Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
DISSERTATION
MODEL KEARIFAN LOKAL DALAM MEDIASI KONFLIK TANURIAL: KASUS ADAT TANDOK SEPAPAN DALAM MASYARAKAT ACEH TENGGARA
Pengarang
Sunawardi - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Hizir - 196805311993031003 - Dosen Pembimbing I
Rusli Yusuf - 195702101985031004 - Dosen Pembimbing III
Faisal - 195908151987031001 - Penguji
Masrizal - 198404152010121005 - Penguji
Nomor Pokok Mahasiswa
2109300050002
Fakultas & Prodi
Fakultas Pasca Sarjana / Pendidikan IPS (S3) / PDDIKTI : 87001
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Pasca Sarjana., 2025
Bahasa
No Classification
-
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Model kearifan lokal dalam mediasi konflik tanurial khususnya melalui adat Tandok Sepapan masih relevan digunakan dalam masyarakat Alas di Aceh Tenggara. Pendekatan adat dalam memediasi konflik sangatlah penting sebagai alternatif penyelesaian sengketa, karena mampu mengakomodasi nilai-nilai budaya dan tradisi yang telah lama ada. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah adaptasi dan integrasi nilai-nilai kearifan lokal ke dalam konteks modern. Dinamika dan kompleksitas masalah yang muncul dalam masyarakat kontemporer serta ancaman terhadap keberlanjutan praktik mediasi ini memerlukan perhatian serius. Penelitian ini bertujuan menganalisis model mediasi yang berbasis kearifan lokal yang dapat digunakan untuk menyelesaikan konflik tanurial di masyarakat Aceh Tenggara secara efektif dan harmonis. Jenis penelitian ini deskriptif melalui pendekatan kualitatatif yaitu menganalisa dan menyajikan data fakta secara sistematik sehingga dapat lebih mudah dipahami dan disimpulkan. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Aceh Tenggara dan berhubungan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan observasi, wawancara, dan telaah data dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini dengan model interaktif terdiri dari empat tahap, antara lain pengumpulan data, reduksi data, penyajian (display) data, dan penarikan kesimpulan. Hasil temuan diketahui bahwa Model kearifan lokal "Tandok Sepapan" di Aceh Tenggara terbukti efektif sebagai alternatif solusi mediasi konflik tenurial. Proses mediasi yang sistematis dan partisipatif dimulai dengan pengajuan perkara, diikuti dengan investigasi oleh Pengulu dan tim, hingga tercapai penyelesaian yang adil. Keberhasilan model mediasi konflik dipengaruhi oleh legitimasi adat yang diakui negara, peran tokoh adat berpengalaman, dan kekuatan surat kesepakatan perdamaian. Selain itu, penyelesaian konflik berbasis kearifan lokal tetap relevan dan efisien, mengutamakan rekonsiliasi dibandingkan proses formal di pengadilan
Kata kunci: Adat Tandok Sepapan, Legitimasi Adat, Mediasi Konflik Tenurial, Masyarakat Alas, Model Kearifan Lokal
The local wisdom model in tenurial conflict mediation, particularly through the Tandok Sepapan custom, remains relevant in the Alas community of Aceh Tenggara. The customary approach to mediating conflicts is crucial as an alternative dispute resolution, as it accommodates long-standing cultural values and traditions. However, the primary challenge faced is the adaptation and integration of local wisdom values into a modern context. The dynamics and complexities of issues arising in contemporary society, as well as threats to the sustainability of these mediation practices, require serious attention. This study aims to analyze a local wisdom-based mediation model that can be used to effectively and harmoniously resolve tenurial conflicts in the Aceh Tenggara community. This descriptive research employs a qualitative approach, analyzing and systematically presenting factual data for better understanding and conclusion. The research was conducted in Aceh Tenggara District and is directly related to the Leuser Mountain National Park (TNGL). The instruments used in this study include observation, interviews, and document analysis. Data analysis follows an interactive model consisting of four stages: data collection, data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that the local wisdom model "Tandok Sepapan" in Aceh Tenggara is effective as an alternative solution for mediating tenurial conflicts. The systematic and participatory mediation process begins with the submission of the case, followed by an investigation by the Pengulu and team, leading to a fair resolution. The success of the conflict mediation model is influenced by the legitimacy of customary law recognized by the state, the role of experienced customary leaders, and the strength of the peace agreement. Additionally, conflict resolution based on local wisdom remains relevant and efficient, prioritizing reconciliation over formal court processes. Keywords : Tandok Sepapan Custom, Legitimacy of Custom, Tenurial Conflict Mediation, Alas Community, Local Wisdom Model
PERAN SARAK OPAT SEBAGAI MEDIATOR KONFLIK SOSIAL MASYARAKAT DESA BERAWANG DEWAL KECAMATAN JAGONG JEGET KABUPATEN ACEH TENGAH (ARFANDI SYUHADA BARUS, 2024)
KEARIFAN LOKAL GANTI RAYOH SEBAGAI RESOLUSI KONFLIK MASYARAKAT GAYO DI KABUPATEN ACEH TAMIANG (Hidayatul Wahdaniah, 2022)
PERAN LAULU DALAM SISTEM KEKERABATAN PADA MASYARAKAT SIMEULUE BARAT (Maswini, 2021)
PENERAPAN NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT DI ERA GLOBALISASIRN(SUATU PENELITIAN DI DESA LAMPASEH KRUENG KECAMATAN MONTASIK ACEH BESAR) (Dessi Ulandari, 2014)
PERSEPSI MAHASISWA ASAL PAPUA TERHADAP KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT ACEH (STUDI KASUS ETIKA MASYARAKAT DI ACEH) (Yosimin Yikwa, 2020)