<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="91215">
 <titleInfo>
  <title>STUDI KASUS PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR :</title>
  <subTitle>2275K/PDT 2016 TENTANG WANPRESTASI DALAM KONTRAK PENANGGUNGAN UTANG</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>DEVI SILVIA</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2021</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Null</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Pasal 1823 KUHPdt menyebutkan bahwa dalam pembuatan perjanjian pihak&#13;
tertanggung boleh untuk mengetahui atau tidak mengetahui perjanjian antara pihak kreditur&#13;
dan penanggung. Namun, dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 2275K/PDT/2016&#13;
majelis hakim menyatakan bahwa gugatan yang diajukan oleh pihak kreditur/penggugat tidak&#13;
dapat diterima sebab tidak turut menggugat pihak debitur/tertanggung karena menurut majelis&#13;
hakim pihak debitur berhak mengetahui hal-hal yang terjadi antara kreditur dan penanggung.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pertimbangan hakim dalam Putusan&#13;
Nomor 2275K/PDT/2016, untuk menjelaskan kesesuaian pertimbangan putusan tersebut&#13;
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan untuk mengetahui wujud nilai&#13;
keadilan dan nilai kepastian hukum dalam putusan tersebut.&#13;
Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan pendekatan Studi Kasus.&#13;
Data diperoleh melalui analisis peraturan perundang-undangan, buku, jurnal, dan bahan&#13;
hukum lainnya terhadap Putusan Mahkamah Agung Nomor 2275K/PDT/2016.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Majelis Hakim dalam putusannya melakukan&#13;
kekeliruan dan kekhilafan karena tidak memperhatikan peraturan yang mengatur mengenai&#13;
perjanjian penanggungan utang. Putusan ini juga tidak mengandung nilai keadilan jika dilihat&#13;
dari indikator keadilan yang dikemukakan oleh M. Syamsudi dan Salman Luthfan, serta&#13;
indikator keadilan distributif oleh Aristoteles dan tidak mengandung nilai kepastian hukum&#13;
menurut Indikator kepastian hukum oleh Sudikno Mertokusumo. Namun, putusan ini&#13;
memenuhi unsur keadilan komutatif yang dikemukakan oleh Aristoteles dan putusan ini telah&#13;
memenuhi asas peradilan cepat sehingga memenuhi unsur kepastian hukum yang&#13;
sebagaimana yang dikemukakan oleh Erwin Muhammad.&#13;
Disarankan kepada pemerintahan untuk membuat peraturan baru mengenai jaminan&#13;
peorangan atau perjanjian penanggungan utang dan bagi para pihak yang ingin membuat&#13;
perjanjian penanggungan utang menyebutkan dalam isi perjanjian akan menggunakan pasal&#13;
1831 atau pasal 1832 KUHPdt agar memudahkan majelis hakim dalam membuat&#13;
pertimbangan dan memutuskan perkara tersebut jika terjadi perkara dikemudian hari.</note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>91215</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2021-06-29 17:29:30</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2021-06-30 11:13:19</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>