KEANEKARAGAMAN SEMUT (HYMENOPTERA: FORMICIDAE) PADA PERMUKAAN TANAH DI PERKEBUNAN KOPI ARABIKA DENGAN KERAPATAN POHON PENAUNG BERBEDA | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

KEANEKARAGAMAN SEMUT (HYMENOPTERA: FORMICIDAE) PADA PERMUKAAN TANAH DI PERKEBUNAN KOPI ARABIKA DENGAN KERAPATAN POHON PENAUNG BERBEDA


Pengarang

Fachran Ramadhan Aila - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Jauharlina - 196309231988032010 - Dosen Pembimbing I
Sapdi - 196411151993031003 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

2005109010010

Fakultas & Prodi

Fakultas Pertanian / Proteksi Tanaman (S1) / PDDIKTI : 54295

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Pertanian., 2024

Bahasa

Indonesia

No Classification

633.73

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Indonesia adalah produsen kopi terbesar ketiga di dunia setelah Brazil dan Vietnam, dengan kopi arabika (Coffea arabica) sebagai jenis kopi unggulan yang banyak dibudidayakan. Kabupaten Aceh Tengah Provinsi Aceh adalah salah satu daerah penghasil kopi arabika terluas di Indonesia dengan luas perkebunan mencapai 49.997 Ha dan produktivitas 815 kg/Ha pada tahun 2022. Budidaya tanaman kopi tidak terlepas dari peran serangga, terutama semut yang dominan pada perkebunan kopi arabika di Aceh Tengah. Semut berperan dalam penguraian bahan organik, penyerbukan dan sebagai predator hama, serta menjaga keseimbangan ekosistem. Keberadaan pohon penaung merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk melindungi semut, meningkatkan fungsi ekosistem tanaman kopi dan kualitas kopi yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman semut di permukaan tanah pada perkebunan kopi arabika dengan kerapatan pohon penaung yang berbeda di Kabupaten Aceh Tengah.
Penelitian ini dilakukan pada dua lahan perkebunan kopi organik di Kabupaten Aceh Tengah, yang terdiri dalam dua kategori tingkat kerapatan pohon penaung. Kebun kopi yang berpenaung jarang di Desa Lelabu dan kebun kopi berpenaung rapat di Desa Atang Jungket. Kategori penaung ditentukan dari jumlah pohon penaung dalam luasan plot sampel yaitu 35 m x 35 m, bila terdapat 35 pohon penaung atau lebih maka dikatakan rapat sedangkan bila kurang dari 35 pohon penaung maka dikategorikan jarang. Tanaman sampel yang diamati pada masing-masing lahan sebanyak 40 tanaman yang dipilih secara zig zag yang diambil dari empat sub plot dengan luas 12 m x 12 m, di dalam satu sub plot dibagi menjadi dua bagian, dimana setiap bagian diambil sebanyak 5 tanaman sampel. Setiap tanaman sampel diambil satu titik dengan jarak 25 cm dari pangkal batang tanaman sampel. Serasah pada setiap tanaman sampel diambil dengan ukuran 20 cm x 20 cm dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam kantong plastik. Selanjutnya tanah yang berada di bawah serasah diambil hingga kedalaman 5 cm dan dimasukkan ke dalam kantong plastik yang sama untuk dibawa ke Laboratorium Pengendalian Hayati, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala. Pengamatan sampel semut pada serasah dan tanah diambil menggunakan pinset dan dimasukkan ke dalam botol sampel berisi alkohol 70%.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa, kelimpahan semut permukaan tanah pada kebun kopi berpenaung rapat berbeda nyata dengan kelimpahan semut pada kebun kopi berpenaung jarang. Pada kebun kopi berpenaung rapat ditemukan 16 spesies semut dengan total sejumlah 1.160 individu sedangkan pada kebun kopi berpenaung jarang dijumpai 13 spesies semut dengan total 441 individu. Kelimpahan dan keanekaragaman semut permukaan tanah lebih tinggi pada kebun kopi berpenaung rapat dibandingkan dengan kebun kopi berpenaung jarang. Spesies Camponotus sp. merupakan semut yang paling dominan pada perkebunan kopi berpenaung rapat, sedangkan pada perkebunan kopi berpenaung jarang Hypoponera sp 1 merupakan semut yang paling dominan. Keanekaragaman semut permukaan tanah yang relatif tinggi pada perkebunan kebun kopi berpenaung rapat diduga dipengaruhi oleh faktor fisik seperti suhu, kelembaban, ketebalan serasah, dan ketersediaan inang, terutama bagi spesies semut yang berperan sebagai predator bagi hama Penggerek Batang Kopi. Berdasarkan penelitian ini, keanekaragaman spesies semut lebih rendah pada kondisi perkebunan kopi arabika dengan pohon penaung jarang, sebaliknya pada kondisi perkebunan dengan pohon penaung rapat maka keanekaragaman spesies semut lebih tinggi.

