<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="90437">
 <titleInfo>
  <title>EFEK PERLAKUAN PRE DAN POST SHORT-TERM COOLING TERHADAP SUHU TUBUH DAN KONSENTRASI METABOLIT TESTOSTERON PADA SAPI ACEH DAN SAPI PERANAKAN ONGOLE JANTAN.</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>BAYU PRATAMA</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2021</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Null</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>ABSTRAK&#13;
Metode short-term cooling adalah bentuk modifikasi lingkungan, seperti menyemprotkan air ke tubuh ternak untuk menurunkan suhu tubuh dan meningkatkan konsentrasi hormon testosteron. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh perlakuan short-term cooling terhadap penurunan suhu tubuh dan konsentrasi metabolit hormon testosteron pada sapi aceh dan peranakan ongole (PO). Penelitian ini menggunakan sapi aceh dan PO jantan berumur 4-5 tahun masing-masing sebanyak empat ekor. Sampel yang digunakan berupa feses segar yang dikoleksi sebanyak tiga kali, yaitu pada pre short-term cooling, post short-term cooling 3, dan post short-term cooling 6. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial berulang 3x2 (two ways repeated measures). Faktor I adalah perlakuan frekuensi short-term cooling (b0 = 0 kali; b3=3 kali, dan b6= 6 kali) sedangkan faktor II adalah jenis sapi (a1=sapi aceh, a2=sapi PO). Setiap perlakuan terdiri dari empat ulangan. Suhu tubuh sapi, suhu lingkungan, dan kelembapan diukur sebanyak tiga kali (pagi, siang dan sore hari). Pengukuran konsentrasi metabolit hormon testosteron dilakukan dengan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji sidik ragam (a two-way repeated measures ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan short-term cooling berpengaruh secara signifikan (p</note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>90437</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2021-05-07 14:36:04</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2021-05-10 11:07:48</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>