Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
PERANCANGAN GEDUNG PERTUNJUKAN DENGAN GAYA ARSITEKTUR GOTHIC REVIVAL DI BANDA ACEH
Pengarang
Amalia Rachmayanti - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Cut Nursaniah - 196810131999032002 - Dosen Pembimbing I
Zahriah - 196909131997032001 - Dosen Pembimbing II
Muslimsyah - 196109281988101001 - Penguji
Nizarli - 196411271991021001 - Penguji
Nomor Pokok Mahasiswa
2004104010054
Fakultas & Prodi
Fakultas Teknik / Arsitektur (S1) / PDDIKTI : 23201
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Teknik Arsitektur., 2025
Bahasa
Indonesia
No Classification
725.83
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Banda Aceh, ibu kota Provinsi Aceh, memiliki warisan budaya dan seni yang kaya, termasuk seni musik yang terus berkembang. Musik memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat, baik sebagai hiburan, media komunikasi, maupun ekspresi budaya. Perkembangan seni musik terlihat dari peningkatan jumlah sanggar seni, dari 58 pada tahun 2006 menjadi 112 pada tahun 2010, serta beragam genre musik, seperti tradisional Aceh, pop, rock, dangdut, dan hip-hop, yang semakin mendapat tempat dalam pertunjukan.
Namun, fasilitas untuk penyelenggaraan konser di Banda Aceh masih kurang memadai. Banyak tempat pertunjukan tidak dirancang khusus untuk acara musik, sehingga sering kali menghadirkan risiko keselamatan dan kenyamanan.
Pembangunan Gedung Pertunjukan khusus menjadi solusi strategis untuk mendukung penyelenggaraan acara seni yang aman dan berkualitas. Selain memenuhi kebutuhan fasilitas yang memadai, gedung ini dapat memperkuat posisi Banda Aceh sebagai pusat seni, budaya, dan pariwisata yang berpengaruh di Indonesia.
Banda Aceh, the capital city of Aceh Province, boasts a rich cultural and artistic heritage, including a thriving music scene. Music plays a significant role in the lives of its people, serving as entertainment, a means of communication, and a form of cultural expression. The growth of musical arts is evident in the increasing number of music studios, from 58 in 2006 to 112 in 2010, as well as the rise of diverse music genres, such as traditional Acehnese music, pop, rock, dangdut, and hip-hop, which are gaining prominence in performances. However, the facilities for hosting concerts in Banda Aceh remain inadequate. Many venues are not specifically designed for musical events, often posing safety and comfort risks. The construction of a dedicated Performance Hall presents a strategic solution to support the organization of safe and high-quality cultural events. Beyond addressing the need for suitable infrastructure, such a venue would strengthen Banda Aceh’s position as a prominent center for arts, culture, and tourism in Indonesia.
PERANCANGAN SEKOLAH TINGGI ARSITEKTUR DESAIN DAN PERENCANAAN DI BANDA ACEH (zakinaufal, 2020)
PERANCANGAN PUJASERA DI BANDA ACEH (Ratu Fathin Raniya, 2020)
GEDUNG SENI BUDAYA GAYO DI ACEH TENGAH (AUFANISA GEMASIH, 2015)
ACEH UTARA SHOPPING CENTER (Syarif Wahyu Shafarza, 2015)
PUSAT PERTUNJUKAN DAN PENDIDIKAN MUSIK DI BANDA ACEH TEMA : ARSITEKTUR METAFORA (Ria Rizky Ananda, 2017)