MULTIPLIKASI TUNAS PISANG BARANGAN MERAH (MUSA ACUMINATA COLLA) DENGAN BEBERAPA KONSENTRASI BAP SECARA IN VITRO | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

MULTIPLIKASI TUNAS PISANG BARANGAN MERAH (MUSA ACUMINATA COLLA) DENGAN BEBERAPA KONSENTRASI BAP SECARA IN VITRO


Pengarang

FADILLA - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Elly Kesumawati - 196603111993032002 - Dosen Pembimbing I
Bakhtiar - 196811011996031003 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

1905101050029

Fakultas & Prodi

Fakultas Pertanian / Agroteknologi (S1) / PDDIKTI : 54211

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Pertanian Agroteknologi., 2023

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Pisang (Musa sp.) banyak dibudidayakan oleh petani dan menjadi produk unggulan tanaman buah di Indonesia. Perbanyakan pisang secara konvensional dilakukan melalui anakan atau belahan bonggol (bit) yang memiliki mata tunas. Perbanyakan secara konvensional ini belum mampu memenuhi permintaan bibit pisang secara luas. Kendala utama dari perbanyakan pisang secara konvensional adalah membutuhkan waktu yang cukup lama, bibit yang dihasilkan tidak seragam dan kesehatan bibit tidak terjamin. Solusi untuk mengatasi kendala perbanyakan pisang adalah melalui teknik kultur in vitro. Teknik kultur in vitro menghasilkan bibit yang seragam secara genetik, bebas dari hama dan penyakit sehingga dapat digunakan sebagai bahan untuk perbanyakan selanjutnya. Bibit pisang yang dihasilkan secara in vitro juga tumbuh lebih cepat dan menghasilkan anakan lebih banyak. Eksplan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bonggol pisang barangan merah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi Benzil Amino Purine (BAP) untuk multiplikasi tunas pisang barangan merah secara in vitro. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, dari bulan Januari sampai dengan April 2023. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola non faktorial. Penelitian ini terdiri dari 2 tahap, yaitu induksi dan multiplikasi. Tahap induksi adalah semua eksplan bonggol pisang barangan merah diinduksi pada media MS+ BAP 3 mgL-1. Tahap kedua adalah multiplikasi tunas pisang barangan merah yang diberi perlakuan. Faktor yang diteliti adalah konsentrasi BAP yang terdiri dari 5 taraf yaitu kontrol, 8,10,12 dan 14 mgL-1, dengan 8 kali ulangan, sehingga terdapat 40 satuan percobaan. Parameter yang diamati persentase hidup, waktu muncul tunas, jumlah tunas, tinggi tunas, waktu muncul daun, jumlah daun, jumlah akar dan waktu terbentuk planlet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase hidup eksplan bonggol barangan merah pada tahap induksi adalah 50 % pada umur 4 Minggu Setelah Induksi (MSI). Persentase hidup eksplan bonggol pisang barangan merah pada tahap multiplikasi adalah 100 % pada umur 1-8 MST. Konsentrasi BAP 8 mgL-1 cenderung lebih baik terhadap waktu muncul tunas yaitu 7,88 HST, tinggi tunas eksplan yaitu sebesar 2,73 cm, jumlah daun eksplan yaitu 2,33 helai, dan waktu terbentuk planlet yaitu 37,33 HST. Konsentrasi BAP 12 mgL-1 cenderung lebih baik terhadap jumlah tunas yaitu sebesar 3,71 tunas. Konsentrasi BAP 14 mgL-1 cenderung lebih baik terhadap waktu muncul daun yaitu 28 HST. Konsentrasi tanpa BAP (kontrol) cenderung lebih baik terhadap jumlah akar eksplan yaitu sebesar 4,67 akar.

Bananas (Musa sp.) are widely cultivated by farmers and are a superior fruit product in Indonesia. Conventional propagation of bananas is done through seedlings or parts of tubers (bits) which have buds. Conventional propagation has not been able to meet the widespread demand for banana seeds. The main obstacle to conventional banana propagation is that it takes quite a long time, the seeds produced are not uniform and the health of the seeds is not guaranteed. The solution to overcome the obstacles to banana propagation is through in vitro culture techniques. In vitro culture techniques produce genetically uniform seeds, free from pests and diseases so that they can be used as material for further propagation. Banana seeds produced in vitro also grow faster and produce more offspring. The explants used in this research were red barangan banana tubers. This study aims to determine the effect of Benzyl Amino Purine (BAP) concentration on the multiplication of red barangan banana shoots in vitro. The research was conducted at the Plant Tissue Culture Laboratory, Faculty of Agriculture, Syiah Kuala University, Banda Aceh, from January to April 2023. This research used a non-factorial Randomized Group Design (RAK). This research consists of 2 stages, namely induction and multiplication. The induction stage was all red barangan banana weevil explants induced in MS+ BAP 3 mgL-1 media. The second stage is the multiplication of treated red barangan banana shoots. The factor studied was the BAP concentration which consisted of 5 levels, namely control, 8, 10, 12 and 14 mgL-1, with 8 repetitions, so there were 40 experimental units. The parameters observed were percentage of life, time of shoot emergence, number of shoots, shoot height, time of leaf emergence, number of leaves, number of roots and time of plantlet formation. The results of the research showed that the percentage of survival of red barangan weevil explants at the induction stage was 50% at the age of 4 weeks after induction (MSI). The survival percentage of red barangan banana weevil explants at the multiplication stage is 100% at the age of 1-8 WAP. The BAP concentration of 8 mgL-1 tends to be better for shoot emergence time, namely 7.88 HST, explant shoot height of 2.73 cm, number of explant leaves, namely 2.33 pieces, and plantlet formation time, namely 37.33 HST. BAP concentration of 12 mgL-1 tends to be better for the number of shoots, namely 3.71 shoots. BAP concentration of 14 mgL-1 tends to be better at leaf emergence time, namely 28 HST. The concentration without BAP (control) tended to be better for the number of explant roots, namely 4.67 roots.

Citation



    SERVICES DESK