VISIBILITAS PEREMPUAN DI RUANG PUBLIK (RELASI GENDER DI WARUNG KOPI BANDA ACEH) | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

VISIBILITAS PEREMPUAN DI RUANG PUBLIK (RELASI GENDER DI WARUNG KOPI BANDA ACEH)


Pengarang

Raihan Syakira - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Faradilla Fadlia - 198410012014042001 - Dosen Pembimbing I
Maghfira Faraidiany - 199402262022032017 - Penguji
Ardiansyah - 199013012016041101 - Penguji



Nomor Pokok Mahasiswa

2110103010085

Fakultas & Prodi

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Ilmu Politik (S1) / PDDIKTI : 67201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Syiah Kuala., 2025

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

ABSTRAK
Warung kopi sebagai ruang sosial di Aceh yang selama ini identik dengan dominasi
laki-laki. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kehadiran perempuan di warung
kopi semakin terlihat, baik untuk bersosialisasi, bekerja, maupun sekedar bersantai.
Kehadiran perempuan di warung kopi kerap menimbulkan stigma negatif di tengah
masyarakat, seperti dianggap tidak sopan dan melanggar norma adat budaya Aceh.
Stigma ini menjadi salah satu hambatan sosial yang membuat perempuan harus
lebih berhati-hati saat mengakses ruang publik. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis bentuk interpretasi masyarakat terhadap kehadiran perempuan di
warung kopi serta mengkaji konsep warung kopi yang ramah terhadap perempuan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data
melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teori yang digunakan meliputi
teori ruang publik Jurgen Habermas, konsep kebutuhan gender dari Maxine
Molyneux, serta konsep pergeseran budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
visibilitas perempuan di warung kopi Banda Aceh diterima dengan syarat, seperti
berpakaian sopan dan menjaga sikap. Warung kopi dalam penelitian ini dibedakan
menjadi tiga kategori: tradisional, semi- modern, dan modern. Konsep warung kopi
ramah gender ditentukan oleh ketersediaan fasilitas yang mendukung kenyamanan
dan keamanan perempuan, seperti toilet terpisah, mushola, pencahayaan yang baik,
dan desain ruang. Terdapat perbedaan pandangan antara orang tua dan anak muda,
orang tua masih memandang kehadiran perempuan di warung kopi sebagai hal
negatif, karena tidak sesuai dengan norma adat dan budaya Aceh. Sedangkan
generasi muda, mereka memandang bahwa warung kopi adalah ruang publik yang
seharusnya bisa diakses secara setara oleh semua orang tanpa memandang gender.
Kehadiran perempuan di warung kopi tidak lagi dianggap hal yang tabu. Khususnya
dikalangan generasi muda, kesadaran tentang kesetaraan gender semakin kuat.
Banyak dari mereka sudah paham bahwa laki-laki dan perempuan punya hak dan
kesempatan yang setara.
Kata kunci: Visibilitas, Ruang Publik, Warung Kopi, Gender, Banda Aceh

ABSTRACT Coffee shops as a social space in Aceh have been synonymous with male dominance. However, in recent years, the presence of women in coffee shops has become more visible, both for socializing, working, and just relaxing. The presence of women in coffee shops often causes negative stigma in the community, such as being considered impolite and violating Acehnese cultural customary norms. This stigma is one of the social barriers that makes women have to be more careful when accessing public spaces. This study aims to analyze the form of public interpretation of the presence of women in coffee shops and examine the concept of coffee shops that are friendly to women. This study uses a qualitative approach with data collection techniques through observation, interviews, and documentation. The theories used include Jurgen Habermas' theory of public space, Maxine Molyneux's concept of gender needs, and the concept of cultural shift. The results of the study show that the visibility of women in Banda Aceh coffee shops is accepted with conditions, such as dressing modestly and maintaining an attitude. Coffee shops in this study are divided into three categories: traditional, semi-modern, and modern. The concept of a gender-friendly coffee shop is determined by the availability of facilities that support women's comfort and safety, such as separate toilets, prayer rooms, good lighting, and space design. There is a difference of opinion between parents and young people, parents still view the presence of women in coffee shops as a negative thing, because it is not in accordance with Acehnese customary and cultural norms. Meanwhile, the younger generation views that coffee shops are public spaces that should be accessible equally to everyone regardless of gender. The presence of women in coffee shops is no longer considered taboo. Especially among the younger generation, awareness of gender equality is getting stronger. Many of them already understand that men and women have equal rights and opportunities. Keywords: Visibility, Public Space, Coffee Shop, Gender, Banda Aceh

Citation



    SERVICES DESK