ANALISIS KEBERLANJUTAN USAHATANI NILAM DI KECAMATAN LHOONG KABUPATEN ACEH BESAR | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

ANALISIS KEBERLANJUTAN USAHATANI NILAM DI KECAMATAN LHOONG KABUPATEN ACEH BESAR


Pengarang

Sadira Sahla - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Indra - 196309071990021001 - Dosen Pembimbing I
Edy Marsudi - 196305241990031002 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

2005102010018

Fakultas & Prodi

Fakultas Pertanian / Agribisnis (S1) / PDDIKTI : 54201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Pertanian Agribisnis (S1)., 2024

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Nilam Aceh adalah komoditas unggulan internasional berkualitas tinggi dengan konsentrasi Patchouli alcohol di atas 30%, rendemen minyak 2,5-5,0%, dan aroma khas yang unik. Aceh memiliki lima kabupaten sentra produksi utama nilam, termasuk Kecamatan Lhoong di Aceh Besar, yang meskipun luas areal tanamnya hanya 28,5 hektar pada tahun 2020, mampu mencapai produktivitas 181 kg/ha. Namun, industri nilam Aceh mengalami penurunan signifikan sejak puncak produksinya dengan 811 ton pada 1990-an yang kini rata-rata hanya menghasilkan 2 ton/ha daun kering per tahun. Penyebabnya termasuk metode budidaya tradisional, rendahnya unsur hara tanah, serta kurangnya teknologi modern. Selain itu, banyak petani yang beralih ke tanaman lain seperti padi karena budidaya nilam dianggap kurang menguntungkan. Untuk mengatasi tantangan ini, beberapa desa di Lhoong telah dijadikan desa binaan oleh Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala guna meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan melalui pendampingan dan teknologi. Sangat diperlukan pendekatan agribisnis yang komprehensif terkait dimensi ekologi, ekonomi, sosial, teknologi, dan kelembagaan guna menjaga keberlanjutan usahatani nilam. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui status keberlanjutan usahatani nilam di Kecamatan Lhoong dilihat dari dimensi ekonomi, sosial, ekologi, teknologi, dan kelembagaan serta menganalisis sensitifitas atribut yang mempengaruhi keberlanjutan usahatani nilam di Kecamatan Lhoong.
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Lhoong pada bulan Mei-Agustus 2024. Dalam penelitian ini, teknik pengambilan sampel yang digunakan ialah teknik quota sampling yang merupakan teknik untuk menentukan sampel dari suatu populasi dengan memberikan kuota tertentu di setiap kelompoknya sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Pada penelitian ini, kriteria responden yang diambil adalah petani nilam di Kecamatan Lhoong yang telah produksi minimal 1 kali. Responden dalam penelitian ini berjumlah 30 orang petani nilam. Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer yang diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner dan data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh. Analisis data pada penelitian ini yaitu analisis deskriptif kualitatif kuantitatif. Metode analisis yang digunakan adalah Multidimensional Scaling (MDS) dengan pendekatan Rap-Pa (The Rapid Appraisal of The Status of Patchouli) menggunakan software Rapfish yang hasilnya dinyatakan dalam bentuk indeks keberlanjutan dan status keberlanjutan. Kemudian juga digunakan analisis Leverage dan Monte Carlo untuk mengetahui atribut-atribut yang sensitif terhadap indeks dan status keberlanjutan usahatani nilam.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai dimensi ekonomi 86,27 (status berkelanjutan), ekologi 75,38 (status berkelanjutan), kelembagaan 71,57 (status cukup berkelanjutan), teknologi 70,47 (status cukup berkelanjutan), dan sosial 56,09 (status cukup berkelanjutan). Dari 38 atribut yang digunakan dalam kelima dimensi keberlanjutan usahatani nilam, terdapat 18 atribut sensitif yang perlu diperbaiki atau diintervensi agar meningkatkan indeks dan status keberlanjutan.

Aceh Patchouli is a high-quality international commodity, renowned for its unique aroma, with a Patchouli alcohol concentration above 30% and an oil yield ranging from 2.5% to 5.0%. Aceh is home to five key production districts, including Lhoong District in Aceh Besar. Despite having only 28.5 hectares of cultivated area in 2020, Lhoong achieved a productivity level of 181 kg/ha. However, the Aceh patchouli industry has seen a significant decline since its peak production of 811 tons in the 1990s, now averaging just 2 tons/ha of dried leaves annually. This decline can be attributed to traditional farming methods, low soil nutrient levels, and the lack of modern technology. Moreover, many farmers have shifted to other crops such as rice, perceiving patchouli cultivation as less profitable. To address these challenges, several villages in Lhoong have been designated as foster villages by the Atsiri Research Center at Syiah Kuala University, with the goal of improving productivity and sustainability through mentorship and technological advancements. A comprehensive agribusiness approach encompassing ecological, economic, social, technological, and institutional dimensions is essential to ensuring the sustainability of patchouli farming. This research aims to assess the sustainability status of patchouli farming in Lhoong District by analyzing the economic, social, ecological, technological, and institutional dimensions, as well as identifying the sensitivity of the attributes affecting the sustainability of patchouli farming in the area. The study was conducted in Lhoong District from May to August 2024. The sampling technique used was quota sampling, which involves selecting a sample from the population by assigning a quota to each group according to predetermined criteria. In this study, the respondents were patchouli farmers in Lhoong District who had produced at least once. A total of 30 patchouli farmers were interviewed. The data used in this research consisted of primary data collected through questionnaires and interviews, as well as secondary data obtained from the Aceh Provincial Statistics Agency (BPS). Data analysis was performed using descriptive qualitative and quantitative methods. The analytical method employed was Multidimensional Scaling (MDS) with the Rap-Pa (The Rapid Appraisal of the Status of Patchouli) approach using Rapfish software, which presented the results in the form of sustainability indices and status. Additionally, Leverage and Monte Carlo analyses were used to identify the attributes most sensitive to the sustainability indices and status of patchouli farming. The results showed that the economic dimension had a sustainability score of 86.27 (sustainable), the ecological dimension scored 75.38 (sustainable), the institutional dimension scored 71.57 (moderately sustainable), the technological dimension scored 70.47 (moderately sustainable), and the social dimension scored 56.09 (moderately sustainable). Out of 38 attributes used across the five sustainability dimensions, 18 sensitive attributes were identified as needing improvement or intervention to enhance the sustainability index and status of patchouli farming.

Citation



    SERVICES DESK