Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
PELAKSANAAN TUGAS WALI NANGGROE DALAM PEMBINAAN LEMBAGA ADAT DI ACEH (SUATU PENELITIAN PADA LEMBAGA ADAT PANGLIMA LAOT)
Pengarang
TEUKU RIFFAT AHMAD SYAFIQ - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Andri Kurniawan - 198105022006041002 - Dosen Pembimbing I
Nomor Pokok Mahasiswa
2003101010321
Fakultas & Prodi
Fakultas Hukum / Ilmu Hukum (S1) / PDDIKTI : 74201
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Hukum., 2024
Bahasa
No Classification
-
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Pasal 39 huruf f Qanun Aceh Nomor 2 Tahun 2023 tentang Wali Nanggroe mengamanatkan kepada Wali Nanggroe untuk melakukan pembinaan terhadap lembaga keistimewaan dan kekhususan Aceh seperti lembaga-lembaga
adat di Aceh, namun pada faktanya, masih banyak terdapat lembaga-lembaga adat di Aceh yang belum dilaksanakan pembinaan dengan maksimal, seperti pada lembaga adat panglima laot di Aceh. Wali Nanggroe belum melaksanakan
pembinaan secara komprehensif kepada setiap lembaga adat di Aceh sebagaimana amanat dari peraturan perundang-undangan tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan tugas danfungsi Wali Nanggroe dalam pembinaan lembaga adat di Aceh dan untukmengetahui hambatan dan solusi dari Wali Nanggroe dalam pembinaanlembaga adat di Aceh.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian Yuridis Empiris. Data pada penelitian ini didapatkan dari wawancara yang dilakukan terhadap responden dan informan, yaitu Kepala Bagian Hukum dan Persidangan Keurukon Katibul Wali
dan Wakil Ketua Mejelis Adat Aceh.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Wali Nanggroe Aceh belum optimal melakukan pembinaan terhadap lembaga adat Panglima Laot di Aceh. Hal ini disebabkan oleh belum adanya peraturan pelaksana yang mengatur tentang tata cara pembinaan secara komprehensif dan belum adanya sinergitas yang terstruktur antara Wali Nanggroe dengan Majelis Adat Aceh. Dalam pelaksanaanya, Wali Nanggroe mempunyai hambatan-hambatan berupa tidak adanya peraturan Wali
Nanggroe yang mengatur mengenai pembinaan terhadap lembaga-lembaga adat, alokasi anggaran yang tidak efektif, tidak terbentuk hubungan koordinasi yang terstruktur antara Lembaga Wali Nanggroe dengan Majelis Adat Aceh dan
inkompetensi sumber daya mansuia, seharusnya bisa diatasi dengan beberapa solusi seperti pembentukan peraturan pelaksana tentang tata cara pembinaan secara komprehensif dan reformasi kelembagaan.
Oleh karena itu, disarankan kepada Wali Nanggroe untuk segera membentuk Peraturan Wali Nanggroe yang mengatur tata cara pembinaan secara komprehensif dan mengatur ulang sistem koordinasi antara Wali Nanggroe dengan Majelis Adat Aceh dalam melaksanakan pembinaan terhadap lembaga adat Panglima Laot. Wali Nanggroe juga harus bersikap tegas terhadap semua stakeholder yang terlibat dalam pembinaan lembaga adat dengan menerbitkan sebuah kebijakan yang berimplikasi positif terhadap pembinaan lembaga adat Panglima Laot di Aceh.
Article 39 letter f of Aceh Qanun Number 2 of 2023 concerning Wali Nanggroe mandates Wali Nanggroe to provide guidance to Aceh's specialty and specificity institutions such as traditional institutions in Aceh, but in fact, there are still many traditional institutions in Aceh that have not been implemented optimally, such as the traditional institution of panglima laot in Aceh. However, in fact, there are still many customary institutions in Aceh that have not been maximally fostered, such as the panglima laot customary institution in Aceh. Wali Nanggroe has not implemented comprehensive guidance to each customary institution in Aceh as mandated by the legislation. This study aims to determine the implementation of the duties and functions of Wali Nanggroe in fostering traditional institutions in Aceh and to find out the obstacles and solutions of Wali Nanggroe in fostering traditional institutions in Aceh. This research uses the Empirical Juridical research method. The data in this study were obtained from interviews conducted with respondents and informants, namely the Head of the Legal and Trial Section of Keurukon Katibul Wali and the Deputy Chairman of the Aceh Customary Council. and Deputy Chairman of the Aceh Customary Council. The results of this study indicate that Wali Nanggroe Aceh has not optimally provided guidance to the Panglima Laot customary institution in Aceh. This is due to the absence of implementing regulations that regulate the procedures for comprehensive guidance and the absence of structured synergy between Wali Nanggroe and the Aceh Customary Council. In its implementation, Wali Nanggroe has obstacles in the form of the absence of Wali Nanggroe regulations governing the guidance of Panglima Laot in Aceh. Nanggroe regulations governing the guidance of customary institutions, ineffective budget allocations, the absence of a structured coordination relationship between the Wali Nanggroe Institution and the Aceh Customary Council and the incompetence of mansu resources. incompetence of human resources, should be overcome with several solutions such as the establishment of implementing regulations on comprehensive guidance procedures and institutional reform; these should be addressed by the Wali Nanggroe Institution. Therefore, it is recommended for Wali Nanggroe to immediately form a Wali Nanggroe Regulation that regulates the procedures for comprehensive guidance and reorganize the coordination system between Wali Nanggroe and the Aceh Customary Council in implementing guidance to the Panglima Laot customary institution. Wali Nanggroe must also be firm towards all stakeholders involved in the development of customary institutions by issuing a policy that has positive implications for the development of Panglima Laot customary institutions in Aceh.
PERSEPSI TOKOH ADAT KOTA SUBULUSSALAM TERHADAP PEMBENTUKAN LEMBAGA WALI NANGGROE (ahmad afandi sambo, 2015)
STUDI KOMPARASI PERAN MAJELIS ADAT ACEH DENGAN LEMBAGA WALI NANGGROE (winda zulkarnaini, 2015)
PERANAN PANGLIMA LAOT LHOK DALAM KEGIATAN PERIKANAN MASYARAKAT NELAYAN DI KECAMATAN TRUMON KABUPATEN ACEH SELATAN (Syiha Bunardi, 2014)
PRO DAN KONTRA LEMBAGA WALI NANGGROE DALAM PERSPEKTIF TOKOH MASYARAKAT DI KABUPATEN ACEH TENGAH (Rahmadsyah, 2016)
PERAN PANGLIMA LAOT LHÔK UJONG SERANGGA DALAM PENGELOLAAN PERIKANAN HIU LAUT DALAM DI KABUPATEN ACEH BARAT DAYA (Rada Febriyanti, 2025)