi gejala serangan larva, tingkat kematian larva pada hari ke-7, 14, dan 21 setelah inokulasi, serta populasi NEP dalam 1 ml air ekstraksi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa NEP yang ditemukan pada ketiga lokasi pengambilan sampel tanah berasal dari genus Heterorhabditis, ditandai dengan gejala infeksi khas pada larva berupa perubahan warna kutikula menjadi kemerahan hingga hingga berubah menjadi kehitaman. Isolat larva Tenebrio molitor yang diinkubasi pada tanah yang diambil dari Desa Rukoh menunjukkan tingkat kematian larva tertinggi yaitu sebesar 40% pada hari ke-7, 62% pada hari ke-14 dan 90% pada hari ke-21 setelah isolasi. Populasi NEP tertinggi ditemukan pada isolat ulat hongkong dari Desa Rukoh sebesar 4.814 individu/ml, diikuti oleh Desa Kopelma Darussalam sebesar 2.855 individu/ml. Perbedaan populasi NEP antar lokasi diduga dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti jenis tanah, kelembaban, suhu, vegetasi bambu, dan keberadaan bahan organik dari aktivitas peternakan di sekitar lokasi pengambilan sampel.
Kombinasi antara lingkungan mikro yang mendukung dan pemilihan serangga inang yang sesuai menjadi faktor penting dalam keberhasilan isolasi NEP. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa rhizosfer bambu merupakan habitat potensial bagi nematoda entomopatogen lokal yang dapat dikembangkan sebagai agen pengendali hayati serangga hama.
One environmentally friendly approach to pest control is the utilization of entomopathogenic nematodes (EPNs) as biological control agents. EPNs possess the ability to infect and kill insect hosts through a symbiotic association with pathogenic bacteria. Bamboo plants are known to have a complex root system and a moist microenvironment, making them a potentially suitable natural habitat for EPNs. This study aimed to explore the presence of EPNs in the rhizosphere soil of bamboo from three different locations, namely Cotcut Village, Rukoh Village, and Kopelma Darussalam Village in Aceh Besar District. The study also observed larval infection symptoms, mortality rates, EPN population density, and morphological characteristics of the isolated nematodes. The research employed a soil baiting technique using mealworm larvae (Tenebrio molitor) and superworm larvae (Zophobas morio) as insect hosts. Successfully isolated nematodes were morphologically identified. The observed parameters included larval infection symptoms, larval mortality rates on days 7, 14, and 21 post-inoculation, and EPN population density (individuals/ml of extraction solution). The results indicated that EPNs isolated from all three sampling sites belonged to the genus Heterorhabditis, characterized by distinctive symptoms in infected larvae, such as reddish to darkened cuticle coloration. The highest larval mortality was recorded in T. molitor larvae incubated in soil samples from Rukoh Village, with mortality rates of 40% on day 7, 62% on day 14, and 90% on day 21 post-isolation. The highest EPN population was found in mealworm isolates from Rukoh Village, reaching 4,814 individuals/ml, followed by Kopelma Darussalam Village with 2,855 individuals/ml. Variations in EPN populations among locations were likely influenced by environmental factors, such as soil type, moisture, temperature, bamboo vegetation, and the presence of organic matter from nearby livestock activities. The success of EPN isolation is closely associated with a supportive microenvironment and the appropriate selection of insect hosts. Based on these findings, the bamboo rhizosphere is considered a promising habitat for local entomopathogenic nematodes that can be developed as biological control agents against insect pests
EKSPLORASI NEMATODA ENTOMOPATOGEN ISOLAT LOKAL PADA RHIZOSFER BAMBU (BAMBUSA SP.) (NADIEVA RESYA JOANDE, 2025)
EKSPLORASI CENDAWAN ENTOMOPATOGEN ISOLAT LOKAL UNTUK PENGENDALIAN HAMA PENGGEREK BUAH KOPI (HYPOTHENEMUS HAMPEI) SERTA STUDI KERUSAKAN KUALITAS KOPI AKIBAT SERANGAN HAMA PENGGEREK BUAH KOPI (Olyfia Rosalina, 2017)
PENGARUH PENAMBAHAN NPK DAN BIOWISH TERHADAP BAKTERI RHIZOSFER TANAMAN NILAM (POGOSTEMON CABLIN BENTH.) VARIETAS SIDIKALANG (Wildanum mukhladun, 2024)
EFEKTIVITAS NEMATODA ENTOMOPATOGEN STEINERNEMA CARPOCOPSAE TERHADAP LARVA SPODOPTERA LITURA PADA TANAMAN SAWI (Lomhot Edy Pakpahan, 2024)
UJI POTENSI BAKTERI ENDOFIT YANG MENGHASILKAN ENZIM SEBAGAI NEMATISIDA TERHADAP MORTALITAS MELOIDOGYNE SPP., (AFRIYANI, 2020)