PERANCANGAN BATIK NUSANTARA MENGGUNAKAN METODE CONJOINT ANALYSIS | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

PERANCANGAN BATIK NUSANTARA MENGGUNAKAN METODE CONJOINT ANALYSIS


Pengarang

FARHAN DAFFA MIZSRIPUTRA - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Sarika Zuhri - 198908142019032019 - Dosen Pembimbing I
Ilyas - 196302061991021001 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

2004106010063

Fakultas & Prodi

Fakultas Teknik / Teknik Industri (S1) / PDDIKTI : 26201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Teknik (S1)., 2024

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Batik adalah seni dan kerajinan kain asal Indonesia yang memanfaatkan lilin untuk menciptakan motif yang menarik, setiap motif yang terbentuk memiliki makna dan filosofi tersendiri. Penggunaan batik di Indonesia telah menjadi tradisi yang tampak dalam kehidupan sehari-hari. Motif batik di Indonesia sendiri terdapat kurang lebih sebanyak 5.800 jenis motif yang tersebar di seluruh nusantara. Banyaknya batik asal Jawa yang diminati masyarakat, serta belum adanya batik yang terdiri dari keberagaman motif dari berbagai daerah. Oleh karena itu agar keberagaman motif batik di Indonesia tetap terjaga dan tidak punah, maka dirancanglah motif nusantara yang diciptakan dengan menggabungkan motif-motif populer dari berbagai pulau di Indonesia, namun tetap dengan memperhatikan preferensi konsumen. Metode yang digunakan untuk menganalisis preferensi konsumen dalam desain batik nusantara adalah conjoint analysis. Populasi responden yang digunakan dalam penelitian adalah masyarakat yang berasal dari berbagai pulau besar di Indonesia dengan kriteria pernah menggunakan batik. Penelitian ini menggunakan 6 atribut, yaitu warna dasar, bahan kain, motif asal Sumatera, motif asal Jawa, motif asal Kalimantan dan Nusa Tenggara, serta motif asal Sulawesi dan Papua. Pada setiap atribut masing-masing memiliki 5 level, yang akan dieliminasi berdasarkan preferensi konsumen untuk menciptakan kartu kombinasi tiap atribut. Atribut yang paling dipertimbangkan dalam pemilihan batik nusantara adalah atribut motif batik Kalimantan dan Nusa Tenggara dengan nilai sebesar 18,368%, sebaliknya atribut bahan kain menjadi atribut terakhir dari dengan nilai sebesar 15,543%. Berdasarkan 18 kartu kombinasi yang telah dibuat, terdapat satu rancangan dengan nilai utilitas tertinggi yang paling diminati oleh responden yaitu, kartu kombinasi ketujuh dengan nilai utilitas sebesar 0,386.

Batik is an art and craft of fabric originating from Indonesia that uses wax to create attractive patterns, each of which carries its own meaning and philosophy. The use of batik in Indonesia has become a tradition that is visible in daily life. There are approximately 5,800 different batik patterns spread throughout the archipelago. While many people favor Javanese batik, there is a lack of batik that represents the diversity of motifs from various regions. To preserve the rich diversity of batik patterns in Indonesia and prevent them from fading away, a Nusantara motif was designed by combining popular patterns from various islands in Indonesia while considering consumer preferences. The method used to analyze consumer preferences in the design of Nusantara batik is conjoint analysis. The respondent population for the study consisted of people from various major islands in Indonesia who have previously worn batik. This study employed six attributes: base color, fabric material, motif from Sumatra, motif from Java, motif from Kalimantan and Nusa Tenggara, and motif from Sulawesi and Papua. Each attribute had five levels, which were eliminated based on consumer preferences to create combination cards for each attribute. The most considered attribute in choosing Nusantara batik was the Kalimantan and Nusa Tenggara motif attribute with a value of 18.368%, while the fabric material attribute was the least considered with a value of 15.543%. Among the 18 combination cards created, the design with the highest utility value, which was most preferred by the respondents, was the seventh combination card with a utility value of 0.386.

Citation



    SERVICES DESK