Indonesia is the third largest coffee producer in the world after Brazil and Vietnam, with Arabica coffee (Coffea arabica) as the superior type of coffee that is widely cultivated. Central Aceh Regency, Aceh Province is one of the largest Arabica coffee producing areas in Indonesia with a plantation area reaching 49,997 Ha and a productivity of 815 kg/Ha in 2022. Coffee plant cultivation cannot be separated from the role of insects, especially ants which are dominant in Arabica coffee plantations in Central Aceh. Ants play a role in the decomposition of organic matter, pollination and as pest predators, as well as maintaining ecosystem balance. The existence of shade trees is an effort that can be made to protect ants, improve the function of the coffee plant ecosystem and the quality of the coffee produced. This study aims to determine the diversity of ants on the soil surface in Arabica coffee plantations with different shade tree densities in Central Aceh Regency. This study was conducted on two organic coffee plantations in Central Aceh Regency, which consist of two categories of shade tree density levels. A coffee plantation with sparse shade in Lelabu Village and a coffee plantation with dense shade in Atang Jungket Village. The shade category is determined from the number of shade trees in the sample plot area of ​​35 m x 35 m, if there are 35 shade trees or more then it is said to be dense while if there are less than 35 shade trees then it is categorized as sparse. The sample plants observed in each land were 40 plants selected in a zigzag manner taken from four subplots with an area of ​​12 m x 12 m, in one subplot divided into two parts, where each part was taken as many as 5 sample plants. Each sample plant was taken at one point with a distance of 25 cm from the base of the stem of the sample plant. The litter on each sample plant was taken with a size of 20 cm x 20 cm, collected and put into a plastic bag. Furthermore, the soil under the litter was taken to a depth of 5 cm and put into the same plastic bag to be taken to the Biological Control Laboratory, Faculty of Agriculture, Syiah Kuala University. Observations of ant samples on litter and soil were taken using tweezers and put into a sample bottle containing 70% alcohol. The results of the observation showed that the abundance of ground ants in densely shaded coffee plantations was significantly different from the abundance of ants in sparsely shaded coffee plantations. In densely shaded coffee plantations, 16 ant species were found with a total of 1,160 individuals, while in sparsely shaded coffee plantations, 13 ant species were found with a total of 441 individuals. The abundance and diversity of ground ants were higher in densely shaded coffee plantations compared to sparsely shaded coffee plantations. The Camponotus sp. species is the most dominant ant in densely shaded coffee plantations, while in sparsely shaded coffee plantations Hypoponera sp. 1 is the most dominant ant. The relatively high diversity of ground ants in densely shaded coffee plantations is thought to be influenced by physical factors such as temperature, humidity, litter thickness, and host availability, especially for ant species that act as predators for Coffee Stem Borer pests. Based on this study, the diversity of ant species is lower in conditions of Arabica coffee plantations with sparsely shaded trees, conversely in conditions of plantations with densely shaded trees, the diversity of ant species is higher.

Citation



    SERVICES DESK