<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="99085">
 <titleInfo>
  <title>PENGARUH EKSTRAK N-HEKSANA DAN METANOL DAUN BIDURI (CALOTROPIS GIGANTEA) SEDIAAN OBAT KUMUR DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI PORPHYROMONAS GINGIVALIS</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Jovany Nanda Chairulia</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Kedokteran Gigi</publisher>
   <dateIssued>2022</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Pelarut metanol dan n-heksana memiliki senyawa antibakteri yang berbeda. Metanol bersifat polar sehingga menghasilkan metabolit sekunder lebih banyak dalam menghambat biofilm dibandingkan n-heksana yang bersifat non-polar. Biofilm dapat dihilangkan oleh obat kumur. Penggunaan obat kumur berbasis herbal seperti pada daun biduri (Calotropis gigantea) lebih disukai dikarenakan efek samping yang minimum. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh sediaan obat kumur ekstrak n-heksana dan metanol daun C. gigantea dalam menghambat pertumbuhan biofilm bakteri P. gingivalis. Penelitian ini menggunakan 5 formulasi dengan konsentrasi yang berbeda baik dari n-heksana dan metanol, yaitu F0 (tanpa ekstrak), F1 (0,1 gr), F2 (0,2 gr), F3 (0,3 gr) dan F4 (0,4 gr). Sampel diuji menggunakan metode microtiter plate biofilm assay dengan waktu inkubasi 24, 48 dan 72 jam. Hasil menunjukkan seluruh formulasi obat kumur ekstrak daun C. gigantea memiliki aktivitas penghambatan terhadap biofilm P. gingivalis. Analisis Kruskal Wallis dan Mann whitney menunjukkan perbedaan signifikan pada pertumbuhan biofilm berdasarkan waktu inkubasi, dan tidak ada perbedaan signifikan antar formulasi. Pertumbuhan biofilm tertinggi terjadi pada 48 jam, 0,723 (metanol) dan 0,763 (n-heksana) dengan kategori pembentukan strong biofilm producer. Sedangkan berdasarkan formulasi, biofilm F2 menunjukkan pertumbuhan biofilm tertinggi dengan nilai 0,723 (metanol) dan 0,763 (n-heksana). Hasil menunjukkan nilai yang berlawanan dengan kemampuan hambat biofilm dari formulasi ekstrak C. gigantea, dimana waktu hambat terbaik terjadi pada waktu 72 jam 48,32% dan 42,66%. Sedangkan formulasi paling baik pada F4 dengan 48,32% dan 42,66%. Kesimpulan: Formulasi ekstrak metanol daun C. gigantea memiliki daya hambat lebih baik dibandingkan formulasi ekstrak n-heksana daun C. gigantea.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>99085</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2022-03-24 12:06:24</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2022-03-24 12:08:40</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>