SUARA-SUARA YANG HILANG: MENELUSURI JARINGAN PERDAGANGAN DAN JALUR DISTRIBUSI BURUNG KICAU DI PASAR BANDA ACEH | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

SUARA-SUARA YANG HILANG: MENELUSURI JARINGAN PERDAGANGAN DAN JALUR DISTRIBUSI BURUNG KICAU DI PASAR BANDA ACEH


Pengarang

HANIF RAIHAN - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Devi Syafrianti - 198212072006042001 - Dosen Pembimbing I
Abdullah - 197402051999031004 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

2006103010043

Fakultas & Prodi

Fakultas KIP / Pendidikan Biologi (S1) / PDDIKTI : 84205

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas FKIP/S1., 2025

Bahasa

Indonesia

No Classification

333.958

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

ABSTRAK
Hanif Raihan (2024). Suara-Suara Yang Hilang: Menelusuri Jaringan Perdagangan Dan Jalur Distribusi Burung Kicau di Pasar Banda Aceh. [Publikasi Karya Ilmiah. Universitas Syiah Kuala]. Di bawah bimbingan Devi Syafrianti, S.Pd., M.Si. dan Dr Abdullah, M.Si.

Perdagangan burung mengacu pada kegiatan yang terlibat dalam pembelian dan penjualan spesies burung, termasuk penangkapan, pengangkutan, dan distribusi untuk memenuhi permintaan pasar. Proses ini membentuk jaringan distribusi yang kompleks yang menghubungkan pemasok, pedagang dan konsumen, yang sering kali mencakup pasar lokal. Dinamika perdagangan burung dibentuk oleh beberapa faktor seperti ketersediaan spesies, preferensi pasar, peraturan hukum, dan kepedulian terhadap konservasi, yang secara kolektif mempengaruhi pola penawaran dan permintaan. Studi ini mengeksplorasi dinamika perdagangan burung di pasar-pasar di kota Banda Aceh, dengan fokus pada keanekaragaman jenis, status konservasi, asal spesies, dan pola perdagangan. Penelitian ini dilakukan di sembilan kecamatan, yang meliputi 18 pasar burung, dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui pengamatan langsung, survei pasar, dan wawancara terstruktur dengan para pedagang. Identifikasi spesies dilakukan dengan menggunakan panduan Burung-burung di Kepulauan Indonesia, sedangkan status konservasi dievaluasi berdasarkan Daftar Merah IUCN dan Lampiran CITES. Selain itu, perangkat lunak Sistem Informasi Geografis (SIG) digunakan untuk memetakan jalur distribusi perdagangan burung. Hasil penelitian menunjukkan keberadaan 54 spesies burung dengan total 638 individu, sebagian besar dari ordo Passeriformes. Spesies yang paling banyak diperdagangkan adalah Acridotheres javanicus (Javan Myna) dengan jumlah 132 individu, yang mencerminkan tingginya permintaan karena mudah beradaptasi dan harganya yang terjangkau. Analisis konservasi menunjukkan kerentanan spesies seperti Gracula religiosa (Common Hill Myna), yang terdaftar dalam Apendiks II CITES, dan Rubigula dispar (Black-crested Bulbul), yang dikategorikan Rentan. Penelitian ini menyoroti hubungan yang kompleks antara perdagangan burung lokal dan upaya konservasi, serta pentingnya peraturan yang lebih ketat dan peningkatan kesadaran masyarakat untuk melindungi spesies yang terancam punah. Temuan ini memberikan kontribusi penting bagi rekomendasi kebijakan.

Kata kunci: Banda Aceh, Passeriformes, Perdagangan burung.

ABTRACT Hanif Raihan (2024). Vanishing Voices: Tracing the Trade Networks and Distribution Pathways of Songbirds in Banda Aceh Markets. [Scientific Paper Publication. Syiah Kuala University]. Under the guidance of Devi Syafrianti, S.Pd., M.Si. and Dr Abdullah, M.Si. Bird trade refers to the activities involved in the purchase and sale of bird species, including capture, transport, and distribution to fulfil market demand. This process forms a complex distribution network that connects suppliers, traders and consumers, often including local markets. Bird trade dynamics are shaped by factors such as species availability, market preferences, legal regulations and conservation concerns, which collectively influence patterns of supply and demand. This study explored bird trade dynamics in markets in Banda Aceh municipality, focusing on species diversity, conservation status, species origin, and trade patterns. The study was conducted in nine sub-districts, covering 18 bird shops, using a descriptive qualitative approach. Data were collected through direct observation, market surveys, and structured interviews with traders. Species identification was conducted using the Birds of the Indonesian Archipelago guide, while conservation status was evaluated based on the IUCN Red List and CITES Appendices. In addition, Geographic Information System (GIS) software was used to map bird trade distribution routes. The results showed the presence of 54 bird species with a total of 638 individuals, mostly from the Passeriformes order. The most traded species was Acridotheres javanicus (Javan Myna) with 132 individuals, reflecting its high demand due to its adaptability and affordability. Conservation analysis showed the vulnerability of species such as Gracula religiosa (Common Hill Myna), which is listed in CITES Appendix II, and Rubigula dispar (Black-crested Bulbul), which is categorised as Vulnerable. This research highlights the complex relationship between the local bird trade and conservation efforts, and the importance of stricter regulations and increased public awareness to protect threatened species. The findings make an important contribution to policy recommendations. Keywords: Banda Aceh, Passeriformes, Bird trade

Citation



    SERVICES DESK