AN ANALYSIS OF PERFORMANCE BEGURU IN GAYO TRADITIONAL WEDDING CEREMONY | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

AN ANALYSIS OF PERFORMANCE BEGURU IN GAYO TRADITIONAL WEDDING CEREMONY


Pengarang

Fabila Mah Bengi - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Zulfadli - 197606032006041001 - Dosen Pembimbing I
Dohra Fitrisia - 197908022008122001 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

1906102020005

Fakultas & Prodi

Fakultas KIP / Pendidikan Bahasa Inggris (S1) / PDDIKTI : 88203

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas KIP Pendidikan Bahasa Inggris., 2024

Bahasa

Indonesia

No Classification

203.85

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Fabila Mah Bengi. (2024) Analisis Pertunjukan Beguru dalam Upacara Perkawinan Adat Gayo. Banda Aceh. [Undegraduate Thesis. Universitas Syiah Kuala]. Di bawah bimbingan Prof. Zulfadli A. Aziz, S,Pd., M.A dan Dr. Dohra Fitrisia, S.Pd., M.Ed.

Penelitian kualitatif deskriptif ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan pelaksanaan adat beguru dan mengevaluasi nilai-nilai yang terdapat dalam beguru. Data dalam penelitian ini diperoleh dari hasil wawancara dengan Ketua Majelis Adat Gayo, satu orang tokoh masyarakat, dan satu orang anggota masyarakat terkait. Data penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertunjukan beguru dalam upacara pernikahan adat Gayo merupakan sebuah pertunjukan yang kompleks yang terdiri dari tiga elemen utama: teks, ko-teks, dan konteks. Hal ini melibatkan penggunaan bahasa Gayo yang halus untuk memberikan nasihat oleh para tetua yang dihormati, penggabungan benda-benda simbolis (seperti petawaren, dedıngin, dan celala), dan prosesi yang terstruktur termasuk tunduk pada Sarak Opat, doa-doa, dan ritual pemberkatan. Upacara ini merupakan bagian integral dan wajib dalam pernikahan Gayo, yang menunjukkan kesinambungan budaya sambil beradaptasi dengan keadaan modern melalui waktu yang fleksibel. Nilai-nilai yang terkandung dalam beguru mewujudkan seperangkat nilai yang kaya, yang berfungsi sebagai jembatan antara adat istiadat Gayo dan ajaran Islam. Nilai-nilai tersebut mencakup aspek agama, adat, sosial, etika, pendidikan, dan moral. Nilai utamanya adalah pelestarian hukum Islam melalui praktik-praktik adat, yang diekspresikan dalam konsep “edet mumegeri hukum” (adat menjaga hukum). Selain itu, upacara beguru mentransfer pengetahuan terutama kepada kedua mempelai, dengan pelajaran tidak langsung untuk anggota keluarga yang lebih muda dan masyarakat. Pengetahuan ini mencakup nilai-nilai moral, seperti kerendahan hati, kesabaran, kejujuran, dan saling menghormati, yang memandu pasangan dalam membina hubungan yang harmonis dan pertumbuhan pribadi. Secara budaya, beguru melestarikan tradisi Gayo melalui bahasa metafora (Melengkan), ritual simbolis seperti petawaren dan dedingin, dan penghormatan terhadap lembaga adat seperti Sarak Opat, yang memastikan kelangsungan identitas komunal. Secara spiritual, upacara ini selaras dengan ajaran Islam, yang menekankan pernikahan sebagai perjanjian ilahi, mempromosikan keimanan, doa, dan ketergantungan kepada Allah SWT untuk mendapatkan berkah dan rezeki.

Kata kunci: Pertunjukan, Beguru, Upacara Pernikahan Tradisional.

Fabila Mah Bengi. (2024) An Analysis of Performance Beguru in Gayo Traditional Wedding Ceremony. Banda Aceh. [Undegraduate Thesis. Universitas Syiah Kuala]. Under the supervision Prof. Dr. Zulfadli A. Aziz, S,Pd., M.A and Dr. Dohra Fitrisia, S.Pd., M.Ed. This descriptive qualitative research aims to analyze and describe the performance of the beguru custom and evaluate the values found in beguru. The data in this study were obtained from interviews with the Head of the Majelis Adat Gayo, one community leader, and one related community member. The data of this research were collected by using observation and interview. The results showed that performance of beguru in Gayo traditional wedding ceremony is a complex performance comprising three main elements: text, co-text, and context. It involves the use of subtle Gayo language for advice-giving by respected elders, incorporation of symbolic objects (such as petawaren, dedıngin, and celala), and a structured procession including submission to Sarak Opat, prayers, and blessing rituals. The ceremony is an integral, mandatory part of Gayo weddings, demonstrating cultural continuity while adapting to modern circumstances through flexible timing. The values contained in the beguru embodies a rich set of values, serving as a bridge between Gayo customs and Islamic teachings. It encompasses religious, customary, social, ethical, educational, and moral aspects. The primary value is the preservation of Islamic law through customary practices, expressed in the concept of "edet mumegeri hukum" (custom guarding the law). Additionally, The beguru ceremony transfers knowledge primarily to the bride and groom, with indirect lessons for younger family members and the community. This knowledge encompasses moral values, such as humility, patience, honesty, and mutual respect, which guide the couple in fostering harmonious relationships and personal growth. Culturally, beguru preserves Gayo traditions through metaphorical language (Melengkan), symbolic rituals like petawaren and dedingin, and respect for traditional institutions like Sarak Opat, ensuring the continuity of communal identity. Spiritually, the ceremony aligns with Islamic teachings, emphasizing marriage as a divine covenant, promoting faith, prayers, and reliance on Allah SWT for blessings and sustenance. Keywords: Performance, Beguru, Traditional Wedding Ceremony.

Citation



    SERVICES DESK