PERANCANGAN MUSEUM GASTRONOMI ACEH DI BANDA ACEH | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

PERANCANGAN MUSEUM GASTRONOMI ACEH DI BANDA ACEH


Pengarang

Futry rayhany - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Mirza - 196212161991021001 - Dosen Pembimbing I
Muslimsyah - 196109281988101001 - Dosen Pembimbing I



Nomor Pokok Mahasiswa

2004104010117

Fakultas & Prodi

Fakultas Teknik / Arsitektur (S1) / PDDIKTI : 23201

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Teknik Arsitektur., 2024

Bahasa

Indonesia

No Classification

727.6

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Aceh memiliki keanekaragaman gastronomi yang cukup kaya, banyaknya suku yang mendiaminya, antara lain Aceh, Alas, Gayo, Aneuk Jamee, Kluet, Singkil, dan Tamiang. Aceh memiliki beragam bahan mentah unik yang sulit didapat di tempat lain, seperti ikan depik. Masakan Aceh tetap menampilkan ciri khas masakan Indonesia dari segi ragam bumbunya, hal ini tidak dapat dipisahkan dari peristiwa sejarah, karena Aceh dulunya merupakan titik perhentian utama jalur perdagangan rempah-rempah dunia.
Kehadiran Museum Kuliner Aceh yang kontemporer dan menjadi salah satu landmark baru kota Banda Aceh, yang dapat menyajikan berbagai jenis kuliner dan rempah-rempah, maka sangat penting untuk merencanakan dan merancang sebuah bangunan yang dapat mewadahi seluruh kuliner tradisonal Aceh.
Provinsi Aceh menjadi salah satu tempat yang sangat menarik untuk dikunjungi karena kuatnya tradisi budaya Islam dan kepercayaan yang masih dianut hingga saat ini. Namun, rahasia makna simbol budaya Aceh dalam kehidupan sehari-hari tidak diketahui semua orang karena sifatnya yang tertutup dan sering diabaikan dalam kehidupan sehari-hari, dengan mengangkat tema "Arsitektur Simbolisme" dapat menginformasikan arsitektur museum gastronomi yang memiliki beranekaragam kuliner dan rempah-rempah di Aceh. Penggabungan konsep ini ke dalam perancangannya bertujuan untuk meningkatkan persepsi Museum Gastronomi sebagai wahana atau sarana pemajuan dan pelestarian kuliner, serta menonjolkan suasana daerah melalui simbol-simbol sebagai ciri khas.
Kata Kunci : Museum, Gastronomi, Kuliner, Rempah-rempah, Arsitektur Simbolisme

Aceh has a fairly rich gastronomic diversity, many tribes inhabit it, including Aceh, Alas, Gayo, Aneuk Jamee, Kluet, Singkil, and Tamiang. Aceh has a variety of unique raw materials that are difficult to find elsewhere, such as depik fish. Acehnese cuisine still displays the characteristics of Indonesian cuisine in terms of the variety of spices, this cannot be separated from historical events, because Aceh used to be a major stopping point for the world's spice trade route. The presence of the contemporary Aceh Culinary Museum and becoming one of the new landmarks of the city of Banda Aceh, which can present various types of culinary and spices, it is very important to plan and design a building that can accommodate all traditional Acehnese cuisine. Aceh Province is one of the most interesting places to visit because of the strong Islamic cultural traditions and beliefs that are still adhered to today. However, the secret meaning of Acehnese cultural symbols in everyday life is not known to everyone because of its closed nature and is often ignored in everyday life, by raising the theme of "Architecture of Symbolism" it can inform the architecture of the gastronomy museum which has a variety of culinary and spices in Aceh. The incorporation of this concept into its design aims to increase the perception of the Gastronomy Museum as a vehicle or means of advancing and preserving culinary, as well as highlighting the regional atmosphere through symbols as characteristics. Keywords: Symbolism Architecture, Gastronomy, Culinary, Museum, Spices

Citation



    SERVICES DESK