<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="98903">
 <titleInfo>
  <title>GENETIKA POPULASI IKAN KERAPU LUMPUR EPINEPHELUS COIOIDES DI PERAIRAN ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>NANDA ULFA KHAIRA</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan</publisher>
   <dateIssued>2022</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Perairan Aceh dikelilingi oleh tiga perairan besar yaitu Laut Andaman, Samudera Hindia dan Selat Malaka. Perbedaan pola arus memperluas rentang sebaran dan ditambah dengan perbedaan letak geografis dari ketiga lokasi ini menyebabkan semakin bervariasinya suatu spesies. Kerapu merupakan ikan yang berekonomis tinggi di seluruh dunia. Salah satu spesies ikan kerapu yang banyak ditemukan di Indonesia adalah Epinephelus coiodes. Meningkatnya permintaaan ikan kerapu di pasaran menyebabkan ikan tersebut rentan akan kepunahan jika tidak dikelola dengan baik, maka dibutuhkan data ilmiah molekuler untuk pengelolaan perikanan. Namun penelitian molekuler masih sangat terbatas di Aceh. Tujuan dalam penelitian ini adalah melihat pola genetika populasi Epinephelus coioides dari perairan Aceh menggunakan gen COI mitokondria sebagai penanda. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni sampai Desember 2021 dan pengambilan sampel di ambil dari tiga populasi yaitu dari populasi Langsa, Banda Aceh dan Tapak Tuan. Metode ekstraksi dilakukan dengan protokol C-TAB yang telah dimodifikasi. Pada penelitian ini sekuens yang dihasilkan sebanyak 35 sekuens. Pada pohon filogenetik populasi Langsa dan Banda Aceh, tergabung dalam satu clade yang sama karena adanya persebaran larva dan perkawinan spesies yang sama pada populasi tersebut, hal ini juga dapat dibuktikan dengan adanya haplotipe yang sama pada populasi tersebut. Nilai keragaman haplotipe (Hd) tertinggi pada populasi Langsa 0,237. Nilai jarak genetik antar populasi sebesar 0,000-0,001 dan dalam populasi sebesar 0,33-0,61. Nilai jarak uji berpasangan (Fst) yaitu sebesar 0,27 yang menunjukkan ketiga populasi ini masih berkerabat dekat. Terdapat 15 haplotipe dari tiga populasi ini namun pada populasi Langsa dan Banda Aceh terdapat haplotipe yang sama. Adanya kesamaan haplotipe ini disebabkan adanya pencampuran larva dan persebaran larva pada populasi Langsa dan Banda Aceh yang terbawa oleh arus perairan. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka akan menjadi salah satu dasar pengelolaan berbasis spesies untuk Epinephelus coioides di perairan Aceh. &#13;
&#13;
&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>98903</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2022-03-22 13:55:25</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2022-03-22 14:32:43</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>