<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="99512">
 <titleInfo>
  <title>EVALUASI PERUBAHAN SUHU TUBUH SELAMA PERIODE ESTRUS PADA KUDA GAYO YANG DIPELIHARA SECARA KONVENSIONAL DAN NON KONVENSIONAL</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>MAULANA ERSHAAD</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Kedokteran Hewan</publisher>
   <dateIssued>2022</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Estrus adalah kondisi betina menerima kehadiran pejantan dan siap untuk dikawini. Tujuan penelitian adalah mengetahui perubahan suhu selama periode estrus pada kuda gayo yang dipelihara secara konvensional dan non konvensional. Enam ekor kuda gayo betina dibagi dalam 2 kelompok sistem pemeliharaan (n=3). K1 dipelihara secara konvensional dan K2 secara non-konvensional. Semua kuda disinkronisasi estrus dengan teknik two shot synchronization menggunakan PGF2α secara intramuscular dengan interval 10 hari. Deteksi estrus dilakukan sehari setelah injeksi ke 2 PGF2α sampai gejala estrus berakhir. Deteksi estrus dilakukan dengan cara teasing menggunakan pejantan dan berdasarkan sistem scoring 0-4. Skor 0 menunjukkan kuda dalam keadaan tidak estrus. Skor 4 kuda dalam keadaan estrus maksimal. Pengamatan perubahan suhu sebanyak 4 kali sehari dengan interval waktu 2 jam (pukul 09.00–17.00 WIB). Pengamatan meliputi suhu rektum (termometer rektal), suhu tubuh (termometer inframerah/IRT) dan suhu lingkungan (situs BMKG). Data dianalisis menggunakan uji T. Hasil penelitian terdapat perbedaan suhu harian pada setiap individu kuda gayo pasca sinkronisasi estrus baik yang diperiksa menggunakan IRT maupun termometer rektal. Tidak ada perbedaan yang nyata terhadap nilai suhu tubuh dan suhu rektum pasca sinkronisasi estrus pada K1 dan K2 (P&gt;0,05). Suhu lingkungan juga tidak berpengaruh terhadap perubahan suhu kuda gayo pasca sinkronisasi estrus. Kesimpulannya adalah respon individu kuda berpengaruh terhadap perubahan nilai suhu pasca sinkronisasi estrus, sementara sistem pemeliharan tidak berpengaruh terhadap perubahan suhu tubuh dan suhu rektum pasca sinkronisasi estrus pada kuda gayo baik dipelihara secara konvensional dan non konvensional.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>99512</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2022-03-30 15:22:31</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2022-03-30 15:30:23</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>