<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="96822">
 <titleInfo>
  <title>RITUAL KEAGAMAAN DAN RELIGIUSITAS PADA ANGGOTA LDK FOSMA DALAM PERSPEKTIF INTERAKSIONISME SIMBOLIK HERBERT BLUMER</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>SITI HUMAIRA</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Ilmu Sosial dan Politik</publisher>
   <dateIssued>2021</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>ABSTRAK &#13;
LDK merupakan lembaga pembinaan mahasiswa dalam membentuk karakter religiusitas melalui pemenuhan ritualitas sehingga religius dan ritual dimakna seara individu berbeda-beda sesuai dengan interaksi sosial individu secara subjektif. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk melihat interaksi, ritual, makna dan simbol religiusitas dan ritualitas. Teori yang digunakan ialah teori interaksi simbolik Herbert Blummer. Metode penelitian yang digunakan ialah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Hasil penelitian yang ditemukan menyangkut makna (meaning) ritualitas dan religiusitas ditentukan atas intensitas (kebiasaan) tindakan sehari - hari. Pada shalat sunnah dhuha dan rawatib, ritualitas dimaknai sebagai ibadah dalam aktivitas sehari – hari. Pada shalat sunnah dhuha saja, dimaknai sebagai keberkahan aktivitas di pagi hari. Pada shalat sunnah dhuha, rawatib dan tahajud, ritualitas dimaknai sebagai pemenuhan ibadah dalam hidup. Terkait pakaian syar’i ditemukan bahwa pakaian syar’i memiliki makna sebagai pakaian sehari – hari, membuat percaya diri serta membuat diri lebih aman. Selain itu menyangkut persoalan pembentukan simbol melalui bahasa (language) sangat ditentukan dari lingkungan interaksi pada lembaga melalui kajian islam, diskusi, dan likok. Simbol ini kemudian dimodifikasi kembali dalam aspek berpikir (thought) sehingga ritualitas shalat sunnah memiliki makna baru seiring dengan tindakan interaksi pada aspek language yaitu sebagai memperkuat hubungan sosial pada shalat sunnah tahajud, adanya rasa takut akan batal nya shalat wajib pada shalat sunnah rawatib, serta untuk kejernihan pikiran pada shalat sunnah dhuha. Kemudian terkait pakaian syar’i dalam konsep thought yaitu pakaian yang sudah di atur dan wajib bagi setiap muslimah.&#13;
Kata Kunci : Simbolik, Meaning, Language, Thought, Ritualitas, Religiusitas&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>RELIGIOUS ORGANIZATIONS - SOCIOLOGY</topic>
 </subject>
 <classification>306.6</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>96822</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2021-12-31 15:01:07</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2022-01-03 10:49:23</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>