Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
PERAN KELEMBAGAAN TERHADAP PENGELOLAAN PERIKANAN BERBASIS EAFM (ECOSYSTEM APPROACH TO FISHERIES MANAGEMENT) DI DESA AIR PINANG KABUPATEN SIMEULUE
Pengarang
NURDIANTI - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Alvi Rahmah - 198805082015042002 - Dosen Pembimbing I
Ilham Zulfahmi - 198807162020121002 - Dosen Pembimbing II
Nomor Pokok Mahasiswa
2111103010030
Fakultas & Prodi
Fakultas Kelautan dan Perikanan / Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan (S1) / PDDIKTI : 54246
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : FAKULTAS KELAUTAN DAN PERIKANAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA., 2025
Bahasa
No Classification
-
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Peran kelembagaan dalam pengelolaan perikanan berbasis Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) di Desa Air Pinang, Kabupaten Simeulue. EAFM merupakan pendekatan yang menekankan keseimbangan antara keberlanjutan ekologi, kesejahteraan sosial, dan efektivitas tata kelola kelembagaan. Kelembagaan lokal memiliki peran penting dalam pelaksanaan prinsip-prinsip EAFM, terutama dalam hal pengaturan akses, penegakan aturan, partisipasi masyarakat, dan penyelesaian konflik. Penelitian ini menggunakan metode primer dan skunder. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi terhadap kelembagaan yang terlibat dalam pengelolaan perikanan. Penilaian dilakukan dengan mengacu pada indikator domain kelembagaan dalam EAFM, yaitu keberadaan dan fungsi kelembagaan, koordinasi antar-lembaga, partisipasi masyarakat, penegakan hukum, serta transparansi dan akuntabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran kelembagaan dalam pengelolaan perikanan di Desa Air Pinang termasuk dalam kategori cukup berperan, dengan skor komposit sebesar 71 (tujuh puluh satu). Kelompok nelayan, panglima laot, dan lembaga adat memiliki fungsi dalam menjaga kelestarian sumber daya, namun belum sepenuhnya terintegrasi dalam sistem pengelolaan berbasis ekosistem. Hambatan utama yang ditemukan adalah kurangnya koordinasi kelembagaan, keterbatasan kapasitas sumber daya manusia, masih banyaknya terjadi pelanggaran serta minimnya regulasi yang mendukung implementasi EAFM di tingkat desa. Dari hasil ini, disarankan adanya penguatan kelembagaan melalui pelatihan, penyusunan peraturan desa berbasis EAFM, serta peningkatan kerja sama antara masyarakat, pemerintah, dan pihak terkait lainnya. Langkah ini penting untuk mendorong pengelolaan perikanan yang berkelanjutan dan berbasis ekosistem di tingkat lokal.
Kata kunci: Kelembagaan, EAFM, pengelolaan perikanan, Simeulue, Desa Air Pinang.
Peran kelembagaan dalam pengelolaan perikanan berbasis Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) di Desa Air Pinang, Kabupaten Simeulue. EAFM merupakan pendekatan yang menekankan keseimbangan antara keberlanjutan ekologi, kesejahteraan sosial, dan efektivitas tata kelola kelembagaan. Kelembagaan lokal memiliki peran penting dalam pelaksanaan prinsip-prinsip EAFM, terutama dalam hal pengaturan akses, penegakan aturan, partisipasi masyarakat, dan penyelesaian konflik. Penelitian ini menggunakan metode primer dan skunder. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi terhadap kelembagaan yang terlibat dalam pengelolaan perikanan. Penilaian dilakukan dengan mengacu pada indikator domain kelembagaan dalam EAFM, yaitu keberadaan dan fungsi kelembagaan, koordinasi antar-lembaga, partisipasi masyarakat, penegakan hukum, serta transparansi dan akuntabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran kelembagaan dalam pengelolaan perikanan di Desa Air Pinang termasuk dalam kategori cukup berperan, dengan skor komposit sebesar 71 (tujuh puluh satu). Kelompok nelayan, panglima laot, dan lembaga adat memiliki fungsi dalam menjaga kelestarian sumber daya, namun belum sepenuhnya terintegrasi dalam sistem pengelolaan berbasis ekosistem. Hambatan utama yang ditemukan adalah kurangnya koordinasi kelembagaan, keterbatasan kapasitas sumber daya manusia, masih banyaknya terjadi pelanggaran serta minimnya regulasi yang mendukung implementasi EAFM di tingkat desa. Dari hasil ini, disarankan adanya penguatan kelembagaan melalui pelatihan, penyusunan peraturan desa berbasis EAFM, serta peningkatan kerja sama antara masyarakat, pemerintah, dan pihak terkait lainnya. Langkah ini penting untuk mendorong pengelolaan perikanan yang berkelanjutan dan berbasis ekosistem di tingkat lokal. Kata kunci: Kelembagaan, EAFM, pengelolaan perikanan, Simeulue, Desa Air Pinang.
PERAN KELEMBAGAAN TERHADAP PENGELOLAAN PERIKANAN BERBASIS EAFM (ECOSYSTEM APPROACH TO FISHERIES MANAGEMENT) DI PERAIRAN LABUHANHAJI (Yulda Elvira, 2023)
PERAN KELEMBAGAAN TERHADAP PENGELOLAAN PERIKANAN BERBASIS EAFM (ECOSYSTEM APPROACH TO FISHERIES MANAGEMENT) DI PERAIRAN KUALA LANGSA (MAGHFIRAH, 2023)
PERAN KELEMBAGAAN PANGLIMA LAOT DALAM PENYELESAIAN KONFLIK NELAYAN TERIPANG DI DESA AIR PINANG KABUPATEN SIMEULUE (Putri Laila, 2023)
EFEKTIVITAS MANAJEMEN KELEMBAGAAN PANGLIMA LAOT KABUPATEN SIMEULUE DAN HUBUNGANNYA DENGAN PENGELOLAAN PERIKANAN BERBASIS EAFM (ECOSYSTEM APPROACH TO FISHERIES MANAGEMENT) (Frisca Bella Nazwar, 2018)
STATUS PENGELOLAAN PERIKANAN CAKALANG TERKAIT DENGAN IMPLEMENTASI EAFM PADA DOMAIN SUMBERDAYA IKAN DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA (PPS) KUTARAJA, KOTA BANDA ACEH (Ratna Sari, 2019)