APLIKASI TOPOGRAPHIC POSITION INDEX UNTUK INTERPRETASI BENTUK LAHAN BERDASARKAN DIGITAL ELEVATION MODEL DI KOTA BUKITTINGGI | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

APLIKASI TOPOGRAPHIC POSITION INDEX UNTUK INTERPRETASI BENTUK LAHAN BERDASARKAN DIGITAL ELEVATION MODEL DI KOTA BUKITTINGGI


Pengarang

M. Radhi Naufal - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Muhammad Rusdi - 197704012006041001 - Dosen Pembimbing I
Yulia Dewi Fazlina - 198607192015042002 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

2005108010031

Fakultas & Prodi

Fakultas Pertanian / Ilmu Tanah (S1) / PDDIKTI : 54294

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas pertanian Ilmu Tanah., 2024

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Informasi mengenai sebaran kelas bentuk lahan pada suatu wilayah merupakan hal yang penting untuk diketahui terutama untuk menentukan arah pengembangan wilayah sesuai dengan bentuk lahan itu sendiri. Informasi mengenai sebaran kelas bentuk lahan di Kota Bukittinggi umumnya belum tersedia secara keseluruhan, dan membutuhkan waktu, biaya dan tenaga yang cukup tinggi dalam memperolehnya. Maka dari itu dilakukan penelitian dalam menentukan kelas bentuk lahan menggunakan metode topographic position index dengan menggunakan data digital elevation model yang diharapkan mampu mengkelaskan bentuk lahan tanpa memerlukan waktu lama, dan biaya yang tinggi pada suatu wilayah.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan analisis deskriptif kuantitatif. Tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini dimulai dengan pengumpulan data berupa data DEM dan data administrasi Kota Bukittinggi, dilanjutkan dengan analisis data spasial yaitu focal statistic dan minus, sehingga diperoleh hasil topographic position index yang menampilkan kelas bentuk lahan berdasarkan nilai ketinggian wilayah yang digunakan. Penentuan jumlah kelas bentuk lahan menggunakan standar deviasi dan penentuan batas kelas bentuk lahan dengan menghitung panjang interval. Dilanjutkan dengan uji akurasi confusion matrix untuk memperoleh kebenaran penggunaan metode topographic position index dalam mengkelaskan bentuk lahan di Kota Bukittinggi.
Hasil penelitian menggunakan metode topographic position index diperoleh elemen bentuk lahan Kota Bukittinggi yaitu kelas lembah dan sungai seluas 83,12 ha, dataran tinggi A seluas 1.818,70 ha, tebing seluas 118,02 ha, dataran tinggi B seluas 251,04 ha, dan lereng seluas 146,40 ha. Kelas bentuk lahan alluvial sebesar 83,12 ha dan kelas vulkanik sebesar 2.334,15 ha. Berdasarkan uji akurasi confusion matrix yang dilakukan diperoleh nilai kappa accuracy sebesar 88%. Menurut Viera et al. (2005) rentang nilai kappa accuracy 0.81 - 0.99 masuk pada kelas sangat baik, yang artinya metode topographic position index sangat baik memetakan kelas bentuk lahan di Kota Bukittinggi.
Saran yang dapat diberikan pada penelitian ini adalah untuk dapat dilakukan penelitian lebih lanjut menggunakan metode topographic position index dalam memetakan bentuk lahan dengan lebih spesifik lagi contohnya dalam kelas bentuk lahan struktural, fluvial dan seterusnya terlebih pada penelitian ini berdasarkan uji akurasi yang digunakan didapatkan bahwa metode topographic position index tergolong sangat baik dalam memetakan bentuk lahan. Juga dapat digunakan dalam memetakan morfostruktur dan morfogenesis bentuk lahan pada wilayah yang lebih luas lagi.

Information on the distribution of landform classes in an area is important to know, especially to determine the direction of regional development in accordance with the landform itself. Information on the distribution of landform classes in Bukittinggi City is generally not available as a whole, and requires a fairly high time, cost and energy in obtaining it. Therefore, research was conducted in determining the landform class using the topographic position index method using digital elevation model data which is expected to be able to describe landforms without requiring a long time, and high costs in an area. The method used in this research is a survey method with quantitative descriptive analysis. The stages carried out in this study began with data collection in the form of DEM data and administrative data of Bukittinggi City, followed by spatial data analysis, namely focal statistics and minuses, so as to obtain the results of the topographic position index which displays the landform class based on the elevation value of the area used. Determination of the number of landform classes using standard deviation and determination of landform class boundaries by calculating the length of the interval. Followed by the confusion matrix accuracy test to obtain the correct use of the topographic position index method in describing landforms in Bukittinggi City. The results of research using the topographic position index method showed that the landform elements of Bukittinggi City were valley and river class covering an area of 83.12 ha, highland A covering an area of 1,818.70 ha, cliffs covering an area of 118.02 ha, highland B covering an area of 251.04 ha, and slopes covering an area of 146.40 ha. The alluvial landform class is 83.12 ha and the volcanic class is 2,334.15 ha. Based on the confusion matrix accuracy test carried out, a kappa accuracy value of 88% was obtained. According to Viera et al. (2005) the kappa accuracy value range of 0.81 - 0.99 is in the very good class, which means the topographic position index method is very good at mapping landform classes in Bukittinggi City. Suggestions that can be given in this study are to be able to do further research using the topographic position index method in mapping landforms more specifically, for example in structural landform classes, fluvial and so on, especially in this study based on the accuracy test used, it is found that the topographic position index method is very good in mapping landforms. It can also be used in mapping morphostructure and morphogenesis of landforms in a wider area.

Citation



    SERVICES DESK