<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="96806">
 <titleInfo>
  <title></title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>CUT ADERIZA ANGGINA</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Kedokteran Hewan</publisher>
   <dateIssued>2021</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Ascaridiasis merupakan penyakit parasit yang banyak dijumpai pada spesies unggas, salah satu parasit yang menyebabkan ascaridiasis adalah cacing Ascaridia galli. Penyakit ini biasanya  bersifat  kronis  dan  akut  yang  dapat menyebabkan kerugian yang signifikan bagi para peternak seperti terhambatnya perkembangan tubuh serta dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada ayam dan manusia yang mengkonsumsi daging atau karkas yang dihasilkan bahkan dapat menyebabkan kematian. Diagnosis umumnya ditegakkan dengan pemeriksaan adanya telur cacing dalam feses, namun metode konvensional tersebut memiliki banyak  sekali  kekurangan. Diagnosa dini (deteksi  awal) tidak dapat dilakukan dengan metode konvensional karena cacing dalam tubuh inang mulai  bertelur pada umur 8-12 minggu masa patensi. Saat ini metode deteksi berdasarkan prinsip reaksi antibodi-antigen menggunakan cairan yang diekskresikan/disekresikan cacing A. galli dewasa, diyakini dapat  digunakan untuk deteksi dini Ascaridiasis. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar protein cairan Ekskretori-Sekretori (ES) cacing A.galli yang dapat digunakan sebagai kandidat vaksin atau pengembangan diagnostik untuk deteksi awal Ascaridiasis. Penelitian dilakukan pada Laboratorium Riset Terpadu, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Syiah Kuala. Cairan ES yang berasal dari cacing A.galli dewasa diinkubasikan selama 24 jam, 48 jam dan 72 jam, kemudian disentrifugasi. Supernatan dianalisis dengan pengukuran konsentrasi protein menggunakan metode Bradford dan analisis berat molekul dengan teknik Sodium Dodecyl Sulfate Polycrylamide Gel Electrophoresis (SDS-PAGE). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa cacing A. galli memiliki kandung protein 115.036 mg/ml pada 24 jam; 97.664 mg/ml pada 48 jam; dan 23.577 mg/ml pada 72 jam serta memiliki berat molekul 35 kDa pada 24 jam, 36 kDa pada 48 jam dan 36 kDa pada 72 jam. Dapat disimpulkan bahwa masa inkubasi 24 jam menghasilkan kandungan protein tertinggi dibandingkan dengan 48 dan 72 jam. &#13;
Kata kunci : Ascaridia galli, Protein dan SDS-PAGE</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>PARASITIC DISEASES - ANIMALS - VETERINARY MEDICINE</topic>
 </subject>
 <classification>636.089 696</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>96806</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2021-12-31 12:13:47</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2022-01-03 15:17:06</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>