VARIASI PUKULAN DIDONG PADA GROUP ALIRAN MASA DI KABUPATEN BENER MERIAH | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

VARIASI PUKULAN DIDONG PADA GROUP ALIRAN MASA DI KABUPATEN BENER MERIAH


Pengarang

SULTAN SYAHRIL - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Ramdiana - 197609162006042001 - Dosen Pembimbing I



Nomor Pokok Mahasiswa

1706102030030

Fakultas & Prodi

Fakultas KIP / Pendidikan Seni Drama, Tari dan Musik (S1) / PDDIKTI : 88209

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas KIP., 2021

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

ABSTRAK

Kata kunci :Variasi, Pukulan, Didong.
Penelitian ini berjudul “Variasi Pukulan Didong Pada Grup Aliran Masa” Didong merupakan alat tubuh tradisional dengan carapukul yang berasal dari dataran tinggi Gayo, Aceh bagian Bener Meriah. Sedangkan variasi merupakan keunikan dan keistimewaan tersendiri yang berasal dari individualitas masing-masing. Mengangkat masalah variasi pukulan didong tradisional Didong Gayo yang ada di bagian Delung. Yakni dengan mendeskripsikan variasi pukulan yang dihasilkan Didong serta memperkenalkan jenis dan bentuk variasi pukulan Didong Gayo. Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah observasi, wawancara, dokumentasi. Subjek dalam penelitian ini adalah Didong Gayo, sedangkan objek dalam penelitian ini adalah variasi Didong Gayo khususnya daerah Delung. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Bener Meriah, di desa Delung. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Didong gayo merupakan alat musik tubuh yang dimainkan dengan cara dipukul. Pada umumnya Didong gayo saat ini sudah mengeikuti perkebangan zamanya yaitu variasi pukulan yang sudah bervariasi. Variasi yang dihasilkan dari daerah Delung. Variasi irama didong gayo bagian Delung sering disebut dengan kata Tepok Runcang yang berarti gembira karena karakter irama ini berasal dari suara gemuru tepukan yang tinggi. Sedangkan yang membedakan variasi pukulannya yaitu yang pertama tingkah 1,2, dan 6. Yaitu tingkah yang di lakukan pada saat sehabis Sarik yang polanya pada saat tingkah 1, pukulan di tegaskan sekali. Pada saat tingkah 2, pukulan di tegaskan dua kali. Sedangkan yang terakhir tingkah 6, pukulan ditegaskan 6 kali secara keseluruhan. Yang kedua yaitu tingkah guel, tingkah yang terinspirasi dari music tari guel yang ada pada daerah dataran tinggi tanoh gayo. Sedangkan yang terakhir tingkah canang, merupakan tingkah yang terinspirasi dari suara canang yang sering dilakukan pada saat acara menikah(mungerje).

ABSTRACT Keywords: Variation, Punch, Didong. This research is entitled "Didong Punch Variations in the Mass Stream Group" Didong is a traditional body tool with a beating method originating from the Gayo highlands, Aceh part of Bener Meriah. While the variation is the uniqueness and special features that come from the individuality of each. Raising the problem of variations in the traditional Didong Gayo didong stroke in the Delung section. Namely, by describing the variations of punches produced by Didong and introducing the types and forms of variations in the Didong Gayo punches. The approach in this study uses a qualitative approach and the type of descriptive research. The data collection techniques used were observation, interviews, and documentation. The subject in this study is Didong Gayo, while the object in this study is the Didong Gayo variation, especially the Delung area. This research was conducted in Bener Meriah Regency, in the village of Delung. Based on the results of the study, it can be concluded that Didong gayo is a body musical instrument that is played by hitting it. In general, the current Didong Gayo has followed the development of his era, namely the variations of punches that have varied. Variations resulting from the Delung area. The variation of the didong gayo rhythm in the Delung section is often referred to as the word Tepok Runcang which means happy because the character of this rhythm comes from the roar of high clapping sounds. Meanwhile, what distinguishes the variations of the strokes are the first actions 1,2, and 6. That is the behavior that is carried out after Sarik whose pattern is at the time of action 1, the stroke is emphasized once. At act 2, the hit is confirmed twice. While the last one was 6, the stroke was confirmed 6 times in total. The second is guel behavior, which is inspired by the guel dance music that exists in the highland area of tanoh gayo. While the last canang behavior, is a behavior that is inspired by the sound of canang which is often done at the time of marriage (mungerje).

Citation



    SERVICES DESK