<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="96496">
 <titleInfo>
  <title>PROFIL KUALITAS AIR TANAH DANGKAL KOTA BANDA ACEH 16 TAHUN PASCA TSUNAMI 2004</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Syahril Siddiq</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pasca Sarjana</publisher>
   <dateIssued>2021</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Theses</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Pencemaran air tanah menjadi masalah serius bagi masyarakat, karena secara langsung ataupun tidak langsung akan mempengaruhi kualitas kesehatan masyarakat pengguna air. Seiring dengan pembangunan pasca bencana tsunami 2004 jumlah penduduk Kota Banda Aceh meningkat drastis, hal ini berpengaruh terhadap jumlah kebutuhan air bersih di Kota Banda Aceh. Perjalanan waktu dari tahun 2004 sampai saat ini, telah terjadi berbagai perubahan di wilayah Kota Banda Aceh. Fosfat, sulfida, fenol dan amonia merupakan senyawa kimia yang penting keberadaannya di air. Senyawa-senyawa tersebut sangat berbahaya jika berada di atas ambang baku mutu yang ditetapkan. Penelitian ini dilakukan pada 4 kecamatan dan masing-masing 3 titik sampel. Sampel yang diambil diuji secara langsung di lapangan dan diuji di laboratorium untuk kandungan senyawa kimia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kandungan Fosfat dan Fenol di 4 Kecamatan Kota Banda Aceh masih berada di atas ambang batas standar baku mutu pemerintah yang di tetapkan. Sedangkan kandungan Sulfida berkisar 0,001 – 0,028 mg/L, sebagian besar masih berada dibawah ambang batas standar baku mutu pemerintah yang di tetapkan (0,002 mg/L) hanya ada satu titik saja yang tinggi. Kandungan Amonia berkisar 0,001 – 2,91 mg/L semuanya sudah dalam kadar aman kecuali pada titik Kuta Alam 1. Kadar yang tinggi pada 4 senyawa kimia tersebut dapat berbahaya jika terakumulasi ke dalam tubuh manusia. Salah satu penyebab konsumsi fosfat berlebihan dapat menyebabkan penyakit hiperfosfatemia pada tubuh manusia. Kadar senyawa kimia ini sangat dipengaruhi oleh Jarak dari laut dan juga kepadatan penduduk yang mana tingginya kandungan senyawa kimia tersebut sebagian besar berasal dari limbah domestik manusia.&#13;
&#13;
Kata kunci : air tanah dangkal, kandungan kimia air, Kota Banda Aceh, jarak dari laut, kepadatan penduduk.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>WATER POLLUTION - SANITARY ENGINEERING</topic>
 </subject>
 <classification>628.168</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>96496</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2021-12-24 16:22:03</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2022-05-13 10:09:50</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>