<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="91584">
 <titleInfo>
  <title>KAJIAN PROBABILITAS BAHAYA GEMPA BUMI BERDASARKAN SEISMISITAS DAN KECEPATAN GELOMBANG GESER LOKAL DI LHOKSEUMAWE</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Vrieslend Haris Banyunegoro</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2021</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Null</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Penelitian ini mengkaji probabilitas bahaya gempa bumi (PSHA) secara komprehensif di kota Lhokseumawe. Sebanyak 37.124 gempa bumi yang telah terelokasi dengan metode Double-Difference dan model kecepatan gelombang geser lokal di Lhokseumawe digunakan sebagai masukan utama dalam kajian ini.  Model kecepatan gelombang geser lokal dihitung menggunakan metode Spatial Auto Correlation (SPAC) memanfaatkan 31 titik pengukuran microtremor array di Lhokseumawe. Berdasarkan model kecepatan gelombang geser lokal, Kota Lhokseumawe didominasi oleh kelas batuan SD dan SE. Kajian probabilitas bahaya gempa bumi menggambarkan bahwa Kota Lhokseumawe mengalami percepatan tanah puncak sebesar 0.29 g dengan peluang terlampaui 2% dalam 50 tahun. Percepatan spektral maksimum dengan periode 0.2 detik di Lhokseumawe yaitu sebesar 0.74 g, sedangkan untuk periode 1 detik yakni sebesar 0.34 g. Berdasarkan percepatan spektral, pemodelan desain respon spektra menunjukkan bahwa kelas batuan SE memiliki respons percepatan maksimum sebesar 0.4384 g pada rentang periode 0.1407-0.7035 detik. Kelas batuan SD memiliki respons percepatan maksimum sebesar 0.3776 pada rentang periode 0.0968-0.4841 detik. Untuk kelas batuan SC, respons percepatan maksimumnya sebesar 0.3505 dengan rentang periode antara 0.0652 hingga 0.3259 detik. Model desain respon spektra memberikan gambaran bahwa kelas batuan SE berpeluang memberikan respons percepatan 1.25 kali lebih besar dengan rentang periode 2.15 kali lebih panjang daripada kelas batuan SC. Hal ini mengimplikasikan pentingnya detailing dalam analisis bahaya gempa bumi dan pemeriksaan kondisi lokal pada saat merencanakan fasilitas publik dan perumahan.</note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>91584</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2021-07-07 12:54:03</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2021-07-08 14:18:53</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>