KARAKTERISTIK PENGERINGAN KERUPUK TEMPE MENGGUNAKAN PENGERING SURYA HIBRID DI DESA NUSA, KECAMATAN LHOKNGA, KABUPATEN ACEH BESAR | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

KARAKTERISTIK PENGERINGAN KERUPUK TEMPE MENGGUNAKAN PENGERING SURYA HIBRID DI DESA NUSA, KECAMATAN LHOKNGA, KABUPATEN ACEH BESAR


Pengarang

Rizky Andhika Putri - Personal Name;

Dosen Pembimbing



Nomor Pokok Mahasiswa

0605106010025

Fakultas & Prodi

Fakultas Ekonomi dan Bisnis / Manajemen Perusahaan (D3) / PDDIKTI : 61405

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Pertanian., 2012

Bahasa

Indonesia

No Classification

664.726

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

RINGKASAN
Kerupuk merupakan sajian yang hampir selalu hadir dalmn hidangan mayarakat Indonesia sehari-hari baik pada acara perayaan kecil maupun besar Makanan ini dibuat dari bahan dasar berbagai macam bahan mulai dari tepung terutama terigu dan tapioka hingga kulit sapi, bumbu-burnbu, bahan tambahan peryedap dan bahan pewarna. Bahan dasar dan bahan tambahan tersebut di atas diaduk rata dan dibuat adonan, kemudian dimasak, selanjutnya adonan dibentuk menurut selera pembuat, dikeringkan di bawah panas matahari dan lemari panas, dan slap untuk dipasarkan.. Komoditi yang sudah kering kemudian digoreng untuk dikonsumsi.
Permasalahan dalam pembuatan kerupuk adalah pengeringan. Kondisi cuaca yang tidak menentu berpengaruh terhadap proses produksi dan pemasaran. Proses pengeringan menjadi semakin lama bila cuaca mendung Serta bila hujan pemasaranpun jadi terhambat lantaran harus menunggu hujan reda Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih maka usaha untuk melestarikan kerupuk sebagai makanm tradisional semakin diperlukan
Metode penelitian diawali dengan pembutan kerupuk tempe. Penjemuran dilakukan dengn menggunakan alat pengering surya hibrid. Pada saat proses pengeringan terjadi, kemudian dilakukan analisis seperti kecepatan udara, distribusi temperatur, distribusi kelembaban relatif, radiasi surya, kapasitas kerja alat, pengukuran laju penurunan kadar air terhadap penurunan berat. Kemudina dilakukan analisis fisik seperti uji organolepoil dan perhitungan Hasil penelitian menunjukkan behwa Hasil pengukuran lecepatan udara pada Percoban pertama tanpa bahan, kecepatan utama pada ruang pengering lebih rendah dibandingkan dengan keceputan udara pada lingkungan. Kecepatan udara tertinggi di ruang pengering sebesa 0,5 ms pada pukul; 14.00 WIB dan terendah 0,2 m/s. Kecepatan udara tertinggi dilingkungan adalah I,1 ms pada pukul 14.00 m/s. WIB dan terendah 0,4 Pada percobaan ke 2 dengan bahna, kecepatan udara dilingkungan tertinggi 2.2 m/s pada pukul 13.30 WIB daa terendah 0,4 m/s pad pukul 12.00 WIB. Pada ruang pengering suhu tertinggi adalah 0,5 m/s pada pukul 09.30 WIB daa suhu terendah adalah 6 m/s.
pada penelitian ketiga, kecepatan udara dilingkungan tertinggi 1,1 m/s dan terendah 0,4 m/s pada pukul 12.30 W1B Pada ruang pengering suhu tertinggi adalah 0,4 m/s dan suhu terendah adalah 0.2 m/s . Suhu rata- rata terendah terdapat pada ruang 6 yaitu 35C pada pukul 12.00 WIB Nilai pengukuran kelembaban relatif pada percobaan pertama tanpa menggunakan bahan adalah 54,2%. 79.84% untuk ventilasi A, 40,6% -79,8% untuk ventilasi . Kelembaban relatif untul lingk umngan adalah 52.6% -56-%. kelembaban relatif percobaan ke 2, pada ventilasi A temperatur berkisar antara 4l%.- 56,%. Ventilasi I memiliki temperatur berkisar antar 53% -86%. Kelembaban relatif (RH) untuk lingkungan sempat stabil yaitu 48,5% pada pukul 10.30-14.00 WIB dan kelembatan relatif (RH) tertinggi adalah 93,1% kelembaban relatif percobaan ke 3 pada ventilasi A dan ventilasi I dan berkisar antar 62,6% - 93,6%. Ventilasi B memilki temperatur berkisar antaar 65,9% -7,7%. Kelembaban relatif (RH) untuk lingkungan yaitu 71,1%-86% Radiasi matahari berfluktuasi. Radiasi tertinggi terdapat pada percobean ke-I, yaitu tahap tanpa bahan sebesar 440 W/m pukul 10.00 WIB dan terendah adaah 60 W/m pada pukul 16.00 WIB. Radiasi matahari tertinggi pada percobaan ke-2 adalah 120 W/m pukul 13,30 WIB dan terendah adalah 110 wen pukul 16,00 W1B Radiasi tertinggi pada percobaan ke 3 adalah 350 W/m w/m pukul 10,10 WIB dan terendah adalah 70 pukul 11,30-12.00 W1B kapasitas alat pemnering surya hibrid adalah 6.8 kg /jam, dengan temperatur tertinggi dalam alat pengering surya hibrid yaitu 76 C dan terendah 33C. Pada percobaan kedua dengan bahan, kadar air tertinggi adalah 56,2% sedangkan kadar air yang terendah yaitu 20.%. Pada percobaan ketiga dengan bahan, lkdar air teringgi terdapat pada rak 6 yaitu sebesar 54,1%. Sedangkan kadar air yang terendah yaitu 19,1%. Berdasarkan hasil ujii yang dilakukan, responden lebih menyukai pengeringan yang dilakulan dengan menggunakan pengering matahani daripada memakai alat pengering surya hibrid. Responden menjelakan bahwa pengeringan dengan mengunakan matahari languang lebih efisien dan murah. kerupuk yang dihasillan lebih cerah dan bersih dibandingkan dengan menggunakan alat Hasil an ekonomi biaya tetap yang dikeluarkan untuk alat pengering surya hybrid berjumlah Rp. 3.000.000, biaya tidkl tetap yang dikeluark.n scema pengeringan berjumah Rp. 3202,38/jam dan Biaya pokok pengeringan yang diperoleh sebesar Rp. 654.7/kg dengan kapasitas pengeringan 6.8 kg/jam

Tidak Tersedia Deskripsi

Citation



    SERVICES DESK