PERANCANGAN PUSAT REHABILITASI SOSIAL PENYANDANG DISABILITAS SENSORIK DI PROVINSI ACEH (TEMA: ARSITEKTUR MULTISENSORI) | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

PERANCANGAN PUSAT REHABILITASI SOSIAL PENYANDANG DISABILITAS SENSORIK DI PROVINSI ACEH (TEMA: ARSITEKTUR MULTISENSORI)


Pengarang

RAISYA HAYATUN NISA - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Mirza - 196212161991021001 - Dosen Pembimbing I
Riza Aulia Putra - 199008162019031017 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

1804104010033

Fakultas & Prodi

Fakultas Teknik / Arsitektur (S1) / PDDIKTI : 23201

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Teknik Arsitektur., 2023

Bahasa

Indonesia

No Classification

729

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Pusat Data dan Teknologi Informasi Ketenagakerjaan, Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia menunjukkan pada tahun 2022, sekitar 17.000.000 penyandang disabilitas di Indonesia termasuk ke dalam kategori usia produktif namun yang diterima dan mampu untuk bekerja hanya sekitar 44,71%. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kurangnya angka serapan kerja penyandang disabilitas seperti kurangnya motivasi dalam diri, hambatan dalam kemandirian, keterbatasan keterampilan, eratnya hubungan antara disabilitas dengan kemiskinan, serta eksklusi. Hal ini ditanggapi serius oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia dengan mengeluarkan program ATENSI (Asistensi Rehabilitasi Sosial) yang dasar hukum pelaksanaannya diatur dalam Permensos Nomor 16 Tahun 2020. Program ini bertujuan untuk mengatasi masalah rehabilitasi sosial di lima klaster, dengan penyandang disabilitas sebagai salah satu sasarannya. Untuk menjalankan program tersebut, Kemensos Republik Indonesia membutuhkan sebuah balai sebagai mitra untuk menjalankan kegiatan rehabilitasi yang dapat memfasilitasi kebutuhan penyandang disabilitas dalam proses pemulihan dan pengembangan diri, serta peningkatan keterampilannya. Menurut data penyandang disabilitas di Provinsi Aceh, penduduk dengan disabilitas sensorik menempati urutan kedua terhitung 28% dari keseluruhan populasi penyandang disabilitas (total 7.943 orang). Namun, hanya ada satu mitra program ATENSI yaitu Rumoh Seujahtra Beujroh Meukarya yang dikhususkan untuk disabilitas netra. Dengan adanya kebutuhan akan sebuah balai yang dapat melayani penyandang disabilitas yang lebih luas, maka dirancanglah “Rumoh Seujahtra Meutuah Hate” sebagai mitra. Balai ini dirancang dengan menerapkan sistem Internet of Things dengan teknologi yang memperhatikan kenyamanan aksesibilitas serta kebutuhan para penyandang disabilitas dengan konsep arsitektur multisensori. Balai ini diharapkan dapat menjadi solusi bagi permasalahan rehabilitasi sosial dan meningkatkan kesejahteraan penyandang disabilitas sensorik di Provinsi Aceh.

Kata kunci: Arsitektur Multisensori, Disabilitas Sensorik, Rehabilitasi Sosial, Arsitektur Multisensori, Internet of Things

The Center for Employment Data and Information Technology, Ministry of Manpower of the Republic of Indonesia, estimates that 17,000,000 persons with disabilities in Indonesia will be of productive age in 2022, but only 44.71% will be accepted and able to work. This lack of employment is caused by a lack of self-motivation, barriers to independence, low skills, the closeness between disability and poverty, and isolation. The Republic of Indonesia's Ministry of Social Affairs responded by launching the ATENSI (Assistant for Social Rehabilitation) program, whose legislative foundation is outlined in Social Affairs Regulation Number 16, 2020. The Ministry of Social Affairs of Indonesia requires a center to carry out rehabilitation activities to assist people with disabilities in recovery and self-development. This program aims to solve social rehabilitation problems in five clusters, including those affecting disabled people. According to data on disabled individuals in Aceh Province, residents with sensory impairments rank second, accounting for 28% of the population (a total of 7,943 people). However, there is just one ATENSI program partner for blind people, namely "Rumoh Seujahtra Beujroh Meukarya". "Rumoh Seujahtra Meutuah Hate" was created as a partner in response to the demand for a facility that can assist a broader variety of people with disabilities. This multisensory architecture concept was developed to provide a solution to Aceh Province's social rehabilitation issues and promote the welfare of people with sensory impairments. It combines an Internet of Things system with technology that prioritizes accessibility and the needs of people with disability. Keywords: Social Rehabilitation, Sensory Disabilities, Multisensory Architecture, Internet of Things

Citation



    SERVICES DESK